Pengakuan Anak Amerika yang Dipaksa Ancam Trump dalam Video ISIS

Siswanto, BBC

Senin, 23 November 2020 | 17:20 WIB
Pengakuan Anak Amerika yang Dipaksa Ancam Trump dalam Video ISIS
BBC

Suara.com - Seorang anak laki-laki mengaku merasakan "kelegaan yang memuaskan" dapat kembali ke Amerika Serikat setelah ia dipaksa mengancam Presiden Donald Trump dalam sebuah video yang dibuat oleh kelompok ISIS.

Matthew, nama anak itu, dibawa oleh ibu dan ayah tirinya ke Suriah. Ia berusia 10 tahun ketika ia direkam dalam sebuah video yang ditujukan kepada Trump dan mengatakan kepada presiden untuk bersiap-siap menghadapi pertempuran di AS.

Sekarang Matthew sudah berusia 13 tahun dan tinggal bersama ayahnya setelah ia dibawa pulang oleh militer AS pada tahun 2018.

"Semuanya sudah terjadi dan sudah selesai. Semuanya sudah berlalu sekarang," kata Matthew kepada BBC.

"Saya masih sangat muda saat itu sehingga saya tidak benar-benar mengerti semua yang terjadi."

Matthew menjalani konseling untuk membantunya beradaptasi dan proses itu berjalan lancar.

Ayah tirinya, Moussa Elhassani, meninggal dalam kejadian yang diduga merupakan serangan pesawat tak berawak pada musim panas 2017. Sementara ibunya, Samantha Sally, divonis pada awal bulan ini atas pendanaan terorisme dan dijatuhi hukuman penjara selama enam setengah tahun.

Pada April 2015, keluarga yang tampak seperti keluarga Amerika pada umumnya itu, menyeberang ke wilayah ISIS dari provinsi perbatasan Turki, Sanliurfa.

"Kami berlari melintasi wilayah yang sangat gelap. Saat itu malam hari, ada banyak titik-titik dengan kawat berduri... Tidak banyak yang terpikirkan saat itu kecuali, 'Aku harus lari'," kata Matthew saat menceritakan cobaan yang dihadapinya itu untuk pertama kalinya kepada acara Panorama di BBC dan Frontline, sebuah acara yang ditayangkan PBS-lembaga penyiaran publik AS.

baca juga

Di kota yang diklaim ISIS sebagai ibukotanya, Raqqa, ayah tiri Matthew, Elhassani, dikirim untuk pelatihan militer dan menjadi penembak jitu ISIS.

Matthew yang saat itu baru berusia 8 tahun berusaha sebisanya untuk beradaptasi dengan rumah barunya.

"Saat kami pertama kali di Raqqa, kami berada di bagian perkotaan. Cukup berisik, biasanya dari suara tembakan," katanya. "Kadang-kadang ada ledakan tidak beraturan, terdengar seperti jauh sekali. Jadi kita tidak perlu terlalu khawatir."

Namun pada awal 2017, ibunda Matthew mengirim email kepada saudara perempuannya di AS dan meminta uang untuk membantu keluarganya melarikan diri, sambil melampirkan video Matthew yang sangat mengganggu.

Di dalam satu video, Elhassani memaksa Matthew untuk memasang sabuk bom bunuh diri. Atas perintah ayah tirinya itu, Matthew memainkan peran bagaimana ia akan menyambut otoritas Amerika yang akan menyelematkannya, tetapi kemudian membunuh mereka dengan meledakkan bom.

Dalam video lain, Matthew terlihat membongkar senjata AK-47 yang berisi amunisi, setelah ditantang oleh ayah tirinya untuk melakukannya dalam waktu kurang dari satu menit.

Ketika koalisi yang dipimpin AS meningkatkan serangan udaranya di Raqqa, sebuah bom menghantam rumah tetangga mereka yang runtuh ke rumah keluarga itu, Matthew harus mencari jalan keluar sendiri di tengah puing-puing dan debu.

Pada Agustus 2017, Raqqa akhirnya hancur, tetapi kelompok ISIS masih memprediksi kemenangan pihaknya dan memaksa Matthew untuk menyampaikan pesan pembangkangan. Kelompok itu merilis video Matthew, yang saat itu berusia 10 tahun, untuk mengancam presiden Amerika Serikat.

"Pesan saya kepada Trump, boneka yang dikontrol orang-orang Yahudi: Allah telah menjanjikan kemenangan kepada kami dan dia menjanjikan Anda kekalahan," kata Matthew, menuturkan kalimat yang telah ia hafalkan. "Pertempuran ini tidak akan berakhir di Raqqa atau Mosul. Ini akan berakhir di tanahmu… Jadi bersiaplah, karena pertempuran baru saja dimulai."

Dalam wawancaranya, Matthew mengatakan ia tidak diberi pilihan selain mengambil bagian dalam video tersebut, akibat luapan amarah ayah tirinya. "Dia mulai kehilangan akal sehat, seperti tidak stabil secara mental, sangat tidak stabil secara mental," katanya.

Tak lama kemudian, Elhassani meninggal dalam kejadian yang diduga merupakan serangan pesawat tak berawak.

"Saya senang karena saya tidak menyukai ayah tiri saya," kata Matthew. "Saya pikir seharusnya tidak begitu, aku senang karena seseorang meninggal. Tapi kami semua menangis karena gembira."

Ibu Matthew, Samantha Sally, kemudian dapat membayar penyelundup manusia untuk mengeluarkan dirinya dan keempat anaknya dari wilayah ISIS. Matthew disembunyikan di dalam tong di belakang truk saat melewati pos pemeriksaan ISIS.

Ketika mereka mencapai wilayah yang dikuasai Kurdi, mereka ditahan di kamp penahanan, dan di musim dingin 2017, Panorama pertama kali berbicara dengan Sally.

Sally mengatakan ia telah ditipu oleh suaminya untuk membawa keluarga ke Suriah dan mengaku tidak mengetahui rencana suaminya.

Pada suatu saat di Raqqa, Sally mengatakan bahwa suaminya bertindak kasar terhadapnya. Sally juga mengaku bahwa mereka telah membeli dua gadis remaja Yazidi sebagai budak, dan suaminya sering memperkosa mereka.

Setelah kembali ke AS, sambil menjalani proses pengadilan, Sally terus berpegang pada cerita bahwa ia telah ditipu.

Meskipun Sally telah mendukung suaminya "dalam upaya-upaya bodohnya", Sally bersikeras bahwa ia tidak berperan dalam mendukung suaminya untuk bergabung dengan ISIS.

Namun, investigasi Panorama/Frontline mengungkap bukti yang sebaliknya dalam kasus ini.

Seorang anggota keluarga Elhassani mengatakan bahwa Moussa telah terobsesi dengan ISIS sejak berbulan-bulan sebelum keluarganya meninggalkan AS, dan bahwa dia melihat Moussa menonton propaganda ISIS, termasuk video eksekusi, di rumah.

Seorang teman Samantha Sally juga teringat percakapan dengannya di mana Sally mengatakan suaminya telah memberi tahunya bahwa ia dipanggil untuk bergabung dengan "perang suci".

Investigasi Panorama/Frontline menemukan bahwa Sally telah melakukan serangkaian perjalanan ke Hong Kong pada minggu-minggu sebelum keluarganya meninggalkan AS, menyimpan setidaknya $30.000, atau sekitar Rp425 juta, dalam bentuk uang tunai dan emas di brankas.

Setelah hampir 12 bulan di penjara, Sally mengubah ceritanya dan mengaku bersalah atas tindakan pendanaan terorisme sebagai bagian dari kesepakatan pembelaan dalam kasus hukumnya. Sally kesulitan menerima kesalahannya itu dan berkata, "Itu satu-satunya kesepakatan yang ditawarkan dengan kata "T" itu yang tidak menempatkan pedoman-pedoman pada hukuman seumur hidup."

Jaksa penuntut mengatakan penemuan mereka atas tindakan Sally yang membantu merekam video putranya, Matthew, yang dipaksa untuk memasang sabuk bom bunuh diri dan membongkar AK-47, sebagai "mengerikan".

Mereka mengatakan kemungkinan tidak akan pernah diketahui mengapa Sally membantu suaminya bergabung dengan ISIS. Sally mengklaim bahwa ia telah dipaksa oleh suaminya yang dominan.

Saat berbicara tentang bagaimana rasanya melangkah kembali ke tanah AS, Matthew berkata, "Ini seperti mengenakan pakaian ketat atau kaus kaki dan sepatu ketat sepanjang hari dan kemudian melepasnya serta merasa nyaman dan santai di bak mandi air panas. Seperti itulah rasanya. Seperti kelegaan yang memuaskan. Rasanya menyenangkan."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Profil Dadang Hartanto, Eks Kapolda Maluku dan Profesor Administrasi yang Kini Pimpin Polda Metro

Profil Dadang Hartanto, Eks Kapolda Maluku dan Profesor Administrasi yang Kini Pimpin Polda Metro

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:03 WIB

AC LG Kini Bisa Atur Suhu Sendiri, AI Bantu Hemat Listrik dan Jaga Kenyamanan

AC LG Kini Bisa Atur Suhu Sendiri, AI Bantu Hemat Listrik dan Jaga Kenyamanan

Tekno | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:58 WIB

Tembus Pasar Paman Sam: Motor Buatan Jakarta Ini Siap Diekspor ke Amerika Serikat

Tembus Pasar Paman Sam: Motor Buatan Jakarta Ini Siap Diekspor ke Amerika Serikat

Otomotif | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:52 WIB

Kerja Outdoor? 5 Face Wash Pria Bikin Muka Bersih dan Segar Seharian!

Kerja Outdoor? 5 Face Wash Pria Bikin Muka Bersih dan Segar Seharian!

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:50 WIB

Petaka Aksi Standing Motor di Pringsewu: Honda Supra Hantam Pajero, 2 Pemuda Tewas Terpental

Petaka Aksi Standing Motor di Pringsewu: Honda Supra Hantam Pajero, 2 Pemuda Tewas Terpental

Lampung | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:49 WIB

Pria Ditemukan Tewas di Sungai Cipelang, Dokter Forensik Temukan Sejumlah Luka

Pria Ditemukan Tewas di Sungai Cipelang, Dokter Forensik Temukan Sejumlah Luka

Jabar | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:49 WIB

4 Rekomendasi Bedak Two Way Cake Terbaik untuk Kulit Berminyak Sesuai Review

4 Rekomendasi Bedak Two Way Cake Terbaik untuk Kulit Berminyak Sesuai Review

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:40 WIB

Urutan Zodiak dari yang Paling Royal dan Suka Berbagi sampai yang Paling Irit

Urutan Zodiak dari yang Paling Royal dan Suka Berbagi sampai yang Paling Irit

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:35 WIB

Chanyeol EXO Ungkap Kerinduan Mendalam di Lagu Jepang Terbaru, Song For You

Chanyeol EXO Ungkap Kerinduan Mendalam di Lagu Jepang Terbaru, Song For You

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:20 WIB

Kuota Hangus Belum Tuntas, Komdigi Soroti Paket Telkomsel, Indosat, dan XL

Kuota Hangus Belum Tuntas, Komdigi Soroti Paket Telkomsel, Indosat, dan XL

Tekno | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:15 WIB

×