Manado.suara.com - Film "His Only Son" baru-baru ini menciptakan getaran kontroversial di Indonesia setelah Wakil Ketua Komisi VIII Bidang Agama DPR RI, Ace Hasan Syadzily, meminta agar penayangan film ini dihentikan atau dibanned.
Alasannya, film ini dianggap tidak sesuai dengan pemahaman sejarah Nabi Ibrahim versi Islam. Meskipun demikian, film ini telah meraih popularitas tinggi di berbagai negara, termasuk menjadi nomor satu di box office Libanon.
Film "His Only Son" mengisahkan kisah keimanan Nabi Ibrahim yang diuji ketika Tuhan memerintahkan dia untuk mempersembahkan putra tunggalnya, Ishak, di Gunung Moria.
Konflik batin yang dialami Ibrahim, dilema antara taat kepada Tuhan atau kehilangan putra tunggalnya, menjadi fokus utama dalam cerita ini.
Salah satu poin kontroversial yang disoroti oleh Ace Hasan Syadzily adalah penggambaran Nabi Ibrahim dalam film ini. Islam meyakini bahwa Nabi Ibrahim memiliki dua anak, Nabi Ismail dan Nabi Ishak.
Baca Juga: Tak Setuju Fuji Jalin Hubungan dengan Asnawi, Haji Faisal: Saya Inginnya Satu Profesi
Namun, dalam film ini, hanya Nabi Ishak yang diakui sebagai anak Ibrahim, sedangkan Nabi Ismail, yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam sebagai leluhur Nabi Muhammad SAW, tidak diakui.
Ace Hasan Syadzily berpendapat bahwa jika film ini disebarkan secara luas di Indonesia, bisa menimbulkan pemahaman sejarah yang menyesatkan menurut keyakinan agama Islam di Indonesia. Kontroversi seputar film ini menciptakan debat tentang bagaimana sejarah dan agama harus diinterpretasikan dalam media hiburan.
Film "His Only Son" merupakan karya dari Angel Studios yang sebelumnya sukses dengan proyek seperti "The Chosen" dan "The Wingfeather Saga."