Agen OpenAI Retas Situs Pemerintah, Bobol Data Kesehatan Publik Australia

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 24 September 2026 | 08:12 WIB
Agen OpenAI Retas Situs Pemerintah, Bobol Data Kesehatan Publik Australia
Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese memberikan pernyataan bersama saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/2/2026). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/Lmo/rwa]
baca 10 detik
  • Agen AI OpenAI membobol portal data kesehatan pemerintah Australia tanpa izin sejak Juni lalu.

  • PM Anthony Albanese mengecam keterlambatan OpenAI yang baru melaporkan insiden tersebut pada September.

  • OpenAI mengklaim hanya statistik agregat dan nama berkas internal yang terakses tanpa rekam medis.

Suara.com - Agen kecerdasan buatan milik OpenAI kedapatan menembus portal data kesehatan pemerintah Australia tanpa izin dalam insiden peretasan AI pertama terhadap situs negara. Peristiwa ini langsung memicu pengawasan ketat terhadap ancaman teknologi otonom yang makin tak terkendali.

Pemerintah Australia mengonfirmasi bahwa penyusupan oleh agen AI tersebut sudah berlangsung sejak Juni lalu. Akses ilegal ini menyasar berbagai dokumen publik maupun non-publik milik lembaga statistik kesehatan.

Insiden peretasan ini menjadi salah satu kasus akses ilegal terbesar oleh agen AI terhadap sistem luar negeri. Kejadian ini menambah panjang deretan pelanggaran keamanan global yang melibatkan kecerdasan buatan.

Logo OpenAI. [ANTARA]
Logo OpenAI. [ANTARA]

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut agen AI tersebut berhasil masuk ke portal statistik medis yang mengelola data belanja medis publik. Ia memastikan bahwa data yang diakses berada di bawah pengawasan lembaga statistik kesehatan non-sensitif.

“Bukti yang tersedia saat ini adalah tidak ada kompromi yang lebih luas terhadap… jaringan. Meskipun demikian, situasi ini jelas tidak dapat diterima,” tegas PM Anthony Albanese saat menggelar jumpa pers di New York.

Albanese mengungkapkan kekecewaan mendalam atas keterlambatan OpenAI dalam melaporkan kejadian keamanan serius ini kepada pemerintah. Pihaknya mengaku telah menyampaikan protes keras secara langsung kepada CEO OpenAI Sam Altman.

“Butuh waktu hingga 10 Sep sebelum ada notifikasi sama sekali,” kata Albanese yang menyoroti jeda waktu laporan hingga berbulan-bulan.

Investigasi menyeluruh kini sedang berjalan untuk mengungkap alasan sistem keamanan negara gagal mendeteksi peretasan tersebut sejak awal. Pemerintah juga menyelidiki dugaan adanya peretasan lanjutan pada beberapa platform digital lainnya.

Albanese diperingatkan bahwa ada tiga situs web pemerintah lain yang berpotensi ikut terdampak oleh aktivitas agen AI tersebut.

baca juga

“Pertanyaannya adalah, ketika mereka mencoba mengumpulkan data, apakah data tersebut masuk ke situs lain? Jadi kami tidak mengonfirmasi hal itu terjadi,” ujar Albanese.

Peretasan ini bertepatan dengan upaya OpenAI dan Anthropic mendesak Australia agar membatalkan larangan penggunaan konten kreatif lokal sebagai data pelatihan AI. Desakan tersebut disuarakan dalam pengajuan resmi ke parlemen pada bulan ini.

Pihak OpenAI mengklaim tidak ada rekam medis pasien yang diambil dalam insiden pengumpulan data tersebut.

"Tinjauan kami tidak menemukan bukti catatan pasien diakses. Informasi yang diakses termasuk statistik kesehatan agregat dan nama file internal," tulis OpenAI dalam pernyataan resminya.

Perusahaan AI tersebut berdalih bahwa model buatan mereka mengambil tindakan yang tidak disengaja saat mencari jawaban.

“Aktivitas yang teridentifikasi yang melibatkan beberapa situs web dan layanan pemerintah Australia saat model kami berusaha mencari jawaban… model kami mengambil tindakan yang tidak kami inginkan,” tambah OpenAI.

Keterlambatan pengungkapan kasus peretasan bukan pertama kali dilakukan oleh pihak OpenAI. Beberapa kasus penyusupan agen AI sebelumnya juga baru dibeberkan lama setelah peristiwa terjadi.

Masalah deteksi yang lambat serta keputusan internal untuk menunda pengumuman menjadi alasan utama keterlambatan informasi tersebut. Kasus peretasan besar pada repositori AI Hugging Face pertengahan Juli lalu misalnya, baru terdeteksi seminggu setelah kejadian.

Peristiwa Hugging Face ini memicu perdebatan global mengenai bahaya pesatnya perkembangan model kecerdasan buatan. Berbagai kompetitor seperti Anthropic, Google Gemini, dan Meta juga mulai melaporkan kasus penyusupan serupa oleh agen AI mereka.

Sejumlah pimpinan perusahaan AI terkemuka termasuk Sam Altman kini menyerukan perlambatan pengembangan teknologi ini. Mereka khawatir akan timbulnya serangan siber mematikan yang dilancarkan oleh agen AI di luar kendali.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah

Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 07:50 WIB

Dari 'Bantuin' Jadi 'Kerjain': Bahaya Ketergantungan AI bagi Berpikir Kritis

Dari 'Bantuin' Jadi 'Kerjain': Bahaya Ketergantungan AI bagi Berpikir Kritis

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 17:53 WIB

AI Makin Banyak Dipakai Perusahaan, A10 Siapkan Satu Pusat Kontrol untuk Atur Model dan Biaya

AI Makin Banyak Dipakai Perusahaan, A10 Siapkan Satu Pusat Kontrol untuk Atur Model dan Biaya

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 08:40 WIB

Terkini

Agen OpenAI Retas Situs Pemerintah, Bobol Data Kesehatan Publik Australia

Agen OpenAI Retas Situs Pemerintah, Bobol Data Kesehatan Publik Australia

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:12 WIB

5 Cara Menghilangkan Noda Kunyit di Blender, Kembali Bersih dan Anti Bau

5 Cara Menghilangkan Noda Kunyit di Blender, Kembali Bersih dan Anti Bau

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 08:10 WIB

6.622 Warga Pekanbaru Alami Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap Karhutla

6.622 Warga Pekanbaru Alami Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap Karhutla

Riau | Kamis, 24 September 2026 | 08:04 WIB

Iran Tolak Buka Selat Hormuz Jika Perang Berlanjut: Ogah Tunduk ke Amerika Serikat

Iran Tolak Buka Selat Hormuz Jika Perang Berlanjut: Ogah Tunduk ke Amerika Serikat

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:03 WIB

40 Ribu Balita Terserang ISPA Akibat Karhutla! Pemerintah Didesak Beri Perlindungan Ekstra

40 Ribu Balita Terserang ISPA Akibat Karhutla! Pemerintah Didesak Beri Perlindungan Ekstra

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:03 WIB

Menyesap Dieng Dari Hulu ke Hilir: Jejak GI Tourism yang Dirintis DJKI

Menyesap Dieng Dari Hulu ke Hilir: Jejak GI Tourism yang Dirintis DJKI

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 08:00 WIB

BSI Dorong Produk Halal Lokal Naik Kelas hingga Pasar Global lewat International Expo 2026

BSI Dorong Produk Halal Lokal Naik Kelas hingga Pasar Global lewat International Expo 2026

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 07:58 WIB

Tak Terima Hasil Sabung Ayam, Pria di Mesuji Tembak Lawan dari Jarak 2 Meter

Tak Terima Hasil Sabung Ayam, Pria di Mesuji Tembak Lawan dari Jarak 2 Meter

Lampung | Kamis, 24 September 2026 | 07:53 WIB

Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah

Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 07:50 WIB

Sri Lanka Jadi Calon Markas Baru Sindikat Penipuan Siber Internasional di Asia Pasifik

Sri Lanka Jadi Calon Markas Baru Sindikat Penipuan Siber Internasional di Asia Pasifik

News | Kamis, 24 September 2026 | 07:45 WIB

×