- Pemerintah mendorong hilirisasi industri agro untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.
- CEO CIPS Anton Sulaiman menyatakan tantangan utama hilirisasi adalah ketersediaan bahan baku serta penguatan sektor hulu yang belum optimal.
- Ekspor kopi, teh, dan rempah nasional meningkat 54,44 persen, sementara sektor pertanian kumulatif mengalami penurunan sebesar 26,27 persen.
Suara.com - Pemerintah terus mendorong hilirisasi industri agro untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri dan memperkuat kinerja ekspor. Namun, upaya tersebut masih menghadapi tantangan berupa ketersediaan bahan baku dan bahan penolong yang dibutuhkan industri pengolahan.
CEO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Anton Sulaiman, mengatakan pengembangan industri agro perlu diiringi penguatan sektor hulu agar industri pengolahan dapat berjalan secara berkelanjutan. Menurutnya, persoalan pasokan bahan baku menjadi salah satu hal yang harus diselesaikan sebelum pemerintah mendorong hilirisasi secara lebih luas.
"Sehingga ini harus jadi perhatian, karena kalau hulunya ini tidak bisa diselesaikan, maka keberhasilan pengembangannya akan sulit," ujarnya di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Anton menegaskan, penguatan hilirisasi industri agro tidak hanya berkaitan dengan peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi juga sejalan dengan program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, ketersediaan bahan baku dan dukungan dari dalam negeri perlu menjadi perhatian agar pengembangan industri pengolahan dapat memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian.
"Jadi satu hal yang juga penting kita pikirkan terus, tentu dilakukan dari segi bagaimana supaya agar tetap menjaga industri yang utuh. Kontribusinya nanti kita akan bisa lihat bagaimana itu sudah tercapai," bebernya.
Tantangan serupa juga dirasakan pelaku industri kopi yang mengembangkan produk olahan untuk pasar ekspor. Ketua Departemen Specialty dan Industri Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo, menjelaskan, industri masih menghadapi tantangan dalam memenuhi formulasi atau pencampuran produk olahan yang dibutuhkan untuk ekspor.
Menurutnya, proses produksi tertentu membutuhkan bahan baku spesifik, termasuk kopi dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pencampuran produk.
"Campuran ini kan juga dibutuhkan kadang-kadang ada kopi yang dari impor dari luar negeri. Nah, ini yang kita sebagai industri itu ngalamin kesulitan," kata Moelyono.
Selain persoalan bahan pembaur untuk menghasilkan produk ekspor bernilai tambah, Moelyono menilai peningkatan produktivitas perkebunan lokal juga menjadi hal penting.
Dia mencontohkan produktivitas kopi robusta yang saat ini berkisar 1 ton hingga 1,2 ton per hektare masih berpotensi ditingkatkan menjadi 2 ton per hektare. Peningkatan produktivitas tersebut dinilai dapat memperbesar hasil produksi sekaligus meningkatkan potensi devisa dari industri kopi nasional.
"Jadi sekarang kita konsentrasi bagaimana meningkatkan produktivitas dari kebun-kebun yang sudah ada. Itu saja, simpel. Pasti nilainya akan meningkat sangat besar," pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Yulia Astuti mengatakan hilirisasi industri agro dapat menjadi salah satu strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen pada 2028.
Sebagai negara agraris, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengolahan komoditas pertanian dan perkebunan menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. "Peluang investasi hilirisasi untuk pertumbuhan ekonomi itu tentunya akan mendorong terjadinya transformasi ekonomi kita," ujarnya.
Yulia menambahkan, investasi dan kemudahan fasilitas penanaman modal menjadi faktor penting untuk mendorong hilirisasi agro yang berkelanjutan. "Pemerintah sudah banyak berusaha untuk memberikan fasilitas tersebut, namun kami pun tetap membuka apabila ada ruang-ruang perbaikan atau ada hal-hal yang perlu kita tambahkan," jelasnya.
Data Kementerian Perdagangan dalam bahan yang disampaikan mencatat nilai ekspor nasional mencapai 25,30 miliar dolar AS pada April 2026. Angka tersebut tumbuh 12,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.