- Kementerian PU memasang tiga Early Warning System di Kabupaten Solok untuk memantau potensi bencana galodo.
- Menteri PU menginstruksikan percepatan pembangunan dua sabo dam di hulu Sungai Batang Baliang guna menahan material banjir.
- Penanganan darurat alur Sungai Batang Baliang oleh BWS Sumatera V Padang telah mencapai 740 meter.
Suara.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat mitigasi bencana banjir bandang atau galodo di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, dengan memasang tiga unit sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) dan menyiapkan pembangunan dua sabo dam di Sungai Batang Baliang.
Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko bencana susulan, terutama akibat derasnya aliran sungai serta material kayu, lumpur, dan sedimen yang berpotensi terbawa arus menuju kawasan hilir dan permukiman warga.
Menteri PU Dody Hanggodo telah menginstruksikan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air untuk mempercepat pembangunan sabo dam di bagian hulu Sungai Batang Baliang.
Infrastruktur tersebut dirancang untuk menahan material yang terbawa arus sekaligus mengendalikan aliran debris saat terjadi peningkatan debit sungai.
“Saya sudah menginstruksikan Pak Dirjen Sumber Daya Air untuk mempercepat pembangunan sabo dam. Di bagian hulu Batang Baliang harus segera dibangun, paling tidak jika masih ada kayu atau lumpur dapat tertahan di atas (hulu),” kata Dody.
Dua Sabo Dam Disiapkan untuk Kendalikan Material Galodo
Kementerian PU merencanakan pembangunan dua unit sabo dam berdasarkan kajian teknis di sepanjang alur Sungai Batang Baliang. Infrastruktur ini diharapkan mampu menahan material banjir bandang agar tidak seluruhnya bergerak menuju wilayah hilir.
Untuk mempercepat pekerjaan, Dody menginstruksikan agar komponen sabo dam diproduksi menggunakan sistem pracetak (precast) di lokasi yang aman. Komponen tersebut kemudian akan diangkut dan dipasang secara bertahap di bagian hulu sungai dengan mempertimbangkan kondisi medan serta akses menuju lokasi pembangunan.
Adapun dimensi, kapasitas tampungan, dan detail konstruksi sabo dam akan ditentukan melalui perencanaan teknis oleh Balai Teknik Sabo bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang.
Sabo dam merupakan bangunan melintang sungai yang berfungsi mengendalikan aliran material seperti batu, pasir, lumpur, dan kayu. Keberadaan infrastruktur ini diharapkan dapat mengurangi energi aliran serta menekan risiko penumpukan material dalam jumlah besar di kawasan hilir.
Tiga EWS Pantau Curah Hujan hingga Pergerakan Tanah
Selain menyiapkan infrastruktur pengendali sedimen, Kementerian PU melalui Balai Teknik Sabo telah memasang tiga unit EWS di Kabupaten Solok pada awal Oktober 2026.
Perangkat tersebut dirancang untuk memantau sejumlah parameter lingkungan, meliputi curah hujan, pergerakan atau kemiringan tanah, serta kelembapan tanah. Data yang diperoleh menjadi bahan pemantauan untuk mengidentifikasi perubahan kondisi lapangan yang berkaitan dengan potensi ancaman bencana.
Data dari sensor kemudian ditransmisikan dan ditampilkan melalui dasbor pemantauan. Sistem ini memungkinkan kondisi parameter lingkungan dipantau dan dianalisis secara berkala untuk mendukung peningkatan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana susulan.
Pemasangan EWS menjadi bagian dari upaya memperkuat mitigasi bencana di wilayah terdampak. Namun, efektivitas peringatan dini juga membutuhkan pemantauan berkelanjutan serta kesiapan masyarakat dan petugas dalam merespons potensi ancaman.
Penanganan Darurat Galodo Solok Capai 740 Meter
Di sisi lain, Kementerian PU masih melanjutkan penanganan tanggap darurat di Sungai Batang Baliang. Berdasarkan laporan per 12 Oktober 2026, pekerjaan perbaikan alur sungai dan pembersihan material banjir telah mencapai sekitar 740 meter dari target total 1.900 meter.
Pekerjaan lain yang sedang dilakukan meliputi pemasangan cobble stone dengan target sepanjang 500 meter serta pembangunan perlindungan menggunakan bronjong sepanjang 600 meter.
Untuk mendukung percepatan penanganan di lapangan, BWS Sumatera V Padang telah mengerahkan 19 unit peralatan.
Armada tersebut terdiri atas sembilan ekskavator, dua ekskavator breaker, satu ekskavator lengan panjang (long arm), tiga pompa bergerak (mobile pump), dan empat truk pengangkut (dump truck).
Kementerian PU melanjutkan penanganan darurat sembari mempersiapkan infrastruktur pengendali sedimen untuk jangka panjang. Kombinasi pembersihan alur sungai, penguatan tebing, sistem peringatan dini, dan pembangunan sabo dam diharapkan dapat membantu mengurangi risiko dampak galodo terhadap masyarakat di Kabupaten Solok.