Suara Denpasar - Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali mendorong pencegahan dan penanganan serta berbagai Kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan.
KPPAD Provinsi Bali secara khusus Bidang Pemenuhan Hak Anak Bidang Pendidikan, sangat mendukung semua satuan pendidikan untuk mengakomodir hak pendidikan anak termasuk anak yang berkebutuhan khusus (ABK) dalam program pendidikan Inklusi.
Untuk menjalankan program pendidikan Inklusi itu, hari ini Selasa, (31/1/2023), KPPAD Bali melakukan kunjungan ke SD N 18 Pamecutan, Denpasar, demi mendorong penguatan perlindungan, pencegahan, penanganan dan berbagai potensi kekerasan termasuk perundungan (perilaku agresif) terhadap anak di sekolah.
Kolaborasi KPPAD Bali dan SD N 18 Pamecutan, Denpasar itu mengangkat semboyan 'Aku, Kamu, Kami dan Kita, Saling Bantu Menyembuhkan' yang di desain oleh Putu Manik, seorang guru penggerak di SD N 18 Pamecutan, Denpasar.
Dalam kunjungan itu, pihak KPPAD Bali dipertemukan dengan seorang siswa berkebutuhan khusus atau disabilitas (motorik lemah, susah berjalan) sehingga dapat melakukan sharing langsung bersama anak-anak di kelas melalui ide poster dengan prinsip Aku, Kamu, Kami dan Kita Saling Bantu Menyembuhkan.
Saat melakukan sharing tersebut, anak-anak diajarkan untuk saling membantu terkhusus membantu teman yang memiliki keterbatasan, diajarkan agar jangan saling menyakiti dan membully (mengejek).
Dalam kesempatan itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah Provinsi Bali, Kadek Ariasa mengatakan karya design dengan semboyan 'Aku, Kamu, Kami dan Kita, Saling Bantu Menyembuhkan' itu perlu untuk dikampanyekan dan disosialisasikan secara masif dan berkelanjutan ke sekolah dan lingkungan masyarakat.
"Program dengan semboyan tersebut perlu untuk terus dikampanyekan dan disosialisasikan ke sekolah sekolah dan lingkungan masyarakat agar anak-anak dan kita semua bisa menerapkan semboyan itu dalam rangka pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak khususnya yg menjadi korban.
Selain itu kata dia, para pelaku (sesama anak-anak) juga tetap mendapat perhatian yg sama (penyembuhan) pasca mengalami kasus.
Baca Juga: 5 Bahan Alami untuk Produk Perawatan Kulit, Terbukti Efektif!
Kadek Ariasa berharap metode pembelajaran tentang pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak yang didesain dalam bentuk poster yang bertuliskan kata-kata sederhana itu, bisa membantu menyadarkan semua pihak.
"Semoga melalui karya design dengan kata-kata yang cukup sederhana namun penuh makna tersebut, bisa menginspirasi dan memotivasi semangat kita semua khususnya dunia pendidikan untuk mengoptimalkan perlindungan anak di semua lini kehidupan secara gotong-royong yaitu saling bantu saling menyembuhkan," tandas Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah Provinsi Bali, Kadek Ariasa. (*/Dinda)