- Pelatih Hong Myung-bo resmi mengundurkan diri setelah Korea Selatan tersingkir dari Piala Dunia 2026 di Meksiko.
- Keputusan mundur tersebut diambil Hong Myung-bo sebagai bentuk tanggung jawab penuh atas kegagalan performa tim nasional.
- Presiden Lee Jae-myung menuntut evaluasi menyeluruh terhadap sistem penunjukan pelatih dan tata kelola sepak bola nasional Korea.
Suara.com - Gelombang protes melanda sepak bola Korea Selatan setelah tim nasional dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Kurang dari 24 jam setelah kepastian eliminasi tersebut, pelatih kepala Hong Myung-bo secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari kursi kepelatihan.
Keputusan itu diambil di tengah derasnya kritik, termasuk dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, yang secara terbuka mempertanyakan kompetensi sang pelatih.
Hong Myung-bo menghadapi awak media pada Minggu pagi di Guadalajara, Meksiko, dengan membacakan pernyataan tertulis tanpa membuka sesi tanya jawab.
Langkah mundur sang legenda menjadi akhir dari perjalanan Korea Selatan yang finis di peringkat ketiga Grup A setelah menelan dua kekalahan.
Hong Myung-bo Ambil Tanggung Jawab Penuh
![Korea Selatan menyiapkan fleksibilitas taktik sebagai senjata utama di Piala Dunia 2026. Hong Myung-bo tak ingin hanya bergantung pada Son Heung-min. [Dok. KFA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/05/78721-timnas-korea-selatan.jpg)
Meski sempat mengawali turnamen dengan kemenangan atas Republik Ceko, Korea Selatan kemudian tumbang dari Meksiko dan Afrika Selatan.
"Pertama-tama, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada semua orang yang mencintai sepak bola Korea dan selalu mendukung tim nasional kami," ujar Hong Myung-bo dikutip dari ESPN.
Mantan bek legendaris tersebut mengaku menerima jabatan pelatih tim nasional dengan penuh tanggung jawab sejak hari pertama.
"Namun dari saat saya memilih untuk mengambil posisi tersebut, saya tidak pernah mempertimbangkan alasan atau alasan lain. Saya percaya bahwa satu-satunya tugas saya adalah memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya hingga akhir," tutur Hong Myung-bo.
Selama dua tahun memimpin tim, Hong mengaku terus mengevaluasi setiap keputusan yang diambil demi kemajuan sepak bola Korea Selatan.
"Saya tidak bisa mengatakan bahwa setiap keputusan yang saya buat selalu benar, tetapi saya dapat mengatakan bahwa standar di mana saya membuat setiap keputusan selalu apa yang saya yakini terbaik untuk sepak bola Korea," tegas Hong Myung-bo.
Kegagalan di Amerika Utara sangat kontras dengan pencapaian Korea Selatan pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ketika mereka berhasil melaju ke babak 16 besar.
Hong menegaskan bahwa pelatih kepala harus siap menerima konsekuensi ketika hasil di lapangan tidak sesuai harapan.
"Itulah sebabnya saya berdiri di depan Anda hari ini bukan untuk menawarkan penjelasan, tetapi untuk menerima tanggung jawab. Tanggung jawab itu sepenuhnya berada pada saya sebagai pelatih kepala," ungkap Hong Myung-bo.
Ini menjadi kali kedua Hong Myung-bo mengakhiri masa jabatannya sebagai pelatih tim nasional dengan hasil mengecewakan setelah pengalaman serupa pada Piala Dunia 2014.
Presiden Lee Jae-myung Soroti Sistem Penunjukan Pelatih
Situasi internal tim nasional semakin memanas setelah Presiden Lee Jae-myung melontarkan kritik terhadap proses penunjukan pelatih dan tata kelola sepak bola Korea Selatan.
Presiden Lee mengaku kecewa dengan hasil yang diraih Taeguk Warriors di Piala Dunia 2026.
"Sekali lagi, telah terbukti bahwa keputusan personel menentukan segalanya," kata Presiden Lee Jae-myung.
Ia juga menyoroti dugaan budaya yang lebih mengutamakan loyalitas dibanding kompetensi dalam pengelolaan tim nasional.
"Jika loyalitas dan faksionalisme dihargai di atas kompetensi dan orang yang tidak mampu ditunjuk sebagai pemimpin, hasilnya bisa diprediksi seperti api," ujar Lee Jae-myung.
Presiden Lee kemudian memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap program tim nasional sebagai bagian dari upaya membenahi ekosistem sepak bola Korea Selatan.
Publik pun menuntut proses pemilihan pelatih baru yang lebih transparan agar kegagalan di Piala Dunia 2026 tidak kembali terulang.
Pengunduran diri Hong Myung-bo meninggalkan pekerjaan besar bagi Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) yang kini harus segera menentukan nahkoda baru untuk menghadapi agenda internasional berikutnya.
Kegagalan di Piala Dunia 2026 menjadi alarm serius bagi sepak bola Korea Selatan untuk melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari tata kelola organisasi hingga pembinaan tim nasional.
