Suara.com - Es gabus atau es kue jadul biasanya sering dijual di area sekolah, taman bermain, atau taman kota oleh pedagang kaki lima dengan harga terjangkau dan warna khas mirip pelangi yang berjejer rapi.
Sayangnya, jajanan jadul yang menyegarkan tersebut menjadi bahan perbincangan publik pasca beredarnya video menyajikan tindakan berlebihan dari oknum anggota Bhabinkamtibmas serta Babinsa wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat.
Dalam video tersebut tampak seorang pria lanjut usia yang diketahui sebagai penjual es gabus bernama Sudrajat, tengah diinterogasi dengan sangat keras hingga mendapat perlakuan kasar.
Saat itu, Sudrajat mendapat tuduhan menyakitkan. Es gabus yang biasanya dijual, disebut mempunyai kandungan bahan berbahaya bagi tubuh.
Selain tuduhan, perlakuan kasar pun sempat diterima oleh pria usia 50 tahun ke atas itu.
Kronologi Penjual Es Gabus Dituding Memakai Bahan Berbahaya

Pada video yang tengah viral terlihat dua aparat tengah melakukan intimidasi keras pada diri Sudrajat.
"Tahu kan kamu ini dari busa kan? Kenapa kamu jual?" ucap petugas dengan nada keras dalam video viral.
Aparat tersebut masih memojokkan Sudrajat dengan pertanyaan-pertanyaan menuduh dan menyalahkan.
"Ini kalau dimakan sama anak kecil ini bikin penyakit," kata aparat.
Baca Juga: Fitnah Jadi Berkah, Sudrajat Penjual Es Gabus Dihadiahi Umrah
Bukan sekedar mendapatkan cacian maupun tuduhan tapi juga perlakuan kasar. Contohnya seperti dipukul, ditendang, wajah dilempar es gabus dan lain-lain.
"Terus es kue saya dilempar di muka saya. Saya ditendang apa, semua, dikepret, ditonjok sama polisi," ujarnya.
Untungnya, tuduhan petugas tidak benar. Setelah secara resmi keluar hasil uji laboratorium yang menyatakan bahwa es kue warna-warni tersebut tidak mengandung bahan berbahaya, sehingga aman untuk anak-anak maupun dewasa.
Setelah resmi rilis hasil uji lab yang menyatakan bahwa tidak ada bahan berbahaya pada es gabus, maka pihak anggota Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa, Aiptu Ikhwan Mulyadi memohon maaf di hadapan awak media.
"Kami, Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang bertugas membuat video tentang penjual es spons di wilayah Kemayoran menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul akibat video yang sempat beredar luas di media sosial," ungkapnya dalam video pada akun resmi @polresmetrojakartapusat, Selasa (27/1/2026).
Terlepas dari permasalahan tersebut, publik terutama yang belum pernah merasakan es gabus akan bertanya-tanya terkait tekstur berpori mirip spons. Simak penjelasan singkat berikut ini.
Mengapa Tekstur Es Gabus atau Es Kue Bisa Berpori Seperti Spons?
Es jadul warna-warni seperti pelangi mendadak viral gegara ada oknum petugas keamanan dan ketertiban masyarakat menuduh pihak penjual, dalam proses pembuatannya menggunakan bahan berbahaya bagi kesehatan, karena teksturnya berpori mirip spons.
Padahal, setelah adanya tindakan uji laboratorium oleh pihak berwenang. Ternyata semua bahan es kue masuk kategori aman, bahkan anak-anak tetap bisa mengkonsumsinya.
Tekstur berpori yang ditemukan pada es kue warna-warni, bukanlah hal berbahaya, termasuk wajar. Bahkan pihak BPOM ikut buka suara terkait hal tersebut.
Berdasarkan penelusuran dari akun Instagram resmi @bpom.jakarta pada, Rabu (28/1/2026), Es kue jadul atau es gabus merupakan jajanan tradisional berbasis tepung dan santan yang dibekukan, mempunyai tekstur empuk, berserat, kenyal. Saat digigit mirip gabus dan spon.
Selanjutnya pihak BPOM juga memberikan penjelasan runut berkaitan dengan proses pengolahan dan interaksi masing-masing bahan.
Langkah pertama tepung hunkwe atau pati kacang hijau dan santan dimasak melalui proses pemanasan.
Langkah selanjutnya, saat dua bahan tersebut direbus bersamaan. Maka akan terjadi proses gelatinisasi pati yang berupa molekul pati otomatis menyerap air, mengambang dan membentuk gel. Setelah itu tekstur adonan jadi kental.
Adonan kental tersebut nantinya akan diletakkan pada suatu wadah lalu dimasukkan dalam freezer untuk mengalami proses pembekuan
Saat proses terakhir tersebut terjadilah retrogradasi atau disebut sebagai rekristalisasi pati. Yang mana identik dengan struktur khas kenyal dan berpori halus, mirip gabus atau spons saat dikonsumsi.
Kontributor : Damayanti Kahyangan