- British Petroleum dan Inpex Corporation menginvestasikan 42,7 juta dolar AS untuk eksplorasi migas di perairan Bali.
- Menteri ESDM menetapkan pembagian hak partisipasi masing-masing 50 persen untuk kedua perusahaan pada 7 September 2026.
- Kedua perusahaan berencana melaksanakan survei seismik 2D dan 3D untuk memetakan struktur geologi bawah permukaan.
Suara.com - Dua perusahaan energi global, British Petroleum (BP) dan Inpex Corporation, mengucurkan investasi senilai 42,7 juta dolar AS untuk mengeksplorasi potensi minyak dan gas bumi (migas) di Wilayah Kerja (WK) Agung I dan Agung II di perairan Bali.
Investasi tersebut menjadi bagian dari upaya pencarian cadangan migas baru di Indonesia, khususnya melalui kegiatan eksplorasi laut dalam yang membutuhkan dukungan teknologi dan pendanaan besar.
Melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 7 September 2026, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengumumkan pembagian hak partisipasi atau participating interest (PI) di kedua wilayah kerja tersebut. BP dan Inpex masing-masing memegang porsi kepemilikan sebesar 50 persen.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai keterlibatan dua perusahaan tersebut menjadi sinyal positif bagi prospek eksplorasi migas Indonesia. Menurutnya, BP dan Inpex merupakan perusahaan yang memiliki pengalaman besar dalam pengembangan proyek gas di Indonesia. Keputusan untuk berinvestasi di wilayah eksplorasi baru juga menunjukkan adanya pertimbangan strategis dari kedua perusahaan.

"Perusahaan sebesar ini memilih wilayah dengan hati-hati karena anggaran eksplorasinya diperebutkan oleh puluhan negara. Mereka juga datang ke wilayah perbatasan,” katanya kepada wartawan.
Yayan menjelaskan, keterlibatan BP dan Inpex memiliki arti strategis bagi upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Kedua perusahaan tersebut memiliki kapasitas finansial dan teknologi untuk mengembangkan proyek migas berskala besar.
BP saat ini tercatat sebagai salah satu produsen gas terbesar di Indonesia. Berdasarkan data SKK Migas periode Januari hingga Juli 2026, BP Berau menyumbang sekitar 1.478 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), atau 28 persen dari total penyaluran gas nasional.
Sementara itu, Inpex memegang kendali atas Proyek Abadi di Blok Masela, salah satu proyek pengembangan cadangan gas besar yang belum dikembangkan. Proyek tersebut dirancang menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun serta 150 MMSCFD gas pipa untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, dengan nilai investasi mencapai 20,9 miliar dolar AS.
Di WK Agung I dan Agung II, BP dan Inpex berencana melakukan kegiatan survei seismik untuk memetakan potensi cadangan migas di wilayah perairan Bali.
Rencana kegiatan tersebut mencakup survei seismik dua dimensi (2D) sepanjang 285 kilometer dan seismik tiga dimensi (3D) seluas 3.650 kilometer persegi.
Survei seismik merupakan salah satu tahapan penting dalam eksplorasi migas untuk memperoleh gambaran struktur geologi bawah permukaan. Hasil survei tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi potensi keberadaan cadangan minyak dan gas sebelum perusahaan menentukan langkah eksplorasi berikutnya.
Meski demikian, Yayan mengingatkan bahwa eksplorasi di wilayah laut dalam memiliki tantangan besar. Ia memperkirakan peluang keberhasilan geologi di wilayah perbatasan laut dalam tersebut berada di kisaran 20 persen.
Selain risiko geologi, kepastian keekonomian proyek dan harga jual gas untuk pasar domestik juga menjadi faktor penting yang menentukan kelanjutan pengembangan hingga tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID).
Yayan juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah daerah untuk memastikan kegiatan eksplorasi dan pengembangan migas berjalan sesuai rencana.
Menurutnya, hambatan birokrasi maupun persoalan sosial dapat memengaruhi keekonomian proyek dan berpotensi mengurangi penerimaan negara apabila pelaksanaannya tertunda.