Indotnesia - Gubernur Bali Wayan Koster memberikan instruksi terkait perayaan Tumpek Krulut. Menurutnya, pada Hari Suci itu masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan sosial.
Arahan tersebut tertuang dalam Instruksi Gubernur Bali No 2 Tahun 2023 Tentang Perayaan Rahina Tumpek Krulut sebagai implementasi SE Gubernur Bali No 04 Tahun 2022.
"Perayaan Rahina Tumpek Krulut secara sekala (duniawi) dilakukan dengan berbagai aktivitas sosial dan kemanusiaan," kata Koster pada, Jumat (17/2/2023) seperti dikutip dari Antara.
"Dapat juga dilakukan dengan saling memberikan ucapan kasih sayang lewat berbagai media sosial atau saling memberi bunga, souvenir dengan kasih sayang antara anak dengan orang tua, guru dengan murid, atau sesama teman, sahabat, atau pasangan hidup," lanjutnya.
Sering diibaratkan sebagai Hari Valentine versi Bali, tetapi sebenarnya apa itu yang dimaksud Tumpek Krulut?
Tumpek Krulut dapat dibilang sebagai Hari Kasih Sayang masyarakat Bali.
Melansir laman Info Statistik Denpasar, Tumpek Krulut berasal dari bahasa Bali 'lutut' yang memiliki arti tresna asih atau cinta kasih, senang, atau gembira.
Sama halnya dengan memainkan gamelan yang mengalun dan membuat orang lain gembira, Tumpek Krulut juga bisa dimaknai serupa yaitu untuk menumbuhkan rasa cinta kasih kepada sesama.
Tumpek Krulut merupakan tumpek keempat dalam perhitungan kalender Bali.
Baca Juga: Raih Rating Tinggi di Episode Perdana, Berikut Para Pemain dan Sinopsis Taxi Driver 2
Dalam perayaan Hari Suci ini, masyarakat Bali memuja Dewa Iswara atau Kawiswara. Biasanya dirayakan dengan Upacara Penyucian (otonan) Sarea Tetangguran (gamelan/alat musik), Pagelaran Tari Legong Kuntul, Tari Barong, dan sebagainya.
Hari ini, Saniscara Kliwon Krulut atau 18 Februari 2023 bertepatan dengan Hari Suci Tumpek Krulut.