Curhat Warga Malaysia Tersiksa Dikirim Asap Kebakaran Hutan Indonesia: Kami Tidak Bisa Bernapas

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:25 WIB
Curhat Warga Malaysia Tersiksa Dikirim Asap Kebakaran Hutan Indonesia: Kami Tidak Bisa Bernapas
Krisis asap karhutla Indonesia memicu penderitaan fisik dan lonjakan beban finansial warga Malaysia. (BBC)
baca 10 detik
  • Bencana asap karhutla Indonesia memicu lonjakan kasus ISPA dan merugikan ekonomi Malaysia puluhan miliar.

  • Kualitas udara yang buruk memaksa warga Malaysia merogoh kocek jutaan rupiah untuk biaya medis.

  • Anggota parlemen Malaysia mendesak aksi diplomatik tegas ASEAN kepada Indonesia untuk menghentikan krisis ini.

Suara.com - Bencana asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kian menjerat warga Malaysia dalam krisis kesehatan serta beban finansial harian. Lonjakan biaya pengobatan dan penurunan drastis kualitas hidup kini menjadi realitas pahit yang membebankan masyarakat sipil di negara tetangga tersebut.

Penderitaan akibat penurunan kualitas udara ini dialami secara nyata oleh Nor Amira Mohammad Ghaus yang mendadak terkunci di ruang gerak yang sangat terbatas. Pelatih kebugaran berusia 34 tahun ini harus berjuang mengatasi serangan asma yang kian brutal sekaligus menanggung pengeluaran medis membengkak.

Kisah lain datang dari Normazura Mohd Tahir, lansia 65 tahun yang harus memendam nyeri akibat iritasi eksim parah yang terpicu oleh cemaran debu asap. Derita fisik kedua warga ini hanyalah segelintir potret kecil dari kekacauan ekologi yang melanda kawasan Selangor, Putrajaya, Melaka, hingga Negeri Sembilan.

Aksi Greenpeace di Bundaran HI kritik lambannya penanganan kebakaran hutan era pemerintahan Prabowo. (Greenpeace)
Aksi Greenpeace di Bundaran HI kritik lambannya penanganan kebakaran hutan era pemerintahan Prabowo. (Greenpeace)

Data resmi Kementerian Kesehatan Malaysia mengonfirmasi lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) sebesar 10 persen hanya dalam kurun sepekan. Angka penderita melejit tajam dari 3.509 orang pada pekan epidemiologi ke-39 menjadi 3.875 penderita pada pekan ke-40 di bulan Oktober.

Sektor finansial negara pun ikut terhantam keras oleh pekatnya polusi udara ini. Pakar ekonomi Universitas Sunway, Dr. Yeah Kim Leng, menaksir kerugian harian Malaysia berada pada rentang RM20 juta (Rp88 miliar) hingga RM50 juta (Rp220 miliar).

Esakalasi dampak negatif yang kian mengkhawatirkan mendesak legislator Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, untuk menyuarakan protes diplomatik berskala regional. Ia mendorong pemerintahnya segera mengambil langkah tegas bersama blok ASEAN guna menekan pemerintah Indonesia.

Namun, di tengah retorika politik yang berkembang, masyarakat yang harus menghirup racun udara saban hari hanya menginginkan kepastian kapan bencana ini usai. Ancaman bahaya bahkan terus mengintai meski warga berada di dalam tempat tinggal mereka sendiri.

"Bayangkan, saya berada di kamar sendiri dengan air purifier dan saya tetap tidak bisa bernapas," katanya, dikutip dari BBC.

Penetapan status udara 'tidak sehat' di Lembah Klang—dengan indeks IQAir menyentuh 168—memaksa Nor Amira bergantung sepenuhnya pada obat-obatan keras. Dokter spesialis telah meresepkan racikan steroid serta menginstruksikannya untuk tidak beraktivitas di luar gedung.

baca juga

Kondisi terisolasi ini menghantam keras pola hidup Amira yang berprofesi di bidang olahraga. Kebebasannya menikmati alam terbuka runtuh seketika akibat bencana ekologis ini.

"Saya sebenarnya orang yang sangat aktif. Saya atlet," ujarnya.

Amira membeberkan bahwa rutinitas eksplorasi alam yang biasa ia jalani kini terhenti total. Kebiasaan mendaki gunung hingga menyusuri air terjun kini tinggal kenangan akibat pekatnya partikel polusi di udara.

"Saya suka melakukan aktivitas luar ruangan seperti mendaki gunung atau pergi ke air terjun," katanya.

"Dan ini terpaksa harus berhenti."

Pembatasan aktivitas ini berbanding lurus dengan pengeluaran bulanan Amira yang melesat tajam. Pengadaan pasokan inhaler tambahan menjadi kewajiban mutlak demi menyambung napas di tengah intaian gejolak asma mendadak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kecelakaan Maut Dekat Kedubes Malaysia: Pikap Terguling, 1 Korban Tewas dan 5 Luka

Kecelakaan Maut Dekat Kedubes Malaysia: Pikap Terguling, 1 Korban Tewas dan 5 Luka

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:14 WIB

Anggota Parlemen Malaysia Sindir Kebakaran Hutan Pakai Bahasa Jawa, Colek Prabowo

Anggota Parlemen Malaysia Sindir Kebakaran Hutan Pakai Bahasa Jawa, Colek Prabowo

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 13:11 WIB

Internasional Sorot Prabowo 'Caci-maki' Negara yang Menghina Indonesia Terkait Kebakaran Hutan

Internasional Sorot Prabowo 'Caci-maki' Negara yang Menghina Indonesia Terkait Kebakaran Hutan

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:41 WIB

Terkini

Danantara Sebut Saham BUMN Menarik Dikoleksi, Ini Alasannya

Danantara Sebut Saham BUMN Menarik Dikoleksi, Ini Alasannya

Bisnis | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Petani Rela Tinggalkan Cangkul di Sawah, Heboh Jet Tempur F-16 Mendarat di Tol Paspro

Petani Rela Tinggalkan Cangkul di Sawah, Heboh Jet Tempur F-16 Mendarat di Tol Paspro

Jatim | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Definisi Korupsi Dikaji Ulang, Kepentingan Rakyat Jangan Terabaikan

Definisi Korupsi Dikaji Ulang, Kepentingan Rakyat Jangan Terabaikan

Your Say | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Pemukulan Siswa di Batam, Orang Tua Korban Ngaku Diintimidasi Lapor Polisi

Pemukulan Siswa di Batam, Orang Tua Korban Ngaku Diintimidasi Lapor Polisi

Batam | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:40 WIB

Saat Generasi 2000-an Bernostalgia, Y2K hingga Game Legendaris Kembali Hadir di Festival Ini!

Saat Generasi 2000-an Bernostalgia, Y2K hingga Game Legendaris Kembali Hadir di Festival Ini!

Lifestyle | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:38 WIB

3 Lambang Zodiak Pisces dan Makna Di Baliknya

3 Lambang Zodiak Pisces dan Makna Di Baliknya

Lifestyle | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:35 WIB

Telkom Hadirkan Inovasi Pembelajaran Numerasi untuk 100 Sekolah di Wilayah 3T

Telkom Hadirkan Inovasi Pembelajaran Numerasi untuk 100 Sekolah di Wilayah 3T

Bisnis | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:34 WIB

Dituding Sudutkan Ruben Onsu Lewat Syarat Tes Kesehatan untuk Bertemu Anak, Ini Pembelaan Sarwendah

Dituding Sudutkan Ruben Onsu Lewat Syarat Tes Kesehatan untuk Bertemu Anak, Ini Pembelaan Sarwendah

Entertainment | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:34 WIB

Tabanan Bali Diselimuti Kabut Putih Misterius, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG

Tabanan Bali Diselimuti Kabut Putih Misterius, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG

Bali | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:33 WIB

Ekonomi Kreatif Bisa Dorong Pertumbuhan Negara-negara Global South

Ekonomi Kreatif Bisa Dorong Pertumbuhan Negara-negara Global South

Bisnis | Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:32 WIB

×