Suara.com - Pembangunan pusat data untuk menopang pertumbuhan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia mendapat sorotan karena kebutuhan airnya. Trend Asia mempertanyakan rencana pasokan air untuk data center CGK4 milik BDx Data Centers di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
BDx pada 22 September 2026 mengumumkan pembangunan kampus pusat data berkapasitas hingga 640 megawatt (MW). Fasilitas ini terdiri atas enam gedung dan dikembangkan secara bertahap selama sekitar tiga tahun. Gedung pertama berkapasitas 120 MW ditargetkan beroperasi awal 2027.
Lokasinya sekitar lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur dengan pasokan listrik 845 MVA dari PLN. BDx menyebut fasilitas tersebut menggunakan sistem pendingin direct-to-chip liquid cooling untuk mendukung kebutuhan komputasi AI.
Namun, dalam pengumuman pembangunan tersebut, BDx tidak merinci kebutuhan air untuk operasional pusat data.
![Ilustrasi data center. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/original/2025/11/18/77947-ilustrasi-data-center.jpg)
Sorotan muncul setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut kebutuhan air fasilitas tersebut pada pengembangan berikutnya dapat mencapai 384 liter per detik. Pada tahap awal, kebutuhan air disebut sekitar 6.000 meter kubik per hari dan akan meningkat seiring pengembangan fasilitas.
Jika mencapai 384 liter per detik, kebutuhan air setara sekitar 33 juta liter per hari atau lebih dari 12 miliar liter per tahun.
Manajer Riset Trend Asia, Zakki Amali, menilai angka tersebut perlu dilihat secara serius karena pusat data membutuhkan pasokan air untuk sistem pendinginan selama beroperasi.
“Kalau 384 liter per detik, berarti sehari sekitar 33 juta liter. Setahun sekitar 12 miliar liter,” kata Zakki.
Menurut dia, persoalannya bukan hanya besaran konsumsi, tetapi juga lokasi pusat data yang berada di sekitar Waduk Jatiluhur. Waduk tersebut telah menopang kebutuhan air untuk berbagai kepentingan, mulai dari irigasi hingga kebutuhan perkotaan dan industri.
“Air untuk data center ini dibutuhkan terus-menerus. Berbeda dengan rumah tangga yang penggunaan airnya ada waktunya,” ujarnya.
Air Jatiluhur Sudah Diperebutkan Banyak Kepentingan
Pemerintah Jawa Barat menyatakan air untuk BDx tidak diambil langsung perusahaan dari Waduk Jatiluhur. Dedi Mulyadi mengatakan kebutuhan tersebut akan dipenuhi melalui PDAM sebagai konsumen komersial.
PDAM Gapura Tirta Rahayu Purwakarta juga menyebut kebutuhan BDx dapat mencapai 384 liter per detik dan pasokannya telah dibicarakan dalam kerja sama jangka panjang.
Bagi Zakki, skema tersebut tetap perlu dilihat dalam konteks neraca air secara keseluruhan. Sebab, meskipun air tidak diambil langsung oleh perusahaan dari waduk, sumber air bakunya tetap berkaitan dengan sistem yang sama.
Apalagi, akses masyarakat terhadap layanan air perpipaan di Jawa Barat belum merata. Data Pemprov Jawa Barat yang diberitakan ANTARA pada 2025 menunjukkan cakupan layanan air minum perpipaan baru sekitar 25–30 persen. Sekitar 6 juta keluarga disebut belum terlayani jaringan perpipaan.
“Jangan sampai kebutuhan industri dipenuhi, sementara kebutuhan dasar masyarakat justru tidak menjadi prioritas,” kata Zakki.
Persoalan tersebut juga menjadi lebih penting karena kondisi iklim. BMKG pada September 2026 memprakirakan El Nino berlangsung hingga awal 2027 dan memperingatkan potensi periode kekeringan yang lebih panjang.
Dalam kondisi seperti itu, Trend Asia menilai transparansi mengenai kebutuhan dan sumber air data center menjadi penting. Publik perlu mengetahui berapa kebutuhan air pada setiap tahap pengembangan, dari mana sumbernya, bagaimana alokasinya, serta bagaimana mitigasi dilakukan ketika terjadi kekeringan.
Belajar dari Persoalan Air di Batam
Zakki juga mengingatkan persoalan akses air yang muncul di sekitar kawasan data center di Batam. Ia menyebut pernah menyaksikan warga yang tinggal sekitar 1–2 kilometer dari kawasan tersebut melakukan protes karena mengalami gangguan pasokan air.
Menurutnya, warga mempertanyakan kondisi ketika air di permukiman tidak mengalir, sementara pasokan untuk kawasan industri dan data center tetap tersedia.
Ia mengakui kondisi Batam tidak bisa disamakan begitu saja dengan Jatiluhur karena karakter sumber air dan infrastrukturnya berbeda. Namun, kasus tersebut menunjukkan potensi persoalan yang perlu diantisipasi ketika kebutuhan industri terhadap air meningkat.
“Kita bisa hidup tanpa data center, tapi nggak bisa hidup tanpa air,” ujar Zakki.
Bagi Trend Asia, pembangunan infrastruktur digital untuk AI perlu berjalan seiring dengan perlindungan sumber daya air dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Dengan kapasitas CGK4 yang direncanakan mencapai 640 MW, persoalan tersebut dinilai perlu dijawab sebelum ekspansi fasilitas berlangsung lebih jauh.
Penulis: Inesia Dian