- Indeks Harga Saham Gabungan merosot drastis sebesar 4,68 persen ke level 4.942 pada perdagangan Senin pagi, 19 Oktober 2026.
- Penurunan tajam tersebut dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International.
- Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat pasar menghadapi volatilitas tinggi dan potensi arus modal keluar akibat sentimen negatif tersebut.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih anjlok pada awal perdagangan, Senin, 19 Oktober 2026. IHSG dibuka turun drastis ke level 4.961.
Berdasarkan data Stockbit, hingga pukul 07.00 WIB, IHSG masih merosot tajam 4,68 persen ke level 4.942.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 3,83 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp4,01 triliun serta frekuensi sebesar 222.060 kali.
Di waktu itu, terdapat 51 saham menghijau, sedangkan, 742 saham merosot. Sisanya, 170 saham masih belum bergerak alias stagnan.
![Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/16/29289-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-saham-bursa-efek.jpg)
Berikut daftar saham Top Gainers dan Loser di waktu tersebut
Top Gainers
- TMPO
- TRUK
- BSWD
- PTSP
- JECC
Top Loser
- BTEK
- TAXI
- IDEA
- PACK
- GRPM
Proyeksi IHSG
IHSG berpotensi melanjutkan tekanan pada perdagangan hari ini, setelah anjlok tajam pada akhir pekan lalu. Kekhawatiran investor terhadap perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi sentimen utama yang membayangi pergerakan indeks.
Dalam riset BRI Danareksa Sekuritas, IHSG diperkirakan masih menghadapi volatilitas tinggi seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi arus modal keluar atau capital outflow.
Untuk perdagangan hari ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada perkembangan respons Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat transparansi, integritas, serta kredibilitas pasar modal Indonesia.
Selama belum terdapat kejelasan yang mampu meredakan kekhawatiran investor, tekanan terhadap IHSG dan nilai tukar rupiah masih perlu diwaspadai.
Dari sisi teknikal, IHSG mengalami penurunan tajam setelah menembus pola Head and Shoulders. Indeks sebelumnya gagal bertahan di atas area neckline psikologis 6.000.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga menunjukkan momentum bearish yang menguat. Kondisi tersebut tercermin dari garis MACD yang berada di bawah garis sinyal (signal line), disertai histogram negatif yang semakin melebar.
Berdasarkan analisis teknikal dalam riset tersebut, level 5.100 menjadi area support psikologis terdekat yang perlu dicermati investor pada perdagangan Senin.
Apabila tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus level tersebut, indeks berpotensi menguji support berikutnya di 4.954, yang merupakan area Fibonacci.
Sementara itu, level 5.200 menjadi area resistance awal yang perlu ditembus untuk meredakan tekanan jual.
Selama IHSG belum mampu kembali ke atas level tersebut, risiko pelemahan lanjutan masih dominan.
Dengan kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian terkait MSCI, investor perlu mencermati perkembangan sentimen pasar serta pergerakan IHSG di area support dan resistance tersebut.
Di tengah volatilitas pasar, riset BRI Danareksa Sekuritas, turut memasukkan tiga saham pilihan yang dapat dicermati investor, yakni PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).