Kabar lagu Halo-halo Bandung diduga dijiplak oleh Malaysia menjadi Hello Kuala Lumpur belakangan menyita perhatian publik di media sosial.
Lagu Hello Kuala Lumpur tampak beredar melalui sebuah video animasi yang diunggah di kanal Youtube Lagu Kanak TV. Dalam video tersebut tampak jelas nada dan lirik lagu tersebut bersal dari lagu ciptan Ismail Marzuki, Halo-halo Bandung.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pencipta lagu Halohalo Bandung, tulisan Moots.Suara.com kali ini akan membahas profil Ismail Marzuki.
Profil Ismail Marzuki
Dilansir dari berbagai sumber, nama Ismail Marzuki dikenal sebagai salah satu komponis besar Indonesia. Nama pencipta lagu Halo-halo Bandung ini kini diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Ismail Marzuki lahir dan besar di Jakarta dari keluarga Betawi. Nama sebenarnya adalah Ismail, sedangkan ayahnya bernama Marzuki, sehingga nama lengkapnya menjadi Ismail bin Marzuki.
Namun, banyak orang yang memanggil nama lengkapnya Ismail Marzuki, bahkan di lingkungan teman-temannya kerap dipanggil Mail, Maing, atau Bang Maing.
Pria yang merupakan komponis ini dilahirkan di Kampung Kwitang, tepatnya di kecamatan Senen, wilayah Jakarta Pusat, pada tanggal 11 Mei 1914.
Tiga bulan setelah Ismail Marzuki dilahirkan, ibunya meninggal dunia. Sebelumnya, ia juga telah kehilangan dua orang kakaknya bernama Yusuf dan Yakup yang telah mendahului saat dilahirkan.
Baca Juga: Breaking News! Geger Lagu Halo-Halo Bandung Dijiplak Malaysia, Diubah Jadi Hello Kuala Lumpur
Ismail Marzuki kemudian tinggal bersama ayah dan seorang kakaknya yang masih hidup bernama Hamidah, yang umurnya lebih tua 12 tahun darinya.
Karier Bermusik Ismail Marzuki
Ismail Marzuki memulai debutnya di bidang musik pada usia 17 tahun, ketika untuk pertama kalinya ia berhasil mengarang lagu "O Sarinah” pada tahun 1931.
Ia mempunyai ketertarikan yang mendalam pada bidang seni. Tahun 1936, Ismail memasuki perkumpulan orkes musik Lief Java sebagai pemain gitar, saxophone, dan harmonium pompa.
Pada tahun 1940, Ismail Marzuki menikah dengan Eulis Zuraidah, seorang primadona dari klub musik yang ada di Bandung di mana Ismail Marzuki juga tergabung di dalamnya. Pasangan ini kemudian mengadopsi seorang anak bernama Rachmi, yang sebenarnya masih keponakan Eulis.
Di masa penjajahan Jepang, Ismail Marzuki turut aktif dalam orkestra radio pada Hozo Kanri Keyku Radio Militer Jepang. Ketika masa kependudukan Jepang berakhir, Ismail Marzuki tetap meneruskan siaran musiknya di RRI.