Covid di Indonesia: Kematian Tertinggi Kedua di Asia, Pandemi Masih Serius

Siswanto, BBC

Rabu, 09 Maret 2022 | 10:57 WIB
Covid di Indonesia: Kematian Tertinggi Kedua di Asia, Pandemi  Masih Serius
BBC

Suara.com - Kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia "masih serius dan genting" menurut epidemiolog dan organisasi pemantau covid.

Total kematian akibat Covid di Indonesia saat ini menempati posisi tertinggi kedua di Asia, mencapai 150.000 kasus.

Di tengah kondisi ini, pemerintah Indonesia meniadakan syarat pengetesan dan karantina bagi pelaku perjalanan.

Dengan landasan kondisi ini, pemerintah diminta menyiapkan strategi mitigasi agar kasus positif maupun kematian tidak terus naik.

Kementerian Kesehatan mengeklaim sudah menyiapkan rencana mitigasi, terutama mendorong percepatan vaksinasi dosis lengkap hingga 70 persen pada April mendatang.

Baca juga:

Koordinator Tim Advokasi dari organisasi pemantau LaporCovid-19, Firdaus Ferdiansyah, mengatakan sejak 4 Februari hingga 5 Maret 2022 tren kematian terus naik atau meningkat enam kali lipat.

Kondisi ini, katanya, menggambarkan situasi pandemi di Indonesia masih genting. Tapi pemerintah justru memudahkan aturan soal pengetesan dan membebaskan karantina bagi orang asing.

Padahal angka kematian merupakan indikator telak yang merepresentasikan kegagalan pemerintah mengintervensi kebijakan penanggulangan di hulu hingga hilir. kata Firdaus.

baca juga

"Ini adalah satu-satunya cara untuk bisa melihat dampak pandemi, makanya kenapa kami getol sekali dengan data kematian," kata Firdaus kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (08/03).

Dalam dua tahun pandemi, sambung Firdaus, pencatatan angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia belum bisa diandalkan.

Jika menggunakan kriteria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maka total kematian di Indonesia bisa mencapai angka 191.000 lebih.

Ribuan kasus itu termasuk pasien yang berstatus probable yakni meninggal karena memiliki gejala klinis tapi belum terkonfirmasi Covid-19 dan meninggal saat isolasi mandisi atau di luar fasilitas kesehatan.

Selain persoalan pencatatan yang tidak sesuai standar WHO, LaporCovid-19 juga menganalisa ada perbedaan angka kematian per-provinsi dengan publikasi versi pemerintah pusat.

Dalam hitungan LaporCovid-19 awal Maret lalu, jumlah kasus kematian positif Covid-19 sesungguhnya telah mencapai 160.569 jiwa, tapi pemerintah menyatakan ada 149.918 jiwa.

Ketidakakuratan data kematian ini, menurut Firdaus, bakal berdampak pada pembuatan kebijakan di setiap wilayah.

"Pemerintah selama ini melihat data kematian hanya sebagai data statistik. Yah hanya sekianlah, kecil. Tapi kalau ditelusuri, kematian satu orang saja membawa duka yang luar biasa. Belum lagi tenaga kesehatan yang meninggal, rugi besar kita."

Strategi mitigasi diperlukan

Sejalan dengan LaporCovid-19, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menilai kondisi pandemi di Indonesia masih serius atau belum melewati masa krisis.

Dia merujuk pada angka reproduksi virus corona atau R yang masih di atas 1 yang artinya setiap seorang bisa menularkan kepada lebih dari satu orang.

Faktor lain, puncak gelombang Omicron belum sepenuhnya terlewati di beberapa daerah lantaran pencatatan angka kematian yang buruk di beberapa kabupaten/kota.

Belum lagi cakupan 70% vaksinasi dua dosis lengkap baru terjadi di sembilan provinsi.

Adapun vaksinasi Covid-19 pada lansia hingga akhir Februari lalu, baru mencapai 53,5 persen untuk dosis kedua, sedangkan dosis ke 3 (booster) baru mencapai 6,2 persen. Dengan begitu, kelompok lansia paling berisiko sakit berat atau meninggal karena Covid-19.

"Presentase kematian masih didominasi oleh wilayah yang sistem pelaporan pencatatan kematiannya paling bagus. Itu sebuah fenomena yang akan ditemukan di semua negara berkembang," kata Dicky Budiman kepada BBC News Indonesia lewat sambungan telepon, Selasa (8/3).

Karena itulah, ia meminta pemerintah Indonesia harus terus mengingatkan publik bahwa pandemi belum berakhir.

"Pernyataan itu harus terus diingatkan."

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, sebelumnya mengungkapkan sebagian besar pasien Covid-19 yang meninggal adalah yang belum menerima vaksinasi dosis lengkap dan diserta penyakit penyerta atau komorbid.

Data yang dihimpun Kemenkes per 8 Maret 2022 juga menemukan dari total 8.230 pasien Covid-19 yang meninggal di rumah sakit sejak gelombang varian Omicron melanda, 70% di antaranya belum mendapat vaksinasi lengkap.

Dicky dan LaporCovid-19 sepakat, pemerintah mesti menyiapkan strategi mitigasi untuk menekan angka kasus positif dan kematian sejalan dengan dihapusnya syarat pengetesan dan karantina bagi pelaku perjalanan domestik maupun internasional.

Jika tidak, maka kelompok rentan seperti lansia yang bakal terdampak potensi terinfeksi virus corona.

"Kalau misalkan masih muda, kena Covid-19, gejalanya kemungkinan ringan. Tapi enggak bisa kepada lansia atau kelompok komorbid. Apalagi ditambah mereka tidak mendapat penanganan medis yang optimal, misal obat-obatan," tutur Firdaus.

Apa rencana mitigasi pemerintah?

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat di Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah telah merancang strategi mitigasi sejalan dengan dihapusnya syarat pengetesan bagi pelaku perjalanan yang telah divaksinasi dosis lengkap dan mengurangi masa karantina bagi pelancong mancanegara.

Satu di antaranya yakni mempercepat cakupan vaksinasi hingga 70 persen dari total jumlah penduduk, hingga April mendatang. Untuk diketahui, saat ini cakupan vaksinasi dua dosis secara nasional baru mencapai 55 persen.

Sebab capaian vaksinasi yang tinggi, akan menurunkan potensi penularan. Sehingga dengan begitu diharapkan jumlah kasus dan kematian akan jauh berkurang.

"Kita harus pahami ini merupakan upaya kita menuju endemi. Kasus positif tidak mungkin nol. Tapi kita yakin depan meningkatnya cakupan vaksinasi maka kemungkinan penularan lebih turun," imbuh Nadia kepada BBC News Indonesia, Selasa (08/03).

Dia juga menolak anggapan beberapa epidemiolog dan organisasi pemantau covid yang menyebut kondisi pandemi di Indonesia masih genting lantaran angka kematian menempati posisi tertinggi kedua di Asia.

Pasalnya kondisi saat ini jauh berbeda dengan saat awal pandemi.

"Angka kematian dibandingkan Delta jauh, dulu ribuan sekarang ratusan. Awal pandemi kita belum punya pengetahuan khusus, belum ada pengalaman menangani pasien dan perawatan, cakupan vaksinasi juga belum tinggi."

"Sekarang kasus kematian cenderung rendah, artinya sudah penanda angka kematian sudah turun."

Nadia juga mengatakan pengetesan dan pelacakan tidak akan berubah meskipun pemerintah meniadakan syarat tes dan karantina bagi pelaku perjalanan.

Begitu pula dengan pelacakan jika ditemukan kasus positif.

"Kalau saya bisa katakan kondisi pandemi di Indonesia saat ini terkendali. Yang penting adalah kalau ada kasus, tidak menjadi beban faskes, kalaupun ada beban faskes bisa menangani kondisi itu dan tidak mengganggu sektor lain seperti pendidikan, perdagangan, dan keagamaan."

Menanggapi rencana itu, Dicky Budiman, menilai tantangan terbesarnya ada di impelementasi. Perencanaan yang baik di atas kertas, biasanya kerap tak terlaksana lantaran komunikasi para pemimpin daerah dan pusat yang cenderung menyenangkan ketimbang berguna.

"Sering kali perencanaan yang bagus itu terganggu oleh strategi komunikasi yang terlalu happy talk," tegas Dicky.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Adu Gengsi 56 Klub Terbaik Tanah Air, Kejurnas Antarklub Basket U16 & U18 2026 Resmi Dimulai!

Adu Gengsi 56 Klub Terbaik Tanah Air, Kejurnas Antarklub Basket U16 & U18 2026 Resmi Dimulai!

Sport | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:57 WIB

Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan

Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:53 WIB

Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi

Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:38 WIB

Serial Anime RE:BEL ROBOTICA Resmi Diumumkan, Berlatar Shibuya Tahun 2050

Serial Anime RE:BEL ROBOTICA Resmi Diumumkan, Berlatar Shibuya Tahun 2050

Your Say | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:33 WIB

Video Viral Momen Memalukan Leon Goretzka Usai Jerman Dipecundangi Ekuador

Video Viral Momen Memalukan Leon Goretzka Usai Jerman Dipecundangi Ekuador

Bola | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:21 WIB

Ritual Tanda Salib Lionel Scaloni dan Alasan Ogah Rayakan Gol Argentina

Ritual Tanda Salib Lionel Scaloni dan Alasan Ogah Rayakan Gol Argentina

Bola | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:13 WIB

Iran vs Everybody di Piala Dunia 2026, Mehdi Taremi: Infantino Omong Kosong, FIFA Tak Adil

Iran vs Everybody di Piala Dunia 2026, Mehdi Taremi: Infantino Omong Kosong, FIFA Tak Adil

Bola | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:05 WIB

Kabar Duka! Wonderkid Venezuela Ditemukan Tewas di Tengah Reruntuhan Gempa

Kabar Duka! Wonderkid Venezuela Ditemukan Tewas di Tengah Reruntuhan Gempa

Bola | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:58 WIB

Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif

Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:47 WIB

Lingkungan Kerja Nyaman Jadi Prioritas Baru Gen Z dan Milenial dalam Memilih Karier

Lingkungan Kerja Nyaman Jadi Prioritas Baru Gen Z dan Milenial dalam Memilih Karier

Lifestyle | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:41 WIB

Terkini

Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan

Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:53 WIB

Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi

Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:38 WIB

Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif

Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:47 WIB

HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno

HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:41 WIB

Malam Minggu Spesial di Bundaran HI: Warga Rayakan HUT Jakarta ke-499 Sambil Nonton Konser

Malam Minggu Spesial di Bundaran HI: Warga Rayakan HUT Jakarta ke-499 Sambil Nonton Konser

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:20 WIB

Soroti Ketimpangan Distribusi MBG, Garuda Institute Dorong BGN Perkuat Akurasi Sasaran

Soroti Ketimpangan Distribusi MBG, Garuda Institute Dorong BGN Perkuat Akurasi Sasaran

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:16 WIB

Taruna Akmil Masuk Sekolah Rakyat, Amnesty Khawatir Siswa Jadi Korban Militerisasi Pendidikan

Taruna Akmil Masuk Sekolah Rakyat, Amnesty Khawatir Siswa Jadi Korban Militerisasi Pendidikan

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:08 WIB

Resmi! Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta Gantikan Eko Patrio

Resmi! Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta Gantikan Eko Patrio

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:18 WIB

GMNI Desak Pemerintah Hentikan Total Program Kopdes Merah Putih: Jangan Boroskan APBN

GMNI Desak Pemerintah Hentikan Total Program Kopdes Merah Putih: Jangan Boroskan APBN

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:45 WIB

Kemenhan Akui 32 Peserta Hamil Sempat Ikut Latsarmil SPPI, Akhirnya Dipulangkan

Kemenhan Akui 32 Peserta Hamil Sempat Ikut Latsarmil SPPI, Akhirnya Dipulangkan

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:40 WIB

×