-
Ajudan Gubernur Kaltim meminta maaf secara terbuka atas tindakan arogannya terhadap massa aksi GMNI.
-
Gesekan fisik terjadi di area Masjid Pemprov Kaltim usai mahasiswa selesai menggelar demonstrasi karhutla.
-
Pemprov Kaltim berjanji melakukan evaluasi total atas pola pengamanan dan hubungan dengan kelompok mahasiswa.
Suara.com - Permohonan maaf terbuka meluncur dari Asky Rizal Toding, ajudan Gubernur Kaltim atau Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, usai terlibat insiden perselisihan dengan aktivis GMNI Samarinda.
Langkah ini diambil setelah tindakan represif Asky di pelataran Masjid Nurul Mukminin Pemprov Kaltim pada Senin petang memicu kecaman publik.
Melalui rekaman video resmi, Asky blak-blakan mengakui keangkuhan sikapnya serta menegaskan bahwa tindakan spontan tersebut murni inisiatif pribadi tanpa arahan pimpinan.

“Saya menyadari bahwa tindakan saya tersebut adalah sebuah kesalahan dan telah menimbulkan ketidaknyamanan serta tidak ada pembenaran atas perbuatan saya,” ujar Asky dalam video klarifikasinya.
Pengakuan mengejutkan ini menjadi sorotan tajam karena memperlihatkan bagaimana standar pengamanan pejabat publik di daerah masih rentan melakukan intimidasi fisik.
GMNI Samarinda sendiri sebelumnya mendapati perlakuan tidak menyenangkan tepat seusai menggelar demonstrasi penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Kejadian bermula sekitar pukul 18.00 WITA saat deretan mahasiswa sedang beristirahat menanti ibadah Salat Magrib usai membubarkan barisan aksi.
Kehadiran Gubernur Rudy Mas’ud yang hendak beribadah memicu kader GMNI bernama Rossa Tri Rahmawati mengabadikan momen sembari bertanya alasan gubernur tak menemui demonstran.
Perilaku mendadak sang ajudan yang berupaya merebut ponsel milik Rossa menjadi pemantik utama memanasnya suasana di area ibadah tersebut.
Aksi saling dorong tak terhindarkan tatkala ajudan gubernur mendatangi aktivis lain bernama Ridwan hingga berujung pada kontak fisik secara langsung.
Asky memilih tidak membeberkan secara rinci kronologi gesekan fisik tersebut dalam video, namun dirinya menegaskan rasa penyesalannya yang mendalam.
“Sekali lagi saya memohon maaf sebesar-besarnya atas semua tindakan saya yang terlalu berlebihan dan berjanji tidak akan mengulangi kembali,” katanya.
Bagaimana Sikap Pemerintah Provinsi Kaltim Menanggapi Insiden Ini?
Suara penyesalan turut dilayangkan oleh pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim, Ririn Saridewi.
Juru bicara Pemprov ini menegaskan bahwa peristiwa kelam tersebut menjadi bahan pertimbangan penting guna membenahi pola komunikasi dengan elemen mahasiswa ke depan.
Ririn membeberkan fakta bahwa ajudan bernama Asky tersebut sejatinya merupakan anggota kepolisian aktif yang sedang ditugaskan mengawal gubernur.
Kendati demikian, pihak Diskominfo belum bisa membeberkan sanksi disiplin maupun mekanisme tindak lanjut internal atas pelanggaran etik personel pengamanan tersebut.
Peristiwa ini bermula dari aksi demonstrasi mahasiswa dalam menuntut keseriusan Pemerintah Provinsi Kaltim mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang.