- MSCI mengancam menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia, memicu aksi jual investor dan merosotnya IHSG.
- Investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net foreign sell selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
- Pengamat Hans Kwee menyarankan strategi investasi rasional seperti memanfaatkan peluang dan menggunakan uang dingin.
Suara.com - Pasar modal Indonesia kembali bergejolak setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengancam menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market atau pasar mandiri.
Sentimen tersebut menekan pasar saham dan memicu aksi jual investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat merosot ke bawah level psikologis 4.900.
Kondisi ini membuat investor perlu lebih cermat dalam mengambil keputusan. Di tengah pergerakan pasar yang sulit diprediksi, investor dihadapkan pada pilihan untuk membeli saham, menahan portofolio, atau menjual saham yang dimiliki.
Tekanan Jual Asing Masih Membayangi Pasar
Tekanan terhadap IHSG juga tercermin dari transaksi investor asing setelah pengumuman MSCI. Berdasarkan data perdagangan yang disampaikan, investor asing mencatatkan net foreign sell selama tiga hari perdagangan.
![Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/16/19141-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-saham-bursa-efek.jpg)
Berikut rinciannya:
Jumat, 16 Oktober 2026
- Foreign buy: Rp14,08 triliun
- Foreign sell: Rp17,42 triliun
- Net foreign sell: Rp3,34 triliun
- IHSG: 5.185, turun 11,57 persen
Senin, 19 Oktober 2026
- Foreign buy: Rp8,16 triliun
- Foreign sell: Rp9,88 triliun
- Net foreign sell: Rp1,71 triliun
- IHSG: 4.996, turun 3,64 persen
Selasa, 20 Oktober 2026
- Foreign buy: Rp10,42 triliun
- Foreign sell: Rp12,62 triliun
- Net foreign sell: Rp2,19 triliun
- IHSG: 5.278, naik 5,65 persen
Dengan kondisi ini, lantas bagaimana strategi investasi agar tetap berpeluang meraih cuan di tengah gejolak pasar?
Pengamat pasar modal Hans Kwee mengatakan, peluang investasi masih terbuka selama investor mampu bersikap rasional dan disiplin. Kepada Suara.com, ia memaparkan lima strategi yang dapat dipertimbangkan investor untuk menghadapi kondisi pasar yang bergejolak.
1. Ubah Gejolak Pasar Menjadi Peluang
Menurut Hans, gejolak pasar tidak selalu berarti investor harus menjauh dari saham. Kondisi ini justru bisa menjadi kesempatan untuk mengoleksi aset berkualitas dengan harga yang lebih menarik.
Namun, investor tetap perlu selektif. Penurunan harga saham tidak otomatis membuat suatu saham menjadi murah. Investor perlu memperhatikan kualitas perusahaan, kinerja keuangan, dan valuasinya sebelum memutuskan membeli.
2. Jangan Habiskan Modal Sekaligus
![Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/16/47747-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-saham-bursa-efek.jpg)
Strategi berikutnya adalah tidak langsung menghabiskan seluruh modal tunai untuk membeli saham atau melakukan all-in.
Hans menyarankan investor membagi dana yang tersedia menjadi tiga hingga empat bagian. Dana tersebut dapat digunakan secara bertahap, terutama ketika muncul koreksi harga yang dinilai wajar atau dikenal sebagai strategi buy on weakness.
3. Lirik Saham dengan Dividen Menarik
Investor juga dapat mempertimbangkan saham perusahaan besar atau blue chip, termasuk emiten perbankan papan atas dan telekomunikasi, yang memiliki rekam jejak pembagian dividen.
Saham dengan dividend yield menarik dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi investor yang ingin memperoleh pendapatan dari dividen selain mengandalkan kenaikan harga saham.
Dalam bahan strategi yang disampaikan, kisaran dividend yield yang dijadikan contoh adalah 6 persen hingga 10 persen. Meski demikian, imbal hasil dividen setiap emiten berbeda dan tidak dijamin tetap sama setiap tahun.
Karena itu, investor perlu memeriksa riwayat pembagian dividen, kemampuan perusahaan menghasilkan laba, serta harga saham saat pembelian.
4. Pilih Saham Defensif dengan Fundamental Kuat
Di tengah pasar yang bergejolak, investor juga perlu mengevaluasi saham-saham spekulatif dan mengalihkan perhatian pada perusahaan dengan fundamental lebih kuat.
Hans menyarankan investor memperhatikan saham yang memiliki profitabilitas konsisten dan neraca keuangan sehat. Salah satu indikator yang dapat diperiksa adalah rasio utang terhadap ekuitas atau debt-to-equity ratio.
Investor juga perlu berhati-hati terhadap saham dengan rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio atau PER) yang sangat tinggi tanpa dukungan kinerja bisnis yang sepadan. Selain itu, konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi atau high shareholding concentration juga dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan ketika menilai risiko suatu saham.
5. Gunakan Uang Dingin
Strategi terakhir yang tidak kalah penting adalah menggunakan uang dingin atau idle money untuk berinvestasi saham.
Investor sebaiknya tidak menggunakan dana untuk kebutuhan operasional sehari-hari, kebutuhan mendesak, maupun dana darurat jangka pendek untuk membeli saham.
Pasalnya, ketika pasar terkoreksi, investor yang menggunakan dana kebutuhan mendesak bisa terpaksa menjual saham pada harga rendah demi memperoleh uang tunai. Dengan menggunakan dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, investor memiliki ruang lebih besar untuk menjalankan strategi sesuai tujuan dan jangka waktu investasinya.
Perlu diingat, semua keputusan investasi tetap berada sebagai investor itu sendiri. Strategi di atas hanya sebagai pertimbang untuk investasi di pasar modal.