Teknologi Penangkap Gas di Peternakan Bisa Picu Emisi Besar Jika Bocor, Bagaimana Solusinya?

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Rabu, 01 April 2026 | 15:30 WIB
Teknologi Penangkap Gas di Peternakan Bisa Picu Emisi Besar Jika Bocor, Bagaimana Solusinya?
Dairy digester di California (clear.ucdavis.edu)

Suara.com - Emisi metana dari peternakan sapi perah masih menjadi salah satu penyumbang signifikan krisis iklim global. Upaya menekannya melalui teknologi penangkap gas belum sepenuhnya bebas risiko, terutama ketika terjadi kegagalan sistem.

Sebuah studi terbaru dalam jurnal Environmental Research Letters pun menyoroti celah tersebut, termasuk potensi dampak besar dari kebocoran pada sistem digester.

Dikutip dari Phys.org, penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of California, Riverside (UCR) ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi tersebut sangat efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi masih terdapat risiko signifikan bagi iklim apabila sistem mengalami kegagalan teknis atau kebocoran.

Efektivitas Digester dalam Skala Besar

Digester secara luas dianggap sebagai solusi iklim utama. Sistem ini bekerja dengan cara menyegel kolam penampungan kotoran ternak dan menangkap gas metana yang dihasilkannya. Gas yang tertangkap kemudian diubah menjadi bahan bakar fungsional yang dapat digunakan.

Ilmuwan iklim dari UC Riverside sekaligus penulis utama studi ini, Alyssa Valdez, menyatakan bahwa alat ini merupakan solusi yang mampu menangkap metana dalam jumlah besar. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada fungsi operasional yang tepat.

Data penelitian ini didasarkan pada pengamatan udara dan satelit selama delapan tahun terhadap 98 peternakan sapi perah di seluruh California. Melalui pelacakan emisi sebelum, selama, dan sesudah pemasangan alat, tim peneliti menemukan bahwa frekuensi semburan metana yang kuat secara keseluruhan menurun di peternakan yang telah memasang digester. Ini menunjukkan bahwa sistem tersebut secara keseluruhan bekerja dengan efektif.

Merujuk pada penelitian sebelumnya yang dipimpin oleh UCR climate scientist, Francesca Hopkins, digester yang dikelola dengan baik terbukti mampu mengurangi emisi metana hingga 80%. Penelitian yang baru ini melanjutkan penelitian tersebut dengan menunjukkan bagaimana kinerja digester di puluhan peternakan, termasuk apa yang terjadi ketika ada kesalahan.

Risiko Emisi Terkonsentrasi saat Terjadi Kebocoran

Meskipun digester terbukti efektif secara umum, studi ini mengungkapkan adanya tantangan terkait konsentrasi gas. Karena digester memusatkan metana di satu tempat, kegagalan sistem dapat menyebabkan pelepasan gas dalam volume yang sangat besar.

Dalam beberapa kasus, tim peneliti mengamati metana yang keluar dengan laju emisi mencapai sekitar 1.000 kilogram metana per jam. Sebagai perbandingan, emisi dari kolam penampungan kotoran tradisional yang terbuka biasanya hanya berkisar antara 20 hingga 100 kilogram per jam. Hal ini menunjukkan bahwa satu kejadian kebocoran pada digester memiliki intensitas yang jauh lebih tinggi daripada emisi rutin pada penyimpanan limbah konvensional.

Selain kegagalan sistem, lonjakan emisi juga akan dideteksi selama fase konstruksi dan pemasangan digester. Ini merupakan fase yang jarang diukur, tapi dapat menghasilkan peningkatan jangka pendek yang substansial. Terkadang, operator juga terpaksa melepaskan gas secara sengaja selama masa pemeliharaan atau ketika terdapat batasan regulasi terkait pembakaran gas untuk menjaga kualitas udara.

Pemantauan Berbasis Satelit

Metana merupakan gas rumah kaca yang memiliki masa hidup lebih pendek daripada karbon dioksida. Namun, gas ini memiliki kekuatan 80 kali lebih besar dalam memerangkap panas di atmosfer. Oleh karena itu, deteksi dini terhadap kebocoran menjadi sangat krusial.

Penelitian ini menggunakan kombinasi citra satelit dan pengukuran pesawat terbang untuk mengidentifikasi gumpalan metana terkonsentrasi di atas lokasi infrastruktur tertentu. Satelit memungkinkan pelacakan jangka panjang di puluhan lokasi peternakan sapi perah, sementara pesawat terbang efektif dalam menentukan titik kebocoran spesifik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sepak Bola Ternyata Sumbang Puluhan Juta Ton Emisi Karbon Tiap Tahun, Bagaimana Menguranginya?

Sepak Bola Ternyata Sumbang Puluhan Juta Ton Emisi Karbon Tiap Tahun, Bagaimana Menguranginya?

News | Rabu, 01 April 2026 | 12:50 WIB

Earth Hour 2026: Pertamina Hemat 9 MW Energi dan Tekan 2 Ton Emisi CO2

Earth Hour 2026: Pertamina Hemat 9 MW Energi dan Tekan 2 Ton Emisi CO2

News | Senin, 30 Maret 2026 | 07:11 WIB

Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi

Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:30 WIB

Terkini

Bahan Baku Plastik dari Timur Tengah Terganggu, RI Cari Alternatif ke Amerika, Afrika hingga India

Bahan Baku Plastik dari Timur Tengah Terganggu, RI Cari Alternatif ke Amerika, Afrika hingga India

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:29 WIB

Menaker Yassierli Sebut Industri Kreatif Ideal untuk Jadi Laboratorium Magang Nasional

Menaker Yassierli Sebut Industri Kreatif Ideal untuk Jadi Laboratorium Magang Nasional

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:28 WIB

Bukan Gencatan Senjata, Iran Ajukan 5 Poin Krusial Akhiri Perang Permanen dan Total

Bukan Gencatan Senjata, Iran Ajukan 5 Poin Krusial Akhiri Perang Permanen dan Total

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:24 WIB

Kejagung Geledah Kantor KSOP Kalsel dan Kalteng Terkait Kasus Korupsi Samin Tan

Kejagung Geledah Kantor KSOP Kalsel dan Kalteng Terkait Kasus Korupsi Samin Tan

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:22 WIB

Soal WFH ASN Jumat, Legislator PDIP Beri Sindiran: Saya Bingung, Apa Dasarnya Memilih Long Weekend?

Soal WFH ASN Jumat, Legislator PDIP Beri Sindiran: Saya Bingung, Apa Dasarnya Memilih Long Weekend?

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:21 WIB

Cara Memperbaiki Data NISN yang Salah dan Tidak Sesuai

Cara Memperbaiki Data NISN yang Salah dan Tidak Sesuai

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:21 WIB

3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Gibran Sampaikan Duka Cita: Saya Dukung Penuh Investigasi PBB

3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Gibran Sampaikan Duka Cita: Saya Dukung Penuh Investigasi PBB

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:15 WIB

Masih Berlangsung, KPK Geledah Rumah Ono Surono di Kasus Suap Ijon Bekasi

Masih Berlangsung, KPK Geledah Rumah Ono Surono di Kasus Suap Ijon Bekasi

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:15 WIB

Deforestasi Indonesia Melonjak 66 Persen di 2025, Papua hingga Kalimantan Paling Terdampak

Deforestasi Indonesia Melonjak 66 Persen di 2025, Papua hingga Kalimantan Paling Terdampak

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:15 WIB

Tentara Israel soal TNI Tewas di Lebanon: Kejadian Begitu Biasa di Area Pertempuran

Tentara Israel soal TNI Tewas di Lebanon: Kejadian Begitu Biasa di Area Pertempuran

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:14 WIB