- Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menuai kritik luas akibat lirik lagu ciptaannya yang dinilai merendahkan martabat perempuan.
- Anggota DPR RI Atalia Praratya meminta lagu tersebut ditarik karena dianggap memperkuat stigma negatif terhadap kaum perempuan.
- Om Zein telah menyampaikan permintaan maaf dan mengklarifikasi bahwa lagu itu merupakan refleksi pribadi dari masa lalunya.
Suara.com - Lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejad" karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein tengah menjadi sorotan publik. Lagu tersebut viral di media sosial setelah liriknya dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan dan dianggap merendahkan martabat wanita.
Kontroversi pun bermunculan. Sejumlah tokoh, termasuk Atalia Praratya, menyampaikan kritik keras terhadap isi lagu tersebut. Di sisi lain, Om Zein telah menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan bahwa lagu itu merupakan refleksi pribadinya yang ditulis jauh sebelum menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Lantas, apa sebenarnya arti lagu Lalaki Langit?
Arti Lagu Lalaki Langit Ciptaan Om Zein
Secara harfiah, frasa "Lalaki Langit" berarti "laki-laki langit", sedangkan "Lalanang Bejad" dapat dimaknai sebagai "laki-laki bejat" atau laki-laki yang memiliki perilaku buruk.
Lagu ini dibuka dengan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena sang penulis dilahirkan sebagai laki-laki.
"Nuhun Gusti, tos nyiptakeun kuring jadi lalaki"
Terima kasih Tuhan, sudah menciptakan aku menjadi laki-laki.
tersebut kemudian diikuti sejumlah pengandaian mengenai kehidupan apabila dirinya terlahir sebagai perempuan.
Pada bait pertama, terdapat lirik:
"Cacak mun jadi awewe, ES-Em-Pe kelas tilu, tos karuron tujuh kali."
Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga, sudah keguguran tujuh kali.
Lirik ini menggambarkan situasi ekstrem mengenai kehamilan di usia sekolah hingga mengalami keguguran berulang.
Banyak pihak menilai penggambaran tersebut menyudutkan perempuan karena seolah mengaitkan identitas perempuan dengan persoalan kehamilan di luar nikah.
"Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu."
Tidak perlu membeli bra yang busanya lebih besar daripada payudara.
Lirik tersebut menyindir penggunaan bra berbusa atau push-up bra. Kritik muncul karena bagian ini dianggap menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan candaan.
"Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan."
Tidak perlu mondar-mandir ke apotek karena telat datang bulan.
Lirik ini dipahami sebagai gambaran perempuan yang panik ketika mengalami keterlambatan menstruasi karena khawatir hamil. Lagi-lagi, penggambaran tersebut dinilai memperkuat stereotip negatif terhadap perempuan.
Pada bagian lain, lagu juga menyinggung kebiasaan berdandan.
"Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata, sakalina ngiceup hese beunta."
Tidak perlu melukis alis dan bulu mata, sekali berkedip susah membuka mata.
Bagian ini menyindir penggunaan riasan wajah, terutama alis dan bulu mata palsu, yang dianggap berlebihan.
Lagu kemudian ditutup dengan kalimat:
"Lalaki langit, lalanang bejad."
Kalimat penutup ini ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa meski bersyukur menjadi laki-laki, sang tokoh dalam lagu juga mengakui dirinya pernah menjadi laki-laki yang "bejat" atau nakal.
Atalia Praratya Minta Lagu Ditarik
Kontroversi lagu ini mendapat respons dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya yang mengkritik keras lagu tersebut karena tidak menemukan sisi positif dari segi manapun.
Atalia meminta Om Zein menarik lagu tersebut dari ruang publik karena dinilai berpotensi memperkuat stigma negatif terhadap perempuan dan melukai banyak pihak. Menurutnya, karya seni tetap perlu mempertimbangkan dampak sosial, terlebih ketika penciptanya merupakan seorang kepala daerah.
Selain kritik dari Atalia, sejumlah pegiat perempuan dan organisasi masyarakat sipil juga menyuarakan keberatan terhadap isi lagu tersebut karena dianggap bertentangan dengan semangat kesetaraan gender.
Om Zein Sampaikan Permintaan Maaf
Menanggapi polemik yang berkembang, Om Zein menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.
"Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (2/7/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa lagu tersebut bukan dibuat saat dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
"Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal," kata Om Zein.
Menurut Om Zein, lagu tersebut merupakan bentuk refleksi pribadi atas masa lalunya dan tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi atau merendahkan perempuan. Meski demikian, kontroversi terus bergulir karena banyak pihak menilai makna yang diterima publik berbeda dengan niat awal sang pencipta.