Kelompok Relawan Pendukung Ganjar Pranowo, Kongres Rakyat Nasional Ganjar Republik Indonesia Satu (KORNAS GARIS) memuji sosok Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Presidium KORNAS GARIS, Sutrisno Pangaribuan mengungkapkan hal tersebut karena menurutnya sosok Megawati sudah melalui jalan panjang dalam sejarah perpolitikan di Indonesia.
Menurut Sutrisno, Megawati yang sekarang terbentuk melalui proses tertawa dan menangis bersama rakyat.
“Megawati Soekarnoputri (Mega), putri Sang Proklamator menjadi saksi, korban, sekaligus sutradara, dan aktor sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Mega, memikul beban sejarah yang pahit, pernah ‘tidak dapat melanjutkan kuliah’ padahal beliau anak presiden pertama. Namun, Mega tidak pernah dendam, meskipun para elit mengarahkan telunjuk kepadanya dengan berbagai tuduhan. Mega menunjukkan cinta kasih yang tak terbatas kepada bangsa ini, sebagaimana ditunjukkan bapaknya, Putra Sang Fajar,” jelas Sutrisno dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu (7/9/23).
“Pengalaman sejarah Mega, membuatnya matang dalam memahami denyut nadi bangsa ini. Mega menunjukkan kemauan dan kemampuan ‘live in’ dengan rakyat. Ekspresi Mega lahir dari pengalaman ‘menangis dan tertawa bersama rakyat’. Pengenalan atas kehendak rakyatlah kemudian yang mendorong Mega secara yakin menandatangani rekomendasi kepada Jokowi dan Ganjar Pranowo, baik sebagai calon kepala daerah, maupun sebagai calon presiden,” tambahnya.
Sutrisno juga mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia harus berterima kasih kepada Megawati.
Hal itu karena meenurut Sutrisno, Megawati telah “melahirkan” dua pemimpin hebat dalam menjalankan tugas yakni Jokowi dan Ganjar Pranowo.
“Warga Jawa Tengah (termasuk Solo) pun menyambut baik "rekomendasi Mega". Pilkada periode pertama Jokowi sebagai walikota Solo disambut 36,62% suara warga, dan periode kedua 90,09% suara. Ganjar Pranowo disambut 48,82% di periode pertama dan periode kedua 58,78%. Pada Pilpres 2014, Jokowi dipilih 66,65% suara, dan Pilpres 2019 dipilih 77,29% suara di Jawa Tengah. Bahkan kemenangan Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2012, dalam dua putaran, tidak terlepas dari peran ‘Warga Jawa Tengah’,” ungkapnya.
“Berdasarkan fakta sejarah tersebut, bangsa ini harus berterimakasih kepada Mega dan Warga Jawa Tengah. Tanpa direkomendasi Mega, keduanya tidak akan pernah maju dalam pilkada di Jawa Tengah. Tanpa rakyat Jawa Tengah yang bersedia memilih dan memenangkan Jokowi dan Ganjar Pranowo di Pilkada, maka bangsa ini juga tidak akan pernah mengenali keduanya sebagai kepala daerah yang memberi harapan baru,” tambahnya.
Menurut Sutrisno, pilihan Mega dan pilihan warga Jawa Tengah menyatu dalam diri Jokowi dan Ganjar Pranowo, sehingga bangsa ini memiliki kesempatan untuk mendapatkan pemimpin berkualitas.
Sutrisno menilai Kedua "Wong Jateng" itu kini telah dan akan menjadi milik Indonesia.
“Keduanya diterima sebagai pemimpin yang diyakini membuat Indonesia lebih baik, menuju Indonesia maju,” jelasnya.