Nakes di Papua Minta Jaminan Keamanan Setelah Puskesmas Diserang

Siswanto, BBC

Selasa, 21 September 2021 | 13:18 WIB
Nakes di Papua Minta Jaminan Keamanan Setelah Puskesmas Diserang
BBC

Suara.com - Para tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, meminta jaminan dari pihak berwenang agar mereka dapat menjalankan tugas dengan aman.

Permintaan ini muncul setelah serangan terhadap Puskesmas di distrik Kiwirok oleh kelompok bersenjata yang menyebabkan meninggalnya seorang nakes, serangan pertama yang dilaporkan terhadap fasilitas kesehatan di Papua.

Pelayanan kesehatan di kabupaten itu disebut sudah kembali berjalan setelah sempat terhenti.

Ketua asosiasi dokter di Papua menyebut konflik bersenjata di distrik Kiwirok telah menghambat berbagai program kesehatan di wilayah itu.

Baca juga:

Senin kemarin (20/09), empat nakes dari distrik Kiwirok mendatangi kantor Komnas HAM di Jayapura. Mereka menceritakan kembali situasi yang mereka alami dan meminta Komnas HAM memfasilitasi pertemuan dengan Kapolda Papua, kata Frits Ramandei, perwakilan Komnas HAM di Papu

Frits mengatakan, Komnas HAM juga memfasilitasi para nakes untuk menyampaikan harapan mereka pada Pemda Kabupaten Pegunungan Bintang melalui kepala Dinas Kesehatan.

"Harapan mereka, yang terpenting adalah bagaimana satu teman mereka yang meninggal dunia bisa dievakuasi untuk proses pemakaman, sedangkan satu yang sampai saat ini belum ditemukan, diketahui bagaimana nasibnya.

"Dan mereka memohon supaya kejadian seperti ini tidak menimpa teman-teman mereka di distrik-distrik yang lain," kata Frits.

baca juga

Menurut Frits, para nakes masih dalam kondisi syok sehingga tidak mau berbicara kepada wartawan, namun mereka "cukup tegar".

Sembilan tenaga kesehatan yang bertugas di distrik Kiwirok dievakuasi ke Jayapura pada Jumat (17/09), dan semuanya disebut sedang dalam penanganan medis dan psikologis.

Aparat TNI masih berusaha mengevakuasi jenazah suster Gabriella Meilani dan menemukan seorang nakes yang hilang.

Sementara itu, tenaga medis di 34 distrik dan 277 kampung dilaporkan telah ditarik ke ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang, Oksibil, karena kekhawatiran akan keselamatan mereka.

Juru bicara Gubernur Papua, Rifai Darus, mengatakan saat ini pelayanan kesehatan di ibu kota kabupaten sudah kembali berjalan, tetapi belum maksimal. Sementara di distrik Kiwirok belum berjalan.

Sebelumnya, Ikatan Dokter Indonesia wilayah Papua memberitahukan bahwa seluruh pelayanan kesehatan di wilayah Kiwirok, Oksibil, dan Pegunungan Bintang dihentikan seraya menunggu jaminan keamanan dari pemerintah untuk para tenaga kesehatan yang bertugas.

Rifai mengatakan kepada BBC News Indonesia bahwa Gubernur Papua Lukas Enembe sedang mengusahakan itu.

"Gubernur Papua akan melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pimpinan TNI dan Kapolda dalam rangka mempersiapkan langkah-langkah keamanan dan kenyamanan yang akan dilakukan. Akan ada pertemuan pada hari Rabu besok," katanya lewat sambungan telepon.

Program kesehatan terhambat

Serangan terhadap Puskesmas di distrik Kiwirok, Senin pekan lalu (13/09) menghambat program-program kesehatan yang tengah berjalan di wilayah itu, kata Ketua IDI wilayah Papua dr. Ronald Aronggear.

Di antara program kesehatan itu adalah upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak serta pengangkatan katarak.

"Saya harus tekankan kembali, terlepas dari masalah yang lain, mereka punya program yang harus dinikmati oleh masyarakat di pegunungan, yang harus mendapatkan pelayanan yang sama dengan yang didapatkan di tempat lain," kata dr. Ronald dalam sebuah jumpa pers virtual, Jumat (17/09).

Menurut dr. Ronald, peristiwa di Kiwirok mendapatkan tanggapan dari para nakes di wilayah pedalaman lainnya.

Banyak dari mereka tetap bekerja, kata dr. Ronald, tetapi meminta agar jangan sampai terjadi hal yang seperti di Puskesmas Kiwirok.

"Mereka banyaknya teman-teman dari luar Papua kan meninggalkan keluarga untuk pengabdian pada masyarakat jadi mereka merasa baiknya tolong ada rasa aman lah supaya dilindungi. Itu yang mereka sampaikan," kata dr. Ronald.

Serangan terhadap Puskesmas Kiwirok tampaknya mengejutkan para tenaga kesehatan di Papua. Sepengetahuan dr. Ronald, ini pertama kalinya fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan disasar langsung oleh kelompok bersenjata.

Ia menceritakan bahwa dalam kerusuhan di Wamena dua tahun silam, memang ada seorang dokter yang menjadi korban saat sedang dalam perjalanan ke kota itu. Namun para penyerang saat itu tidak tahu kalau dia adalah tenaga medis.

"Saya berharap ini [Puskesmas Kiwirok] bukan sesuatu sasaran, kita berharap ini suatu 'oknum' yang melakukan suatu tindakan dan tidak tahu apa yang dia kerjakan. Karena saya tahu sekali bahwa orang Papua harusnya tidak bisa berbuat begitu," kata dr. Ronald.

Kekerasan terus terjadi

Pembakaran Puskesmas di distrik Kiwirok bermula dari kontak tembak antara TNI dengan apa yang disebut pemerintah sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Menurut keterangan TNI, KKB melakukan penyerangan dan pembakaran terhadap beberapa fasilitas publik antara lain kantor, pasar, sekolah, dan Puskesmas.

Seorang nakes yang selamat, Marselinus Ola Atanila (35 tahun), menceritakan kepada media bahwa KKB memecahkan kaca puskesmas, kemudian menyiram bensin dan membakar Puskesmas.

Para pelaku kemudian bergerak ke barak dokter yang dijadikan persembunyian dokter, suster dan mantri.

Empat nakes berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke jurang, kata Ola, tapi kemudian beberapa anggota KKB mengikuti mereka.

Ola mengatakan ia bersembunyi di antara akar pohon, tapi KKB menemukan tiga rekannya. Saat itulah, Ola mengaku menyaksikan rekannya ditelanjangi dan disiksa oleh KKB.

Akibat penyiksaan itu, seorang suster yaitu Gabriella Melani meninggal dunia.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) telah mengatakan bertanggung jawab atas serangan ini melalui pernyataan ke sejumlah media. Namun juru bicara TPNB-OPM, Sebby Sambom, belum menjawab permintaan konfirmasi dari BBC.

Namun ia dikutip beberapa media mengatakan bahwa seorang dokter di Puskesmas Kiwirok lebih dulu mengeluarkan senjata api dan menembak. Klaim itu dibantah oleh salah seorang dokter yang selamat.

Serangan terhadap Puskesmas dan fasilitas publik di distrik Kiwirok adalah bagian dari kekerasan yang terus berlanjut antara TNI dan KKB sejak pembunuhan pekerja proyek Trans Papua di Nduga pada 2018.

Sebelumnya, terjadi serangan-serangan yang menelan korban warga sipil termasuk seorang pendeta dan dua guru.

Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Ramandei, menekankan bahwa konflik ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan kekerasan.

Komnas HAM, kata Frits, mendorong Presiden Joko Widodo agar membentuk suatu tim yang bertanggung jawab langsung pada presiden dan bekerja secara diam-diam untuk mengembangkan dialog kemanusiaan dengan kelompok-kelompok masyarakat di Papua yang berbeda pandangan.

Yang dimaksud dengan dialog kemanusiaan, menurut Frits, berarti "ada kesetaraan antara tim yang dibentuk Presiden dengan mereka untuk berdialog dalam konteks sebagai warga negara, walaupun ada pihak yang berbeda secara ideologis."

"Pendekatan kesejahteraan penting, sangat penting. Tetapi pendekatan dialog kemanusiaan, dengan mendengarkan suara-suara mereka yang bergerilya di hutan itu juga jauh lebih penting," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kantor Dukcapil Kabupaten Pegunungan Bintang Papua Dibakar OPM, TNI-Polri Masih Bersiaga

Kantor Dukcapil Kabupaten Pegunungan Bintang Papua Dibakar OPM, TNI-Polri Masih Bersiaga

News | Rabu, 11 Januari 2023 | 15:59 WIB

Kacau! KKB Bakar Sekolah dan Tembak Pesawat Sipil di Pegunungan Bintang Papua

Kacau! KKB Bakar Sekolah dan Tembak Pesawat Sipil di Pegunungan Bintang Papua

News | Senin, 09 Januari 2023 | 17:35 WIB

Kaum LGBT Minta Jaminan Keamanan Nonton Piala Dunia 2022 Qatar, Kenapa?

Kaum LGBT Minta Jaminan Keamanan Nonton Piala Dunia 2022 Qatar, Kenapa?

Bola | Jum'at, 23 September 2022 | 16:25 WIB

Terkini

GMNI Desak Pemerintah Hentikan Total Program Kopdes Merah Putih: Jangan Boroskan APBN

GMNI Desak Pemerintah Hentikan Total Program Kopdes Merah Putih: Jangan Boroskan APBN

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:45 WIB

Kemenhan Akui 32 Peserta Hamil Sempat Ikut Latsarmil SPPI, Akhirnya Dipulangkan

Kemenhan Akui 32 Peserta Hamil Sempat Ikut Latsarmil SPPI, Akhirnya Dipulangkan

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:40 WIB

Gempa Pacitan Terasa hingga Yogyakarta, KAI Sempat Hentikan Perjalanan Kereta

Gempa Pacitan Terasa hingga Yogyakarta, KAI Sempat Hentikan Perjalanan Kereta

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:32 WIB

Jangan Lewatkan Keseruan Belanja di Alfamidi Akhir Pekan Ini: Bonus Spesial Sudah Menanti

Jangan Lewatkan Keseruan Belanja di Alfamidi Akhir Pekan Ini: Bonus Spesial Sudah Menanti

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:28 WIB

5 Peserta SPPI Tewas, TB Hasanuddin Desak Latihan Militer Calon Manajer Koperasi Dihentikan

5 Peserta SPPI Tewas, TB Hasanuddin Desak Latihan Militer Calon Manajer Koperasi Dihentikan

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:42 WIB

Warga Keluhkan Dentuman Kembang Api di Prambanan, Kades Sebut Acara Pre-Wedding Sespri Prabowo

Warga Keluhkan Dentuman Kembang Api di Prambanan, Kades Sebut Acara Pre-Wedding Sespri Prabowo

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:32 WIB

5 Peserta SPPI Tewas, Kemhan Evaluasi Total Program Latsarmil

5 Peserta SPPI Tewas, Kemhan Evaluasi Total Program Latsarmil

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:25 WIB

Bukan Untuk Cetak Tentara, Kemhan Ungkap Misi Utama Latsarmil Calon Manajer Kopdes

Bukan Untuk Cetak Tentara, Kemhan Ungkap Misi Utama Latsarmil Calon Manajer Kopdes

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 15:40 WIB

Dinilai Punya Kepribadian Baik, Uya Kuya Bakal Pimpin PAN Jakarta

Dinilai Punya Kepribadian Baik, Uya Kuya Bakal Pimpin PAN Jakarta

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 15:00 WIB

Jawab Prabowo Soal Tidak Bisa Bikin Mobil Sendiri, UGM: Kuncinya di Keberpihakan Pemerintah

Jawab Prabowo Soal Tidak Bisa Bikin Mobil Sendiri, UGM: Kuncinya di Keberpihakan Pemerintah

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 14:28 WIB

×