- Artis Bunga Citra Lestari memilih fokus mempertahankan kesehatan kulit di usia 40-an tanpa berniat mengubah wajahnya.
- BCL sempat khawatir terhadap prosedur injeksi, tetapi merasa yakin setelah berkonsultasi dengan dokter dan mencoba produk Vitaran.
- Dr. Tan Yuanita menyatakan bahwa pemilihan bahan aktif berbasis Polynucleotide harus disesuaikan dengan protokol dan kondisi pasien di Jakarta.
Suara.com - Bunga Citra Lestari (BCL) punya cara tersendiri dalam menjaga penampilan setelah memasuki usia 40-an. Alih-alih berusaha mengubah wajah agar terlihat jauh lebih muda, penyanyi sekaligus aktris ini memilih fokus mempertahankan kondisi kulit agar tetap sehat dan terlihat segar.
Keputusan tersebut juga membuat BCL cukup selektif dalam memilih perawatan kecantikan. Terlebih ketika perawatan yang dilakukan melibatkan injeksi, prosedur yang sejak awal diakuinya cukup membuat khawatir.
Sebelum menerima tawaran menjadi brand ambassador Vitaran, BCL mengaku membutuhkan proses yang cukup panjang. Ia terlebih dahulu berdiskusi dan berkonsultasi dengan dokter untuk memahami perawatan tersebut, termasuk dampaknya terhadap kulit di usianya saat ini.
“Setelah ngobrol panjang, diyakinkan dan aku juga ketemu dengan dokter. Aku tanya seperti apa kira-kira Vitaran ini dan impact-nya seperti apa ke kulit aku dan umur aku juga,” ujar BCL.
Kekhawatiran terhadap rasa sakit akibat injeksi sempat menjadi salah satu pertimbangannya. Namun, pengalaman pertama justru membuat perempuan kelahiran 22 Maret 1983 itu merasa lebih yakin.
“Aku kan deg-degan kalau suntikan-suntikan seperti itu sakit. Tapi ternyata begitu aku coba, ini enggak sakit. Jadi itu yang paling meyakinkan aku, usahanya enggak sakit dan impact-nya juga,” tuturnya.
Bagi BCL, keputusan melakukan perawatan kulit bukan semata-mata karena dirinya bekerja di industri hiburan dan dituntut selalu tampil di depan publik. Perawatan tersebut lebih merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Menurutnya, kebutuhan kulit akan berubah seiring bertambahnya usia. Karena itu, perawatan yang dipilih pun harus disesuaikan dengan kondisi kulit dan fase kehidupan yang sedang dijalani.
“Bagaimanapun juga aku bukan remaja lagi, kebutuhan kulitku tentunya berbeda. Semakin berumur, semakin ada kebutuhan-kebutuhan lagi untuk aku. Bukan karena aku seorang entertainer, tapi lebih karena aku like to take care of myself,” kata BCL.
Ia pun menegaskan tidak memiliki keinginan untuk mengubah karakter wajahnya. BCL justru ingin tetap mempertahankan apa yang sudah dimiliki sambil menjaga agar kondisi kulitnya tetap terlihat baik.
“Aku bersyukur dengan apa yang aku punya, tapi tidak ada salahnya kalau memang kita bisa maintain. Kalau kita tetap bisa membuat ini bertahan dan lebih baik lagi,” ujarnya.
Perawatan Kulit dan Perkembangan Polynucleotide

Cara pandang BCL tersebut sejalan dengan perkembangan perawatan estetika yang kini semakin menekankan kualitas dan kondisi kulit, salah satunya melalui perawatan berbasis Polynucleotide (PN).
Dalam dunia estetika, PN digunakan dalam pendekatan perawatan yang ditujukan untuk mendukung regenerasi jaringan dan membantu meningkatkan kualitas kulit. Vitaran merupakan salah satu produk perawatan estetika berbasis PN yang berasal dari Salmon Trout DNA.
Namun, perkembangan perawatan berbasis PN tidak hanya berbicara mengenai bahan aktif. Dokter juga perlu mempertimbangkan protokol, teknik aplikasi, hingga kemungkinan mengombinasikannya dengan treatment lain sesuai kebutuhan pasien.
Hal tersebut menjadi pembahasan Dr. Tan Yuanita, AIFO-K, dari Dermapro Klinik, dalam sesi “Beyond PN: Mastering Protocol, Technique and Combination Therapy with Vitaran” di Vitaran Aesthetic Summit 3.0, Jakarta.
Menurut Dr. Tan, kondisi setiap pasien berbeda sehingga pemilihan perawatan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama.
“Dalam praktik estetika, pemilihan bahan aktif saja tidak cukup. Dokter juga perlu memahami protokol, teknik aplikasi, dan bagaimana suatu treatment dapat dikombinasikan sesuai kebutuhan pasien,” ujar Dr. Tan.
Karena itu, evaluasi terhadap kondisi kulit menjadi bagian penting sebelum menentukan perawatan. Begitu pula dengan combination therapy yang membutuhkan pertimbangan mengenai indikasi, keamanan, kondisi kulit, serta tujuan yang ingin dicapai.
Prinsip tersebut pada akhirnya kembali pada cara BCL memandang perubahan dirinya di usia 40-an. Ia tidak ingin menjadikan perawatan sebagai cara untuk melawan usia, melainkan sebagai bagian dari upaya merawat diri di setiap fase kehidupan.
“Kalau sekarang umurnya 40-an, aku ingin jadi the best version of me in my forties. Jadi enggak berusaha untuk kelihatan jauh lebih muda, tapi bagaimana cara aku maintain, aku punya kulit yang sehat dan bagus di usia ini,” ungkapnya.
BCL percaya, bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti merawat diri. Justru, perawatan dilakukan agar seseorang bisa tetap merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
“Enggak apa-apa kita aging gracefully. Tapi bukan berarti tidak merawat. Jadi kita menjadi yang terbaik, bukan berarti kita enggak peduli sama penampilan, tapi bagaimana caranya aging gracefully,” pungkas BCL.