Namun, ketika pesawat mendarat di Sarajevo, Sjafrie memandangi sebuah pemandangan dari jendela pesawatnya. Pemandangan tersebut ternyata adalah senjata laras panjang berpeluru kaliber 12,7 mm.
Menurutnya, senjata tersebut biasa digunakan untuk menembak jatuh pesawat terbang. Senjata tersebut terus berputar mengikuti arah pesawat yang ditumpangi Soeharto.
Sjafrie sendiri baru memberitahukan hal tersebut 6 jam kemudian. anak buah Soeharto itu menyebut bahwa kawasan tersebut banyak terdapat sniper. Kendati begitu, saat turun dari pesawat tersebut Soeharto tetap terlihat tenang.
Sikap yang tenang yang dimiliki Soeharto, juga menular kepada orang-orang di sekitarnya.
"Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah," tandas Sjafrie. (*)