Depok.Suara.com - Menurut laporan analisis pasar baru-baru ini, tidak semua anggota Blackpink akan memperpanjang kontrak mereka dengan YG Entertainment, dan bisnis K-pop tidak akan bangkrut bahkan jika mereka memilih untuk berpisah.
Kemungkinan semua anggota Blackpink memperbarui kontrak mereka dengan YG Entertainment tampak tidak memungkinkan saat ini, kata analis Hyundai Motor Securities Kim Hyun-yong dikutip Depok.Suara.com dari Korea JoongAng Daily Kamis (28/9).
Ini pasti akan menjadi berita buruk bagi YG Entertainment kecuali mereka memperbarui kontrak dengan keempat anggotanya.
Kim memperkirakan penjualan Blackpink akan menurun sebesar 30% sebagai grup beranggotakan tiga orang dan lebih dari 50% jika dua atau lebih anggota membatalkan kontrak mereka.
Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa bahkan dalam skenario terburuk sekalipun, skandal Blackpink akan memiliki dampak yang terbatas pada bisnis K-pop karena industri tersebut telah cukup matang untuk menghilangkan risiko yang ditimbulkan oleh artis-artis papan atas. Laporan Hyundai Motor Securities muncul sehari setelah NH Investment and Securities menyalahkan skandal Blackpink yang berkepanjangan sebagai penyebab meningkatnya kekhawatiran pasar.
Pengumuman resmi dalam bentuk apa pun akan menghilangkan ketidakpastian dan menempatkan debut mendatang BabyMonster ke dalam kalender, kata analis NH Investment & Securities, Lee Hwa-jeong.
Lee menyatakan bahwa sudah waktunya bagi para pihak untuk mengumumkan rencana resmi mereka kepada publik, bukan hanya sekedar menyatakannya secara tersirat melalui kalender yang dikabarkan.
Laporan tersebut muncul seiring dengan masih adanya kecurigaan mengenai penolakan anggota Blackpink untuk memperbarui kontrak mereka dengan YG Entertainment.
Anggota Jennie, Jisoo, dan Lisa dikatakan akan meninggalkan agensi, sementara YG Entertainment dan keempat anggota tetap bungkam mengenai masalah tersebut.
Baca Juga: Korsel Bantai Indonesia 10-0 di Turnamen Hoki Putera Asian Games
Pemberitaan Blackpink telah menyebabkan saham YG Entertainment turun sekitar 20% sejak isu tersebut pertama kali muncul pada hari Kamis. (*)