Media sosial tengah ramai dengan berita sebuah sekolah di Pamekasan, Madura, memasang tarif Rp 500 untuk siswa yang mau ke toilet. Berita ini menjadi viral setelah seorang guru menolak kebijakan tersebut dan melakukan protes.
Mohammad Arif, seorang guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 di Pamekasan, Madura, jadi sorotan usai menolak pemberlakuan tarif toilet bagi siswa di tempatnya mengajar.
Dikutip dari akun Instagram @frix.id, pemberlakuan tarif toilet sekolah tersebut diputuskan secara pihak oleh kepala sekolah. Mohammad Arif selaku Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan pun terang-terangan menolak saat rapat berlangsung.
Menurutnya, sekolah MAN 1 Pamekasan adalah milik negara dan semua fasilitas yang ada di sekolah seharusnya memang diperuntukkan bagi siswa.
"Siswa masuk ke kamar mandi harus bayar Rp 500, dalam rapat saya tidak setuju karena MAN 1 adalah milik negara yang semua fasilitas sebesar-besarnya untuk rakyat atau untuk siswa," ujar Arif.
Penolakan Arif membuat dirinya kemudian mendapat perlakuan yang tak mengenakan. Tanpa pemberitahuan, Arif dimutasi ke sekolah swasta. Menurutnya, dirinya dimutasi secara sepihak oleh pihak sekolah.
Berita ini sontak saja menjadi sorotan warganet. Kolom komentar pun dipenuhi dengan dukungan kepada Arif, serta permintaan kepada Kementerain Agama agar melakukan audit terhadap sekolah tersebut.
"Baru kali ini denger toilet sekolah berbayar, sekelas sekolah elit ga gitu-gitu amat," komentar warganet.
"Fix uang toilet masuk kantong kepala sekolah," warganet menduga.
Baca Juga: Matikan Lampu saat Lolly Live TikTok, Mami Eda Diduga Sudah Risih
"Toilet sekolah dah kayak toilet SPBU," timpal yang lain.
"@kemenag_ri tolong diaudit," pinta warganet.