- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berencana menambah kuota Pertalite di Jakarta pada Jumat, 23 Oktober 2026.
- Penambahan tersebut dilakukan karena terjadi perpindahan konsumsi masyarakat dari BBM Pertamax ke Pertalite.
- Bahlil memastikan anggaran pendapatan dan belanja negara mampu membiayai penambahan subsidi bahan bakar minyak tersebut.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, berencana menambah kuota BBM Pertalite pada tahun 2026. Sebab, konsumsi Pertalite pada tahun ini di luar perkiraaan pemerintah.
Ia mengakui, belakangan ini memang ada peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite, setelah harga BBM non-subsidi alami kenaikan.
"Memang ada terjadi peningkatan dibandingkan dengan 2026, ya. Karena ada kenaikan pasti eh akan terjadi penambahan kuota," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
"Tapi Karena ada shifting kan, ada shifting dari Ron 92 ke Ron 90. Sebagian ada shifting. Karena ada shifting, pasti kita akan melakukan penyesuaian, ya," sambung Bahlil.
![Warga melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina, Jakarta, Jumat (22/11/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/11/22/93007-bbm-subsidi-pertalite-pertamina-spbu.jpg)
Namun, Bahlil tidak mengumbar berapa tambahan kuota BBM Pertalite. Pasalnya, ia tengah melakukan kajian untuk menghitung kuota Pertalite yang akan ditambah.
"Jadi kita tengah melakukan exercise nanti di akhir bulan ini," ucapnya.
Bahlil yang juga Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi memastikan, tambahan kuota BBM ini tidak membuat APBN jebol. Ia menilai, APBN sanggup untuk membiayai subsidi Pertalite.
"Ya pasti (APBN bisa mencukupi) kita sudah memikirkanlah, ya," bebernya.
Untuk diketahui, Pemerintah menetapkan kuota bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk 2026 sebesar 29,27 juta kiloliter (KL). Jumlah tersebut turun 6,28 persen dibandingkan kuota pada 2025 yang mencapai 31,23 juta KL.
Di sisi lain, harga Pertalite masih dibanderol Rp10.000 per liter, sedangkan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax mencapai Rp15.950 per liter. Dengan adanya jarak harga yang lebar, maka banyak konsumen berpindah dari Pertamax ke Pertalite.