Pengamat sepak bola Tommy Welly menilai isu renovasi Jakarta International Stadium (JIS) semakin hilang objektivitasnya untuk sepak bola karena lebih bernuansa politik.
Namun ia tidak membantah dalam persepakbolaan nuansa politik itu tetap ada terutama ketika pergantian pimpinan federasi sepak bola Indonesia, PSSI.
"Kalau bicara federasi pun selalu aromanya politik. Pergantian kekuasaan pimpinan gado-gado campur aduk politiknya, juga kental ketoprak politiknya," kata Tommy dikutip Liberte Suara, Jumat (14/7/2023).
Bung Towel, sapaan akrab Tommy, meyakini permasalahan JIS sederhana jika PSSI serius. Federasi tinggal fokus pada objektif seperti komunikasi dalam memperoleh status stadion untuk venue Piala Dunia U-17.
"Tinggal dirapikan aja. Kalau kita fokusnya objektif ngomong bola sebetulnya gestur komunikasinya simpel aja," ungkapnya.
"Ketika GBK-nya bentrok (tidak bisa dipakai) karena ada Coldplay dan dinyatakan JIS sebagai alternatif opsi untuk di kawasan Jakarta, Jabodetabek, menurut saya sih cuma tinggal komunikasinya ya," tuturnya, menambahkan.
Ia menekankan PSSI bisa memainkan peran lebih sungguh-sungguh menjadikan JIS sebagai stadion venue Piala Dunia U-17.
Caranya tinggal PSSI memasukkan JIS dalam daftar enam atau delapan stadion yang diajukan kepada FIFA untuk diverifikasi.
"Wah itu pasti dapat sambutan publik," tegasnya.
Baca Juga: Kasus Dugaan Penyebaran Hoaks Putusan MK Soal Pemilu Naik Status, Relawan Ganjar Minta SBY Diperiksa
Malah jangan, ujarnya, memainkan JIS sebagai bahan untuk politik apalagi menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2024.
"Jangan berbondong-bondong terus bicara rumput yang tadinya akses, bisa rumput ya itu spektrum politiknya makin tinggi," pungkas Bung Towel.