-
Kabut asap karhutla melumpuhkan pendapatan harian pelaku UMKM dan pekerja informal daerah.
-
Indeks kualitas udara di Sumatra dan Kalimantan berada pada level sangat berbahaya.
-
Kerugian ekonomi dan biaya kesehatan akibat karhutla diperkirakan menembus ratusan triliun rupiah.
Suara.com - Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melumpuhkan ekonomi harian ribuan pelaku usaha mikro di Sumatra dan Kalimantan. Penurunan mobilitas warga di luar ruangan menjadi pemicu utama anjloknya pendapatan pedagang kecil dan pengemudi transportasi daring.
Sektor kuliner, jasa transportasi, dan akomodasi menjadi kelompok usaha yang paling cepat terkena dampak penurunan aktivitas publik. Penurunan omzet harian memukul para pekerja yang menggantungkan hidup pada lalu lintas konsumen di area terbuka.
Peneliti menggarisbawahi bahwa tekanan ekonomi ini makin parah karena tingginya paparan asap beracun yang mengancam keselamatan pekerja lapangan. Kondisi ini memperburuk situasi finansial pekerja informal karena mereka harus menanggung beban pengobatan di tengah pendapatan yang merosot.
![Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Gubernur Syarkawi yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/03/51557-kabut-asap-kalsel-kabut-asap-di-kalimantan-selatan.jpg)
"Bukan hanya omzet yang turun tajam, tapi juga biaya kesehatan karena pekerja informal menghirup asap karhutla," kata Bhima dikutip dari BBC.
Analis ekonomi menilai ancaman gangguan asap ini berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional pada periode mendatang. Penurunan produktivitas kerja dan terhentinya rantai pasok menjadi penyebab utama tertahannya laju bisnis regional.
"Karhutla berpotensi menjadi salah satu faktor yang menahan aktivitas ekonomi Indonesia pada 2026, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Dampaknya tidak hanya berasal dari kerusakan lahan dan aset, tetapi juga dari terganggunya perdagangan, pertanian, transportasi, pariwisata, dan produktivitas pekerja akibat kabut asap," kata Ronny.
Kerusakan ekonomi akibat karhutla merembet ke berbagai lini industri, mulai dari sektor produksi pertanian hingga distribusi barang logistik. Kelompok usaha mikro dan pekerja gig menanggung dampak paling parah karena tidak memiliki bantalan finansial yang kuat.
"Pedagang makanan, warung, pengemudi ojek daring, kurir, pekerja lapangan, dan usaha yang bergantung pada lalu lintas pelanggan menghadapi masalah yang sama: aktivitas ekonomi menurun, tetapi kebutuhan hidup dan sebagian biaya operasional tetap berjalan," ujarnya.
Ketimpangan kemampuan finansial membuat pelaku usaha kecil jauh lebih rentan gulung tikar dibandingkan perusahaan ber-modal besar. Ketika perusahaan besar mampu mengalihkan jalur operasional, pedagang kecil langsung kehilangan seluruh mata pencaharian harian mereka.
"Jika berlangsung lama, persoalannya bukan lagi penurunan omzet sementara, tapi risiko utang rumah tangga, pengurangan pekerja, penutupan usaha, dan melemahnya konsumsi lokal. Dengan kata lain, karhutla juga bisa memperlebar ketimpangan karena kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap masalah belum tentu memiliki kemampuan paling besar untuk menanggung kerugiannya," katanya.
Tingkat pencemaran udara di berbagai wilayah terdampak dilaporkan telah melewati ambang batas aman bagi pernapasan manusia. Angka indeks kualitas udara menunjukkan ancaman nyata terhadap keselamatan warga yang tetap beraktivitas di luar rumah.
Data Kementerian Lingkungan Hidup per Minggu, 11 Oktober mencatat kualitas udara di Palangka Raya dan Tabalong masuk dalam kategori sangat berbahaya. Angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangka Raya menembus 1.296, sementara Tabalong menyentuh 1.272.
Kondisi serupa dialami wilayah Palembang dengan ISPU mencapai 450 serta Kampar di Riau yang mencatatkan ISPU 430. Seluruh wilayah tersebut secara konsisten berada pada parameter berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Pemerintah melaporkan sekitar 10 juta jiwa terpaparnya kabut asap di berbagai daerah hingga akhir Agustus 2026. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan dampak warga tertinggi sebanyak 3,37 juta jiwa, diikuti Kalimantan Tengah sebesar 2,77 juta jiwa.
Wilayah Kalimantan Selatan mencatat 2,12 juta warga terdampak, Riau sebesar 1,21 juta jiwa, Jambi 814.228 jiwa, serta Sumatra Selatan 395.094 jiwa. Tingginya angka paparan asap berbanding lurus dengan penderita gangguan pernapasan akut di daerah tersebut.
Kementerian Kesehatan mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi selama periode Agustus hingga 21 September. Sebanyak 40.363 kasus di antaranya menyerang anak-anak balita.
Krisis ketaatan lingkungan dan pembakaran lahan secara masif di Sumatra dan Kalimantan menjadi latar belakang berulangnya bencana asap beracun ini. Paparan asap tidak hanya menimbulkan gangguan pernapasan akut dan mata, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti asma, stroke, hingga gangguan jantung.
Studi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mencatat total kerugian ekonomi akibat karhutla 2026 mendekati angka Rp30 triliun. Angka kerugian tersebut melingkupi kerusakan aset lahan, gangguan jalur perdagangan, pertanian, serta industri kuliner.
Selain kerugian fisik, potensi biaya kesehatan masyarakat akibat paparan asap diperkirakan melampaui angka Rp100 triliun. Beban keuangan ini mencakup biaya pengobatan rumah sakit, hilangnya jam kerja produktif, hingga lonjakan klaim fasilitas kesehatan BPJS.