- Diskusi buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani di Pekan Sastra Bogor 2026 dibatalkan pada 20 September 2026.
- Pembatalan terjadi akibat ancaman penyerangan dan penolakan judul acara oleh ormas Front Persatuan Islam di Perpustakaan Bogor.
- Penulis Feby Indirani menyayangkan keputusan panitia membatalkan acara karena tunduk pada intimidasi dan ancaman kekerasan.
Suara.com - Acara diskusi buku berjudul 'Memburu Muhammad' karya penulis Feby Indirani yang sedianya digelar dalam perhelatan Pekan Sastra Bogor 2026 pada Minggu (20/9/2026) lalu terpaksa dibatalkan.
Pembatalan tersebut diduga terjadi akibat adanya tekanan dan ancaman dari organisasi kemasyarakatan (ormas).
Feby Indirani membagikan kisah tersebut kepada Suara.com, bahwa pembatalan agenda tersebut dilatarbelakangi oleh intervensi pihak luar yang menolak pelaksanaan diskusi di lokasi acara.
Dalam diskusi tersebut sedianya Feby menjadi salah satu narasumber utama bersama dengan Tenu Permana. Diskusi rencananya akan dimoderatori oleh Deden Fahmi Fadilah.
Diskusi ini menjadi sesi ketiga dari di acara Pekan Satra Bogor 2026 yang sedianya digelar di Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor.
Judul diskusi sendiri yakni "Memburu Muhammad": Bagimana Cerita Mengganggu Cara Kita Memahami Agama?.
Namun dalam unggahannya di media sosial pribadinya, Feby mengumumkan kalau diskusi tersebut terpaksa harus dibatalkan.
Ia menuliskan secara rinci alasan di balik pembatalan tersebut, utamanya karena dugaan adanya intervensi Ormas.
"Karena ada protes dari ormas yang mengaku sebagai Front Persatuan Islam, mengancam mengerahkan massa 200 orang untuk menyerang," ujar Feby saat menceritakan kepada Suara.com, dikutip Kamis (24/9/2026).
Menurut penjelasan Feby, pihak panitia sempat bertemu dengan perwakilan ormas tersebut di lokasi kegiatan, yakni Perpustakaan Bogor.
Dalam pertemuan itu, pihak ormas menyatakan keberatan mereka terhadap judul kegiatan yang akan berlangsung.
Mereka (ormas) menyatakan kegelisahan melihat judul dan subjudul acara. Panitia berusaha menjelaskan isi buku dan diskusi. Tapi ormas tidak mau menerima.
Pascapertemuan tersebut, pihak penyelenggara mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan diskusi buku Memburu Muhammad.
Terkait itu, Feby menyayangkan langkah panitia yang memilih membatalkan acara ketimbang mencari solusi alternatif agar diskusi tetap berjalan.
"Justru saat di Gmeet (Google Meet) kemarin aku menyarankan ganti saja judul dan subjudul acaraku, tapi diskusi tetap jalan. Tapi panitia memutuskan mengganti buku yang akan didiskusikan," kata Feby.

Feby sendiri mengaku sangat terpukul dan marah sebagai penulis.
"Saya marah bahwa represi kebebasan berekspresi seperti ini masih saja terjadi bahkan sesama warga, dan kita lagi-lagi mesti mengalah kepada intimidasi dan ancaman kekerasan. Ini sebuah preseden negatif," kata Feby seperti juga ditulis dalam keterangan unggahannya di media sosial pribadinya.
Dalam keluh kesahnya juga, Feby merasa ditinggalkan begitu saja oleh pihak panitia atas terjadinya preseden tersebut.
Bahkan dalam unggahan lain, Feby mengingatkan jika Pekan Sastra Bogor 2026 ini juga ada pihak Kementerian Kebudayaan yang ikut andil. Namun kehadiran pemerintah untuk melindungi warganya dirasanya nihil dalam kejadian ini.
Berdasarkan sinopsis buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani adalah kumpulan 19 cerita pendek yang memadukan genre magical realism (realisme magis) dan satir sosial.
Cerita utama yang memberi judul pada buku ini, Memburu Muhammad, berfokus pada sosok Abu Lahab tokoh penentang Nabi dalam sejarah Islam yang muncul di era modern. Abu Lahab membuat keributan di kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) karena sedang mencari sosok "Muhammad" yang asli.
Ketika ia disodori nama-nama pejabat, politisi, atau koruptor bernama Muhammad, Abu Lahab menolaknya dengan gusar sebab karakter para pemilik nama tersebut sama sekali tidak mencerminkan sifat adil, jujur, dan mulia seperti sosok Muhammad yang dicarinya.