Depok.suara.com - Setara Institue pernah mengeluarkan laporan bahwa Depok selama tiga tahun berturut-turut, yakni tahun 2020, 2021 dan 2022 masuk kota intoleran di Indonesia.
Kemudian, muncul lagi laporan isu intoleran pada Sabtu, 16 September 2023, di mana puluhan warga dari organisasi masyarakat atau ormas menggeruduk kapel untuk beribadah umat Kristiani atau Kristen yang berlokasi di Jalan Bukit Cinere Raya, Gandul, Kota Depok.
"Di depan kapel itu mereka sempat...pintu (pagar) didorong-dorong, ya enggak kencang memang. Pada saat itu memang enggak ada kegiatan," kata Arief Syamsul, anggota majelis Kapel GBI Cinere Raya, membeberkan kronologi penggerudukan kepada Kompas.com.
Puluhan warga yang menggelar aksi protes melangsungkan aksi demonstrasi kurang lebih 30 menit hingga 45 menit.
Berita intoleransi di Kota Depok pun viral di media sosial. Hingga membuat Walikota Depok Muhammad Idris turun tangan dengan membuat klarifikasi soal isu tak sedap itu.
Idris menggelar jumpa pers dan mengatakan bahwa kapel tersebut belum mendapatkan izin.
“Izinnya adalah soal layak fungsi pemanfaatan. Ttu yang harus dipenuhi," kata Idris, Selasa, 19 September 2023.
Menurutnya, izin pemanfaatan ruko untuk ibadah atau disebut kapel cuma sebatas dua tahun saja.
Untuk membuktikan Kota Depok bukan kota intoleran, Idris mengatakan bahwa dirinya beberapa kali meresmikan gereja hingga ada pendeta di Kecamatan Pancoran Mas.
Dia berharap tidak ada lagi judul intoleran karena pemerintah kota depok membiarkan orang non Muslim untuk beribadah.
Baca Juga: Berangkat Sehat, Pulang Mati karena Terjebak Macet di Sawangan Depok
"Enggak pernah kita usik," ucap Idris.
Tak cuma itu, Idris pun seraya menantang yang membuat isu Kota Depok intoleran dengan mengatakan dirinya kalau perlu masuk ke geraja dan sekalian dirinya khutbah.
“Kalau perlu saya masuk ke gereja, kalau perlu saya khutbah,” kakta dia. (*)