Sentuh 5.245 Desa, BRI Kembali Buka Pendaftaran Desa BRILiaN 2026
Suara.com - Upaya memperkuat kemandirian ekonomi dari akar rumput kembali ditegaskan dalam acara Kick Off Desa BRILiaN 2026 yang berlangsung di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah, Kamis (7/5/2026).
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, secara langsung memberikan dukungan penuh terhadap program ini sebagai instrumen vital dalam meningkatkan daya saing desa melalui kolaborasi lintas sektor.
Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, Mendes Yandri memberikan apresiasi tinggi kepada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Menurutnya, BRI telah menjadi pionir sekaligus "juara umum" dalam hal pembinaan desa di tanah air, dengan total jangkauan yang kini melampaui 5.200 desa.
“Program Desa BRILiaN sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan,” tegas Yandri. Ia menambahkan bahwa kesuksesan pembangunan desa memerlukan kerja tim (superteam) yang melibatkan pemerintah, perbankan, dan akademisi.
Empat Pilar Utama Desa BRILiaN
Group Head Social Entrepreneurship and Incubation Division BRI, Evy Sulistyowati, menjelaskan bahwa Desa BRILiaN bukan sekadar program tahunan, melainkan komitmen berkelanjutan BRI sejak 2020 untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini dirancang untuk melahirkan role model desa yang memiliki kepemimpinan unggul dan inovatif.
Pelaksanaan Desa BRILiaN 2026 akan menitikberatkan pada empat pilar strategis:
- Penguatan Kelembagaan: Mengoptimalkan peran BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
- Digitalisasi: Mempercepat adopsi teknologi dalam tata kelola dan pelayanan desa.
- Pembangunan Berkelanjutan: Mendorong program lingkungan seperti desa bebas sampah.
- Inovasi Desa: Mengembangkan komoditas unggulan dan desa tematik.
Hingga saat ini, sebanyak 5.245 desa telah aktif berpartisipasi. Untuk tahun 2026, program ini akan dibagi menjadi dua batch dengan target minimal 1.000 desa peserta baru dari seluruh pelosok Indonesia.
Untuk pertama kalinya, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dipercaya sebagai mitra pendamping akademis dalam program ini. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unsoed, Prof. Norman Arie Prayogo, menyambut baik kolaborasi ini karena selaras dengan visi Unsoed dalam pengembangan perdesaan berbasis kearifan lokal.
Unsoed akan menerjunkan tenaga ahli untuk mendampingi 545 desa pada tahun 2026. Fokus pendampingan meliputi revitalisasi sektor pertanian, perikanan, perkebunan, hingga pariwisata.
Senada dengan itu, Ketua LPPM Unsoed, Prof. Elly Tugiyanti, menjelaskan bahwa pengembangan desa akan dilakukan secara multidisiplin dengan melibatkan 12 fakultas dan 24 pusat studi.
“Kami berharap desa-desa ini lebih mandiri, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam hal kelembagaan, administrasi, dan pengelolaan keuangan,” kata Prof. Elly.