Suara Denpasar - Di zaman yang serba instan dimana seluruh kegiatan mampu dilakukan menggunakan sentuhan jari, lebih tepatnya memakai perangkat cerdas smartphone yang mampu mencari informasi yang dibutuhkan. Selain itu, pengguna juga mampu melakukan kegiatan sosial secara daring ke berbagai belahan dunia dengan menggunakan memanfaatkan media umum.
Dengan berselancar seorang menerima warta, bukan saja berdasarkan pihak media, persebaran informasi justru semakin cepat dan meluas persebarannya pada tangan pengguna internet yang notabene pengguna merupakan orang dewasa, remaja hingga anak-anak.
Fakta bahwa sebanyak 25 persen pengguna merupakan anak-anak. Mereka sangat lihai dalam menggunakan smartphone dan menggunakannya. Namun dengan usia yang masih sangatlah belia, mereka mudah sekali tergiring dan terjerumus berita hoax.
Dari berita yang mudah mereka temukan di sosmed, sebagian dari mereka mengaku percaya terhadap informasi atau berita yang mereka dapatkan tersebut tanpa berfikir panjang. Berita yang mereka peroleh dari media umum tadi sebagian besar menjadi tendensi utama dan menempati peringkat tertinggi dalam mendapatkan informasi yang masih absurd dan mampu mempengaruhi preferensi remaja & anak-anak.
Sebagian besar anak-anak sudah mengetahui apa itu hoax. Hal itu dibuktikan oleh Fabiano Vicky, seorang guru alternatif yang setiap seminggu sekali mengajar dengan membuka kelas belajar secara gratis di daerah Klungah, Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem. Kelas ini diberi nama Sidemen Pintar, dimana dia mengajar anak-anak yang kurang mampu agar memiliki bekal ilmu di kemudian hari.
Disana, tepatnya setiap hari Minggu anak-anak belajar bahasa Inggris bersama. Kegiatan tersebut di inisiasi LSM Aku for Bali yang peduli terhadap SDM warga setempat. Di saat mengajar, Vicky menanyakan kepada siswa yang rata- berusia 8-12 tahun terkait Hoax. Dari delapan yang berhasil diwawancarai, 6 diantaranya faham apa itu hoax dan dua orang lainnya tidak tahu.
Hal ini diperkuat dengan fakta baha enam orang tersebut yang mengetahu istilah hoax adalah siswa yang aktif bersosmed dan lainnya tidak. “Mereka mengaku mendapatkan pemahaman hoax dari sosmed, sebagian dari mereka sangat aktif di Whatsapp, Tiktok dan Instagram. Mereka menyebut hoax sebagai berita bohong, tiak benar dan menipu/supaya bisa viral,” kata Vicky pada Minggu (30/10/2022).
Bagi Vicky, Sekolah merupakan salah satu tempat yang tepat untuk memberikan pemahaman tentang pentingya menghindari hoax. Ini dikarenakan sebagian aktivitas anak-anak sebagian di sekolah. Upaya tersebut bertujuan untuk membekali siswa dengan mangaplikasikan kemampuan kognitif untuk mengakses dan belajar menganalis beragam hal.
Bukan berarti sekolah harus menambah materi pembelajaran baru, tapi keterampilan kritis terhadap informasi tersebut dapat diberikan melalui semua pelajaran yang telah ada di sekolah, mulai dari sains sampai dengan mata pelajaran sejarah. Di masa lalu, ketika anak-anak membutuhkan informasi, mereka pergi ke perpustakaan untuk membuka buku ensiklopedia dan mendapatkan informasi tersebut dengan benar.
Baca Juga: Kang Dedi Mulyadi Sindir Ambu Anne, Ungkit Jadi Bupati Purwakarta karena Kerja Kerasnya
“Namun pada saat ini, kegiatan tersebut bagi sejumlah orang adalah upaya yang kuno yang juga alternatif ke sekian setelah internet. Namun, sedini mungkin pembelajaran berpikir kritis atas segala hal informasi wajib untuk diterapkan pada anak-anak,” katanya.
Lanjutnya, fakta bahwa saat ini anak-anak dan media sosial tak bisa dipisahkan dan menjadi tantangan utama bagi orang tua dalam mengajarkan untuk selalu kritis dalam menelaah informasi yang mereka terima. Selain itu, anak-anak juga butuh diberi pemahaman mengenai pesan apa saja yang terkandung dalam berita tersebut, apakah penting, menguntungkan, atau malah sebaliknya.
Dalam rangka meminimalisir hoax pada anak-anak. Filucci seorang jurnalis editor parenting pada majalah Common Sense yang juga merupakan lulusan University of California terkait pentingnya mengajarkan anak-anak dalam menghindari berita Hoax.
Dalam beberapa tulisannya, ia menyampaikan peran orang tua dalam mengawasi dan perlunya menegaskan dalam memahami berita Hoax, khususnya dalam menelaah perkara siapa yang membuat berita yang mereka baca, siapa target pembacanya, siapa yang dibayar dan diuntungkan atas berita tersebut.
Perlu dipastikan juga apakah sumber-sumber kredibel lain juga ikut memberitakannya. Biasanya berita hoax dan clickbait akan berusaha memicu reaksi ekstrem pembacanya. Selain itu, orang tua sebaiknya memeriksa kebenaran berita dari situs tersebut di website lain seperti Snopes, Wikipedia, dan Google sebelum buru-buru mempercayai informasi itu.
“Hal ini dilakukan agar anak-anak tidak terlarut dalam informasi menyesatkan, terlebih ke arah menyimpang seperti kepada paham-paham ekstremis. Satu paham yang mulai mewabah di lingkup internasional,” pungkasnya. (*)