Suara Denpasar – Joget ‘Gemoy’ yang selama ini dipertontonkan Calon Presiden (Capres) nomor urut 2, Prabowo Subianto selama masa kampanye rupanya mendapat perhatian dari elite Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Sekretaris PDIP, Hasto Kristiyanto menyinggung joget yang dilakukan Prabowo sebagai langkah yang kurang elok bagi calon pemimpin.
Prabowo disindir tidak melakukan blusukan menjemput aspirasi publik sebagaimana yang dilakukan pasangan Capres dan Cawapres (Calon Wakil Presiden) nomor urut 3 yang didukung PDIP, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.
Hasto juga mengatakan bahwa joget ‘Gemoy’ bukan solusi untuk menyelesaikan kebutuhan rakyat terutama masalah anggaran belanja Alat Utama Sistem Pertahanan Negara (Alutsista) mengingat posisi Prabowo saat ini sebagai Menteri Pertahanan (Menhan).
“Apa yang dilakukan Pak Prabowo? Joget. Bukannya menyelesaikan harga kebutuhan pokok rakyat malah belanja alutsista,” ujar Hasto dilansir dari laman Suara.com, Senin (11/12/2023).
“Ini pemimpin yang tidak memahami kehendak rakyat,” imbuhnya.
Ia pun membandingkan dengan strategi kampanye Ganjar Pranowo dan Mahfud MD yang blusukan ke rakyat sebagaimana yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Hasto menilai blusukan yang dilakukan pasangan Ganjar-Mahfud bisa mendengar dan menangkap sebanyak mungkin aspirasi rakyat sebagai bahan perbaikan pemerintahan ke depan apabila pasangan nomor urut 3 tersebut memenangi kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang.
“Pak Ganjar tidak hanya blusukan tetapi tinggal di rumah rakyat. Dengan tinggal di rumah rakyat, Pak Ganjar merasakan betapa kenaikan harga kebutuhan pokok berdampak kepada peningkatan kemiskinan,” ungkap Hasto.
Baca Juga: Laga Debut Bersama Persib Berakhir Pahit, Kevin Ray Mendoza Tetap Curi Perhatian Bobotoh
“Bagaimana kehidupan lebih sulit, dan ibu-ibu menjerit harga cabai naik,” tandasnya. (*/Rizal)