Indotnesia - Bunga Jeumpa asal Aceh di uang terbaru pecahan Rp2.000 mendadak menjadi perbincangan publik gara-gara drama Korea Little Women. Pasalnya, drakor tersebut berkisah tentang penyelidikan misteri bunga anggrek berwarna biru yang beracun.
Bunga anggrek beracun itu disebut netizen mirip dengan gambar bunga yang terdapat uang nominal Rp2.000 Tahun Emisi 2022.
"Guyss hati-hati yah kalau bawa uang 2.000 baru," demikian kicauan dari @kdrama_menfess.
Bahkan tidak disebut Rp2.000, bunga anggrek beracun itu disebut sama dengan gambar bunga pada uang kertas Rp1.000. Tapi sejumlah netizen mengungkap gambar bunga pada uang rupiah itu adalah bunga jeumpa asal Aceh.
Bunga jeumpa atau bungong jeumpa adalah bunga khas Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dengan nama Michelia champaca, bunga ini punya nama lain yakni cempaka kuning.
Pohon bunga jeumpa memiliki tinggi 3-6 meter dengan berbagai warna, seperti jingga, kuning, dan putih krem. Bunganya berwarna cokelat, dengan 2-6 biji. Sekitar 4-5 tahun, pohon ini telah menghasilkan bunga.
Melansir situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, orang Aceh menganggap jeumpa sebagai simbol keindahan sehingga kerap menjadi bagian dari kelengkapan upacara tradisi karena keharumannya.
Kuncup jeumpa kerap menjadi hiasan kepala pengantin. Namun, seiring perubahan masa, bunga ini sulit ditemukan hingga kemudian digantikan dengan kuncup melati.
Tak hanya sebagai hiasan kepala, bunga jeumpa juga ditaruh dalam mangkuk berisi air dalam mundam di upacara manoe pucok, tradisi memandikan mempelai perempuan sebelum hari ijab kabul.
Baca Juga: 14 Tragedi Terbesar di Stadion Sepak Bola dalam 40 Tahun Terakhir
Khusus di Aceh Selatan, jeumpa dipakai sebagai bahan campuran wewangian untuk proses mandi balimau sebelum menyambut Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha. Tradisi tersebut telah ada bahkan sebelum mengenal shampoo.
Campuran jeruk limau dan kelopak jeumpa yang telah mekar dipakai untuk keramas dalam tradisi mandi balimau, prosesi mandi wajib untuk membersihkan diri.
Bunga jeumpa juga menjadi campuran wewangian air pada tradisi ziarah. Masyarakat akan menyiram makam sebanyak tiga kali dengan menggunakan campuran bunga-bunga harum, seperti jeumpa, mawar, melati, dan sebagainya.
Konon, ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Jeumpa di Aceh, tepatnya di wilayah administratif Kabupaten Bireuen. Kerajaan pada abad ke-8 Masehi yang wilayah kekuasaannya berada di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai ke timur dari Pante Krueng Peusangan.
Bungong Jeumpa juga muncul dalam lagu, tarian, dan bahkan kerajinan songket sebagai motif. Bunga ini juga digunakan sebagai ornamen rumah dan gedung, serta tugu-tugu dengan motif jeumpa.