- Ketua GIPI Bambang Mintosih menyatakan PLTP Gunung Ungaran dan pariwisata Bandungan bisa berjalan berdampingan pada Jumat, 16 Agustus 2026.
- Upaya tersebut memerlukan dialog terbuka antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan guna mendukung perekonomian daerah.
- Kawasan Bandungan perlu memperkuat daya saing melalui diversifikasi atraksi seperti wisata olahraga, kuliner kopi lokal, dan wisata kesehatan.
Suara.com - Pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Gunung Ungaran dan sektor pariwisata di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dinilai dapat berjalan berdampingan. Namun, upaya tersebut membutuhkan dialog dan perencanaan yang mempertimbangkan kepentingan energi, pelestarian lingkungan, serta pertumbuhan ekonomi daerah.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Bambang Mintosih, mengatakan pengembangan panas bumi perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan daerah yang lebih luas agar tidak mengabaikan keberlanjutan destinasi wisata dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Pengembangan panas bumi dan pariwisata perlu ditempatkan dalam perspektif pembangunan daerah yang lebih luas. Kehadiran sumber energi bersih dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan, sementara sektor pariwisata terus mengembangkan daya tarik dan aktivitas ekonomi yang sesuai dengan karakteristik daerah. Kuncinya adalah membuka ruang dialog dan urun rembug bersama seluruh pemangku kepentingan," ujarnya seperti dikutip, Jumat (16/8/2026).
Menurut Bambang, pengembangan sektor pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Kawasan Bandungan dan sekitarnya juga perlu mengembangkan beragam atraksi serta memperkuat kreativitas masyarakat dan ekosistem usaha lokal.
Karena itu, rencana pengembangan panas bumi perlu dikomunikasikan secara terbuka agar kepentingan berbagai pihak dapat dipertimbangkan. Hal ini termasuk keberlanjutan destinasi wisata dan peluang ekonomi bagi pelaku usaha di kawasan tersebut.

Bambang menilai dialog perlu melibatkan seluruh unsur ekosistem pariwisata, mulai dari pengelola destinasi, pelaku perhotelan, pusat oleh-oleh, biro perjalanan, komunitas, masyarakat, hingga pemerintah.
"Seluruh unsur ekosistem pariwisata perlu dilibatkan, mulai dari pengelola destinasi, pelaku perhotelan, pusat oleh-oleh, biro perjalanan, komunitas, masyarakat, hingga pemerintah. Dialog ini penting untuk mengidentifikasi peluang, mengantisipasi tantangan, dan memastikan setiap upaya pembangunan memberikan nilai tambah bagi daerah," bebernya.
Selain dialog antarpemangku kepentingan, Bambang menilai diversifikasi atraksi dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat daya saing pariwisata Bandungan. Pengembangan pengalaman wisata yang beragam dinilai dapat membuka peluang aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah sport tourism, seiring meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan olahraga, termasuk ajang lari yang berpotensi mendatangkan wisatawan dan menggerakkan usaha di sekitarnya.
Selain itu, potensi kopi lokal yang dikembangkan anak-anak muda dan pelaku kreatif dapat diperkuat melalui wisata kuliner dan wellness tourism. Pengembangan berbagai pengalaman tersebut dapat memperluas pilihan wisatawan sekaligus memperkuat daya tarik Kabupaten Semarang.
"Karakter pariwisata akan selalu merepresentasikan keunikan daerahnya. Karena itu, penting untuk terus berinovasi dan menciptakan pengalaman baru tanpa mengabaikan kelestarian alam. Pengembangan energi dan pariwisata perlu dibicarakan secara konstruktif agar keduanya dapat ditempatkan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan," katanya.
Bambang juga membuka peluang pengembangan wisata edukasi yang berkaitan dengan energi dan lingkungan. Namun, gagasan tersebut perlu dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan kelayakan teknis, aspek keselamatan, serta ketentuan yang berlaku.
"Pada akhirnya, yang perlu dibangun adalah kesamaan visi bahwa kemajuan daerah harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan komunikasi yang terbuka, perencanaan yang matang, dan sinergi seluruh pihak, pengembangan energi panas bumi dan pariwisata dapat dibahas secara proporsional untuk mendukung keberlanjutan lingkungan serta memperkuat perekonomian lokal," pungkasnya.