- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan penurunan tingkat pengangguran terbuka dari 5,79 persen menjadi 3,5 persen.
- BPS DKI Jakarta mencatat jumlah pengangguran pada Mei 2026 mencapai 324 ribu orang atau berkurang 10 ribu orang.
- Gubernur Pramono Anung menyatakan Pemprov DKI menyediakan pelatihan bahasa asing untuk memperluas peluang kerja ke luar negeri.
Suara.com - Jumlah pengangguran di Jakarta masih mencapai 324 ribu orang pada Mei 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari 5,79 persen menjadi 3,5 persen.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan, penurunan angka pengangguran menjadi salah satu target yang ingin dicapai agar Jakarta dapat menjadi contoh bagi daerah lain.
“Sekarang ini, tingkat pengangguran terbukanya sudah turun di angka 5,79 persen, tapi saya berharap segera bisa turun di angka 3,5 persen karena bagaimanapun Jakarta bisa menjadi role model bagi daerah-daerah lain,” ujar Pramono saat membuka Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di UKM Gallery, Convention Hall SMESCO, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, jumlah pengangguran pada Mei 2026 berkurang sekitar 10 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan, penurunan tersebut diikuti peningkatan jumlah pekerja penuh. Pada Mei 2026, jumlah pekerja penuh mencapai 4,36 juta orang, naik sekitar 139 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
"Ini menunjukkan angkatan kerja selama periode Februari hingga Mei sebagian besar terserap ke dalam pekerjaan penuh atau menjadi pekerja penuh," kata Kadarmanto, Rabu (21/10/2026), mengutip dari ANTARA.
Meski demikian, jumlah pekerja paruh waktu juga meningkat dari sekitar 666 ribu menjadi 682 ribu orang. Sementara itu, jumlah setengah pengangguran turun sekitar 91 ribu orang menjadi 225 ribu orang.
Pekerja penuh merupakan mereka yang bekerja minimal 35 jam dalam seminggu. Pekerja paruh waktu bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan tidak mencari atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain. Adapun setengah pengangguran adalah pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan.
Perluas Peluang Kerja
Untuk menekan angka pengangguran, Pemprov DKI juga mendorong peningkatan keterampilan pencari kerja, termasuk melalui pelatihan bahasa asing bagi mereka yang ingin bekerja di luar negeri.
Pramono mengatakan, Jakarta telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara dan kota dunia untuk penyaluran tenaga kerja, antara lain Singapura, Jepang, negara-negara Timur Tengah, Taiwan, dan Hong Kong.
Menurutnya, kemampuan bahasa menjadi salah satu kendala yang perlu diatasi agar calon pekerja lebih siap mengisi peluang kerja di luar negeri.
“Pemerintah Jakarta akan memberikan pelatihan bahasa kepada saudara-saudara yang berkeinginan untuk bekerja di luar negeri. Yang bahasanya belum bagus, bisa memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh Pemerintah DKI Jakarta, ada yang namanya Mobile Training Center untuk pelatihan bahasa,” ujarnya.
Pemprov DKI berharap peningkatan keterampilan dan perluasan akses kerja dapat membantu menekan tingkat pengangguran sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja di Jakarta.