Lampaui Target Tahunan, Penyaluran Kredit BRI Tumbuh Agresif 13,4 Persen
Suara.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengawali tahun 2026 dengan performa fungsi intermediasi yang sangat kuat.
Berdasarkan laporan analisis terbaru, emiten yang fokus pada segmen mikro ini berhasil mencatatkan ekspansi kredit yang melampaui panduan (guidance) tahunan perusahaan, sekaligus memperkokoh posisinya sebagai pemimpin pasar perbankan nasional.
Fokus utama pada kinerja kuartal pertama ini adalah ketangkasan BRI dalam menyalurkan pinjaman. BBRI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 13,4% secara tahunan (yoy) dan 2,4% secara kuartalan (qoq).
Angka pertumbuhan tahunan ini sangat signifikan mengingat target awal yang ditetapkan perseroan sebelumnya hanya berada pada rentang 7% hingga 9%.
Agresivitas penyaluran kredit ini merata di berbagai segmen, dengan dominasi kuat pada sektor mikro dan konsumer.
Keberhasilan ini juga dibarengi dengan normalisasi rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) ke level yang lebih sehat, yakni 101%, turun dari posisi 105% pada akhir tahun 2025.
Hal ini menunjukkan kemampuan bank yang tetap solid dalam menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) guna mengimbangi derasnya permintaan kredit di lapangan.
BNI Sekuritas dalam kajian hariannya menyebut, sejalan dengan derasnya penyaluran pinjaman, Pendapatan Bunga Bersih atau Net Interest Income (NII) BBRI terkerek naik 11,9% yoy menjadi Rp40,2 triliun.
Menariknya, ekspansi kredit yang agresif ini tidak menggerus profitabilitas, justru didukung oleh kenaikan Net Interest Margin (NIM) sebesar 30 basis poin (bps).
Kenaikan margin tersebut dipicu oleh keberhasilan BRI menekan biaya dana (Cost of Fund/CoF) hingga ke level terendah sejak kuartal ketiga 2023.
Efisiensi pada sisi pendanaan memberikan ruang bagi perseroan untuk tetap ekspansif dalam penyaluran kredit tanpa harus mengorbankan keuntungan bersih.
Kualitas Aset Tetap Terjaga di Tengah Ekspansi
Meskipun menunjukkan tren pertumbuhan kredit yang melampaui target, manajemen risiko BBRI tetap disiplin dalam menjaga kualitas aset.
Biaya kredit atau Cost of Credit (CoC) terjaga di level 3,1%, masih berada dalam koridor panduan perusahaan di kisaran 2,9% hingga 3,2%.
Penurunan alokasi biaya provisi sebesar 1,4% yoy juga menjadi indikasi bahwa ekspansi pinjaman yang dilakukan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Secara keseluruhan, integrasi antara pertumbuhan kredit yang cepat dan kualitas aset yang terkendali bermuara pada capaian laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,5 triliun sepanjang kuartal pertama tahun 2026.
Catatan Redaksi: Detail mengenai strategi penyaluran kredit dan proyeksi bisnis lebih lanjut akan dipaparkan oleh manajemen BRI dalam pertemuan analis yang dijadwalkan berlangsung hari ini.