Suara Denpasar- Negara Indonesia salah satu negara yang memiliki lahan gambut yang luas dan mungkin belum banyak yang memahami tentang lahan gambut.
Sementara, lahan gambut sendiri ialah jenis lahan basah yang terbentuk dari timbunan material organik berupa sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut dan jasad hewan yang membusuk di dalam tanah.
Dilansir dari akun instagram Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, yaitu akun @kementrianlhk menerangkan tentang karakteristik lahan gambut. Dijelaskan, karakteristik spesifik dari tanah gambut yang membedakan dengan tanah mineral salah satunya yaitu mudah mengalami kering tak balik atau irreversible drying serta mudah ambles atau subsidence.
"Ketika musim kemarau, lahan gambut bisa menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Jika itu terjadi, api dapat merambat hingga ke dalam tanah sampai ketinggian 3 meter di bawah permukaan," tulis akun tersebut, seperti dikutip Suara Denpasar, Kamis (19/1).
Sementara, diterangkan juga bahwa Indonesia telah menjadikan restorasi gambut dan pencegahan kebakaran lahan gambut sebagai salah satu fokus utama dalam net sink kehutanan dan penggunaan lahan lain (FoLU) 2030.
Kemudian, selama tahun 2019 hingga 2022, Indonesia terus melakukan perbaikan restorasi gambut seluas 300 ribu hektar di pemegang konsesi. Selain itu, 230 desa dengan luas 50 ribu hektar telah dilaksanakan restorasi dengan melibatkan masyarakat setempat.
Selain itu, di video berdurasi pendek yang diunggah oleh akun @kementrianlhk dijelaskan tentang karakteristik atau sifat tanah gambut yang menyerupai spon, yang pada musim kemarau dapat menjadi kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar.
Sehingga, jika lahan gambut terbakar api akan menjalar dibawa permukaan tanah. Lalu saat pemadaman, dibutuhkan alat suntik gambut yang ditancapkan kedalam tanah gambut sehingga bisa memadamkan bara api di dalam tanah gambut. (")
Baca Juga: Persebaya Hancurkan Tuan Rumah Persita 5-0, Aji Santoso: Penampilan yang Sempurna