Dedak Padi Berpotensi Jadi Kemasan Makanan Antibakteri yang Mudah Terurai, Bagaimana Caranya?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:05 WIB
Dedak Padi Berpotensi Jadi Kemasan Makanan Antibakteri yang Mudah Terurai, Bagaimana Caranya?
Gambar dekat tanaman padi yang matang siap panen di ladang hijau yang diterangi sinar matahari. (dok. Pexels/Quang Nguyen Vinh)

Suara.com - Biasanya dedak padi menjadi bahan pakan ternak, seperti ransum ayam, bebek, sapi, dan kambing, karena kaya nutrisi dan mudah dijumpai. Namun, ternyata produk sampingan pengolahan beras tersebut berpotensi memiliki nilai guna baru sebagai bahan kemasan makanan yang mudah terurai secara alami.

Melansir penelitian dari Arkansas Agricultural Experiment Station yang mengembangkan film berbasis dedak padi dengan mengunggulkan biodegradeable dan memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui penelitian yang diketuai oleh Mahfuzur Rahman bersama tim ilmuwan lintasdisiplin. 

Dengan dukungan pendanaan dari Arkansas Biosciences Institute, mereka menelisir potensi dedak padi dan proteinnya sebagai material untuk membuat film kemasan makanan.

Melihat dedak padi yang melimpah sebagai produk sampingan pertanian yang masih belum cukup dimanfaatkan secara maksimal. Dari pada hanya menjadi hasil samping dari pengolahan beras, material tersebut diteliti agar menghasilkan fungsi baru sebagai bahan kemasan.

Rahman menjelaskan, timnya mengaplikasikan teknologi plasma dingin berbahan argon untuk meningkatkan sifat film yang terbuat dari dedak padi.

"Ide ini sebenarnya berasal dari industri mikrochip. Mereka mengunakan plasma untuk proses yang disebut etsa untuk merakit lapisan semikonduktor, dan kami mentransfer ide itu ke film dedak padi," jelas Rahman dikutip dalam laman Phys, Jumat (25/9).

Melalui penelitian tersebut, tim peneliti mencoba membandingkan film yang dibuat dari dedak padi dengan film berbasis protein dedak padi. Kedua material tersebut diberi perlakukan plasma untuk memperlihatkan perubahan sifat fisik dan kimianya.

Ditemukan bahwa film protein dedak padi memberikan respons yang lebih baik terhadap perlakuan plasma. 

baca juga

Permukaan film tersebut menjadi lebih kasar dengan terbentuknya struktur mikroskopis. Bahkan plasma meningkatkan kadar kekasaran permukaannya menjadi 3,3 kali lipat.

Perubahan tersebut kemudian memberikan sumbangsih terhadp kemampuan film dalam menghambat pertumbuhan bakteri. 

Peneliti juga menemukan fakta bahwa film yang telah diberi perlakuan plasma mampu menghambat sejumlah patogen penyebab penyakit bawaan makanan, termasuk Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa.

Rahman menerangkan perlakuan plasma dapat menghambat bakteri malelui dua cara. 

Plasma menghasilkan struktur mikroskopis pada permukaan film sekaligus memantik reaksi kimia yang memproduksi hidrogen peroksida. Senyawa tersebut diyakini memiliki sifat antimikroba.

Setelah bakteri terpapar film dedek padi yang telah diberi perlakuan plasma, jumlah bakteri dari berbagai patogen tersebut menurun dalam waktu delapan jam. 

Pertumbuhan bakteri pun juga mengalami hambatan hingga 24 jam setelah diaplikasikan. Sebaliknya, film dedek padi tanpa perlakuan plasma menunjukkan pertumbuhan bakteri jadi lebih signifikan.

Temuan tersebut membuktikan bahwa perlakuan plasma bisa memberikan fungsi tambahan pada material berbasis dedek padi.

Tak hanya fokus pada pengujian kemampuan antimikroba, mereka juga melihat perubahan yang terjadi pada sejumlah karakteristik film. 

Beberapa aspek yang dikaji meliputi kemampuan menghambat transmisi uap air, kekuatan tarik, serta stabilitas termal.

Penelitian tersebut memandang kemampuan antibakteri film kemungkinan hadir dari perpaduan sejumlah perubahan yang terjadi setelah perlakuan plasma. 

Di antaranya keberadaan spesies reaktif, perubahan kemampuan permukaan dalam berinteraksi dengan air, peningkatan kekasaran, hingga perubahan kimia pada permukaan film.

Pengembangan material ini menjadi menarik dari sisi keberlanjutan. Sebab, menggunakan produk sampingan pertanian sebagai bahan baku. 

Dedak padi yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diberi nilai tambah dan dikembangkan menjadi material dengan fungsi lebih terpesonalisasi.

Rahman menyebutkan bahwa teknologi plasma dingin argon bisa membantu pendekatan jadi lebih ramah lingkungan untuk mengubah produk sampingan pengolahan beras menjadi material fungsional.

Di samping itu, inovasi tersebut juga berhubungan erat dengan pengembangan kemasan antimikroba. 

Rahman menilai material kemasan antimikroba konvensional kerap kali menggunakan bahan tambahan seperti nanopartikel atau antibiotik untuk menghambat pertumbuhan mikroba.

Penggunaan bahan tambahan tersebutlah yang menimbulkan keprihatinan terhadap kesehatan manusia. Karena, ada kemungkinan material akan berpindah tempat dari kemasan ke makanan dan kemudian masuk ke dalam tubuh.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lewat ISF 2026, Unilever Indonesia Soroti Pentingnya Inovasi Kemasan yang Berdampak

Lewat ISF 2026, Unilever Indonesia Soroti Pentingnya Inovasi Kemasan yang Berdampak

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 14:29 WIB

Mencetak Tak Lagi Cuma di Kertas, Tapi Juga Kemasan Estetik hingga Fashion Kustom

Mencetak Tak Lagi Cuma di Kertas, Tapi Juga Kemasan Estetik hingga Fashion Kustom

Lifestyle | Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:51 WIB

Secangkir Kopi Pagi Hari Tanpa Scroll: Jeda Kecil yang Sering Kita Lewatkan

Secangkir Kopi Pagi Hari Tanpa Scroll: Jeda Kecil yang Sering Kita Lewatkan

Your Say | Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Terkini

Dedak Padi Berpotensi Jadi Kemasan Makanan Antibakteri yang Mudah Terurai, Bagaimana Caranya?

Dedak Padi Berpotensi Jadi Kemasan Makanan Antibakteri yang Mudah Terurai, Bagaimana Caranya?

Lifestyle | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:05 WIB

Ini yang Dilakukan Ferli Hidayat Saat Tragedi Kanjuruhan: Dulu Dicopot Sekarang Jadi Petinggi Polri

Ini yang Dilakukan Ferli Hidayat Saat Tragedi Kanjuruhan: Dulu Dicopot Sekarang Jadi Petinggi Polri

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:03 WIB

Jejak Hitam Ferli Hidayat: Dulu Dicopot akibat Tragedi Kanjuruhan, Kini Duduki Kursi Elite Polri

Jejak Hitam Ferli Hidayat: Dulu Dicopot akibat Tragedi Kanjuruhan, Kini Duduki Kursi Elite Polri

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:02 WIB

60 Kepala Daerah Berebut Kawasan Transmigrasi, Siapa Diprioritaskan?

60 Kepala Daerah Berebut Kawasan Transmigrasi, Siapa Diprioritaskan?

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:01 WIB

Banding Ditolak, 2 Terdakwa Kasus DJKA Medan Tetap Dihukum 4 dan 5 Tahun Penjara

Banding Ditolak, 2 Terdakwa Kasus DJKA Medan Tetap Dihukum 4 dan 5 Tahun Penjara

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:00 WIB

Edan! Ayah di Asahan Rudapaksa Putri Kandung hingga Hamil

Edan! Ayah di Asahan Rudapaksa Putri Kandung hingga Hamil

Sumut | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 12:57 WIB

Campuran Viva Air Mawar dan Masker Bengkoang untuk Flek Hitam, Begini Caranya

Campuran Viva Air Mawar dan Masker Bengkoang untuk Flek Hitam, Begini Caranya

Lifestyle | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 12:56 WIB

Sudah dari 2025, DPRD Sebut Pramono Anung Lamban Bertindak Soal Pungutan Paksa PMI

Sudah dari 2025, DPRD Sebut Pramono Anung Lamban Bertindak Soal Pungutan Paksa PMI

News | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 12:53 WIB

Valuasi OKX Tembus US$25 Miliar, Circle hingga Standard Chartered Ikut Tanam Modal

Valuasi OKX Tembus US$25 Miliar, Circle hingga Standard Chartered Ikut Tanam Modal

Bisnis | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 12:52 WIB

Ragamu Bukan Mesin: Seni Melambat di Dunia yang Terlalu Cepat

Ragamu Bukan Mesin: Seni Melambat di Dunia yang Terlalu Cepat

Your Say | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 12:52 WIB

×