Suara Denpasar - Rakyat Palestina melakukan mogok massal. Hal ini sebagai wujud protes atas pembunuhan Mohammed al-Osaibi, seorang dokter Palestina yang ditembak mati oleh Polisi Israel.
Sebelumnya, seorang saksi mata mengatakan bahwa Polisi Israel menembak Mohammed al-Osaibi sebanyak 10 kali di Chain Gate (Bab al-Silsela), salah satu gerbang kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem, pada Jumat, (31/3/2023).
Mohammed al-Osaibi, dokter Palestina ini, dibunuh setelah dia mencoba mencegah Polisi Israel melecehkan seorang wanita yang hendak masuk ke masjid.
Ironisnya, Polisi Israel malah mengatakan bahwa Mohammed al-Osaibi mencoba merebut senjata mereka. Karenanya, ia kemudian ditembak dan "dilumpuhkan".
Sebagai informasi bahwa Mohammed al-Osaibi adalah penduduk berusia 26 tahun dari kota Badui Hura, wilayah Naqab (Negev), di Israel selatan.
Keluarga Mohammed al-Osaibi membantah laporan Polisi Israel tentang kematiannya, dan menuntut Otoritas terkait untuk melihat bukti rekaman CCTV.
Kata pihak keluarga, Mohammed al-Osaibi sendiri baru-baru ini meraih gelar kedokterannya di Rumania, dan kembali ke kampung halamannya sebulan yang lalu.
Menanggapi pembunuhan Mohammed al-Osaibi, sebuah organisasi ekstraparlementer yang bernama Komite Tindak Lanjut Warga Arab di Israel (NCALC), menyerukan mogok massal yang mencakup semua kota, fasilitas pendidikan umum, dan toko di Israel.
"Ada upaya membuat skenario untuk mendistorsi kebenaran dan menyembunyikan bukti. Kita harus mengutuk mereka [Polisi Israel] karena melakukan kejahatan keji terhadap Mohammed al-Osaibi," kata NCALC, dilansir Suara Denpasar dari Middle East Eye, Senin, (3/4/2023).
Baca Juga: Sungguh Tega, Tentara Israel Bunuh Warga Palestina di Depan Masjid Al-Aqsa
Rakyat Palestina, yang memaknai pembunuhan Mohammed al-Osaibi sebagai "eksekusi", kemudian ikut menanggapi peristiwa keji dengan mogok massal dalam jumlah besar. Mereka menutup toko-toko, dan mengadakan pawai sembari memasang foto-foto dokter Mohammed al-Osaibi.
Penulis dan analis politik Saher Ghazzawi mengatakan bahwa tanggapan warga Palestina ini mengingatkan kembali akan serangan yang terjadi di kota-kota Palestina pada hari-hari awal Intifada Al-Aqsa, Oktober 2000.
“Ada suasana ketegangan yang dirasakan oleh masyarakat Palestina setelah pembunuhan dokter muda itu,” katanya.
Ghazzawi juga mengatakan bahwa ketegangan datang bersamaan dengan praktik rasis dan pernyataan pemerintah Israel terhadap segala sesuatu yang berbau Palestina.
“Opini publik Palestina sepenuhnya menolak laporan polisi Israel yang memfitnah korban (Mohammed al-Osaibi), sehingga kejahatan ini tidak akan luput dari perhatian rakyat Palestina,” kata Ghazzawi menambahkan. (*/Dinda)