- Sebanyak 312 peserta mengikuti Asia Youth International Model United Nations Cibubur Chapter 2026 di Trans Hotel Jakarta pada 26–27 September 2026.
- Para peserta dari 165 sekolah dan universitas tersebut melakukan simulasi sidang diplomasi untuk membahas isu kemiskinan dan kecerdasan buatan.
- Kegiatan yang dibuka oleh Sriyadi dan Presiden IGN Muhammad Fahrizal ini bertujuan melatih generasi muda memahami perspektif berbeda.
Suara.com - Masa depan tidak akan diisi oleh orang-orang yang selalu memiliki pandangan yang sama. Dunia nantinya akan mempertemukan generasi muda dengan perbedaan, mulai dari cara berpikir, latar belakang, budaya, hingga kepentingan yang dibawa masing-masing orang.
Untuk itulah, kemampuan untuk memahami perspektif yang berbeda menjadi salah satu bekal penting yang perlu dimiliki generasi muda saat ini.
Bukan berarti harus selalu menyetujui pendapat orang lain, melainkan mampu mendengarkan, memahami alasan di balik sebuah pandangan, lalu mencari titik temu ketika menghadapi perbedaan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran yang dibawa dalam Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Cibubur Chapter 2026 yang berlangsung pada 26-27 September 2026 di Trans Hotel Jakarta.
Sebanyak 312 peserta dari 165 sekolah dan universitas mengikuti simulasi sidang diplomasi yang mempertemukan anak muda dari berbagai daerah.
Dalam forum tersebut, mereka tidak hanya diminta menyampaikan pendapat, tetapi juga berhadapan dengan perspektif yang mungkin berbeda dari pemikiran mereka sendiri.
Presiden International Global Network (IGN), Muhammad Fahrizal, mengatakan pengalaman seperti itu penting karena kemampuan yang dibutuhkan generasi muda tidak berhenti pada pencapaian akademik.
“Selama konferensi ini, kalian tidak hanya akan mewakili sebuah negara. Kalian akan belajar memahami perspektif yang mungkin berbeda dari perspektif kalian sendiri,” ujar Fahrizal dalam pidato pembukaan.
Peserta juga diajak melakukan riset mengenai persoalan global, mempertahankan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain, bernegosiasi hingga bekerja sama mencari solusi.
Proses tersebut membuat sebuah perbedaan pendapat tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dimenangkan, tetapi sebagai bagian dari proses memahami persoalan secara lebih luas.
Menurut Fahrizal, keterampilan tersebut pada akhirnya bukan hanya berguna dalam forum Model United Nations (MUN), tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
“Ini bukan hanya keterampilan dalam MUN. Ini adalah keterampilan hidup,” katanya.
Dalam AYIMUN Cibubur Chapter, peserta membahas isu yang cukup dekat dengan tantangan masa depan. Dua di antaranya adalah persoalan kemiskinan antargenerasi melalui dewan Economic and Social Council (ECOSOC) serta dampak integrasi kecerdasan buatan terhadap dunia kerja melalui International Labour Organisation (ILO).
Dari persoalan tersebut, peserta belajar bahwa satu masalah dapat memiliki banyak sisi. Kemiskinan, misalnya, tidak hanya berbicara mengenai kondisi ekonomi seseorang, tetapi juga dapat berkaitan dengan akses pendidikan, kesempatan kerja, kebijakan, dan kondisi sosial.
Begitu pula perkembangan kecerdasan buatan yang tidak hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab dan masa depan tenaga kerja.
Pembelajaran untuk melihat persoalan dari berbagai sisi juga sejalan dengan pesan Sriyadi, S.Pd., M.M., Kasi SMP/SMA Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Timur yang membuka kegiatan tersebut.
“Gunakan forum ini untuk berani bersuara dan berani berbeda pendapat. Latih kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, berdiplomasi dan kepemimpinan,” ujarnya.
Kemampuan berbeda pendapat dengan tetap menghargai orang lain menjadi semakin penting ketika generasi muda nantinya memasuki ruang yang lebih luas.
Mereka akan bekerja bersama orang dengan latar belakang berbeda, mengambil keputusan yang berdampak pada banyak pihak, dan menghadapi persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana.
Dalam konteks yang lebih besar, kemampuan tersebut juga dapat menjadi bagian dari cara generasi muda memandang masa depan Indonesia.
Negara tidak hanya membutuhkan anak muda yang mampu menghasilkan gagasan, tetapi juga mereka yang mau mendengar sebelum mengambil keputusan dan memahami persoalan dari lebih dari satu sudut pandang.
Seperti pesan Fahrizal kepada para peserta, dunia membutuhkan generasi muda yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi dengan jelas, bekerja sama, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Sebab, membangun masa depan yang lebih setara bukan hanya tentang keberanian untuk berbicara. Ada bagian lain yang tak kalah penting, yaitu kesediaan untuk mendengarkan dan memahami mereka yang melihat dunia dengan cara berbeda.