Kenali Penyebab Epilepsi, IDI Praya Berikan Informasi Pengobatan yang Tepat

Fabiola Febrinastri

Sabtu, 28 Desember 2024 | 12:25 WIB
Kenali Penyebab Epilepsi, IDI Praya Berikan Informasi Pengobatan yang Tepat
Foto oleh EyeEm dari Freepik

Suara.com - Menurut informasi dari idipraya.org, salah satu penyakit yang dianggap cukup berbahaya bagi kesehatan adalah epilepsi. Epilepsi adalah kejang berulang yang disebabkan oleh pelepasan impuls listrik yang tidak normal di otak.

IDI merupakan singkatan dari Ikatan Dokter Indonesia. IDI Kecamatan Praya adalah salah satu organisasi kesehatan dan menjadi wadah profesi bagi para dokter di Indonesia.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Praya adalah organisasi profesi yang berfungsi untuk menaungi para dokter di wilayah Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. IDI Praya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, mendukung pengembangan profesionalisme dokter, serta memberikan edukasi dan informasi kesehatan kepada masyarakat.

IDI Praya kemudian meneliti lebih lanjut mengenai penyakit epilepsi yang sering menyerang dan menanggu kesehatan masyarakat Indonesia. Beberapa cara dan rekomendasi obat yang tepat bagi para penderitanya.

Apa saja penyebab terjadinya penyakit epilepsi?
 
Dilansir dari laman https://idipraya.org, penyakit epilepsi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk genetik, trauma kepala, infeksi otak, gangguan sistem imun, masalah tumbuh kembang anak, gangguan metabolisme, dan masalah pembuluh darah di otak. Berikut adalah penyebab terjadinya penyakit epilepsi meliputi:

1. Faktor genetik atau riwayat keluarga

Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya epilepsi adalah riwayat keluarga atau keturunan; faktor genetik juga dapat berperan. Risiko terkena epilepsi dapat meningkat karena gen yang diwariskan dari orang tua, terutama jika ada riwayat keluarga epilepsi.

2. Adanya cedera di kepala

Ketika kepala mengalami cedera fisik, seperti kecelakaan kendaraan atau jatuh, kerusakan yang dapat menyebabkan kejang dapat terjadi pada otak. Cedera kepala bertanggung jawab atas 15% dan 35% kasus epilepsi pada orang dewasa dan anak-anak.

3. Terjadinya infeksi pada otak

Infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis herpes simplex dapat menyebabkan kejang dan meningkatkan risiko epilepsi, yang dapat menyebabkan epilepsi, selain faktor keturunan atau genetik.

4. Adanya gangguan perkembangan

Faktor terakhir yang dapat menyebabkan terjadinya epilepsi adalah gangguan perkembangan pada seseorang. Kelainan bawaan atau masalah perkembangan yang mempengaruhi otak, seperti cerebral palsy, dapat meningkatkan risiko epilepsi.

Untuk diagnosis dan pengobatan yang efektif epilepsi, pengetahuan tentang penyebabnya sangat penting. Banyak kasus yang penyebabnya tidak diketahui, tetapi faktor risiko lainnya masih dapat dikontrol dengan cara pencegahan.

Apa saja obat yang direkomendasikan untuk mengobati epilepsi?

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah merangkum beberapa obat yang bisa meringankan gejala epilepsi. Adapun beberapa orang yang bisa di konsumsi meliputi:

1. Tegretol
 
Tegretol adalah obat untuk mengontrol dan mencegah terjadinya kejang akibat epilepsi. Obat ini digunakan untuk mencegah dan mengontrol kejang akibat epilepsi dengan menekan aktivitas listrik yang tidak normal di otak. Untuk dosisnya umumnya dikonsumsi sebanyak 1 tablet, 2 kali sehari, dengan dosis yang dapat ditingkatkan hingga 2 tablet sebanyak 2–3 kali sehari.

2. Asam Valproat

Obat Asam valproat adalah obat untuk mengobati kejang akibat epilepsi dan gangguan bipolar. Obat ini dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau dikombinasikan dengan obat antikonvulsan lainnya. Obat ini membutuhkan resep dari dokter.

3. Lamotrigine

Lamotrigine adalah obat yang digunakan untuk meredakan gejala kejang dengan menurunkan aktivitas sel otak yang berlebihan. Dokter akan memberi dosis awal sebanyak 25 mg sekali sehari, dapat ditingkatkan secara bertahap.

4. Phenobarbital

Obat ini termasuk dalam golongan barbiturat yang digunakan untuk mengontrol kejang, terutama pada anak-anak. Dosis bervariasi tergantung pada usia dan kondisi pasien, biasanya dimulai dari 1-3 mg/kg berat badan per hari.

Obat-obatan ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter, baik sebagai terapi tunggal maupun dalam kombinasi dengan obat antiepilepsi lainnya. Jika ada efek samping serius atau jika kejang semakin sering terjadi, penting untuk berkonsultasi kembali dengan dokter untuk penyesuaian pengobatan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cegah Ambeien Saat Kehamilan, IDI Mataram Bagikan Informasi Pengobatan

Cegah Ambeien Saat Kehamilan, IDI Mataram Bagikan Informasi Pengobatan

Health | Sabtu, 28 Desember 2024 | 11:57 WIB

Kenali Penyebab Migrain, IDI Gerung Berikan Informasi Pengobatan

Kenali Penyebab Migrain, IDI Gerung Berikan Informasi Pengobatan

Health | Sabtu, 28 Desember 2024 | 11:55 WIB

Kenali Bahaya Hepatitis, IDI Woha Bagikan Informasi Pengobatan yang Tepat

Kenali Bahaya Hepatitis, IDI Woha Bagikan Informasi Pengobatan yang Tepat

Health | Sabtu, 28 Desember 2024 | 10:35 WIB

Kenali Penyebab Anemia, IDI Lombok Timur Bagikan Informasi Pengobatan

Kenali Penyebab Anemia, IDI Lombok Timur Bagikan Informasi Pengobatan

Health | Rabu, 25 Desember 2024 | 09:59 WIB

Kenali Bahaya Penyakit Batu Ginjal, IDI Lombok Tengah Bagikan Informasi Pengobatan

Kenali Bahaya Penyakit Batu Ginjal, IDI Lombok Tengah Bagikan Informasi Pengobatan

Health | Rabu, 25 Desember 2024 | 09:42 WIB

Terkini

WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali

WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali

Bali | Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:32 WIB

Bibit Durian Diturunkan di Pelabuhan Makassar Padahal Punya Izin, Ini Respons Badan Karantina

Bibit Durian Diturunkan di Pelabuhan Makassar Padahal Punya Izin, Ini Respons Badan Karantina

Sulsel | Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:11 WIB

Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam

Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:56 WIB

Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus

Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:56 WIB

Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit

Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:53 WIB

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor

Bogor | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:37 WIB

Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi

Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi

Jabar | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:13 WIB

Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo

Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo

Bri | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Resah, Puluhan Pimpinan Media Lokal dari 4 Provinsi Kumpul di Pekanbaru Bahas Ekosistem Media

Resah, Puluhan Pimpinan Media Lokal dari 4 Provinsi Kumpul di Pekanbaru Bahas Ekosistem Media

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu

Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu

Bri | Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:35 WIB

×