- Perkembangan AI dan LLM memungkinkan pengguna memperoleh jawaban langsung dari mesin pencari tanpa mengunjungi situs berita, sehingga menantang traffic media online.
- Head of Tech Development Suara.com Andrei Bhayu menyebut traffic dari Google Search dan Google Discover mulai menurun.
- Untuk menghadapi perubahan tersebut, media perlu menerapkan alur kerja AI yang terstruktur, memantau distribusi konten, serta mengukur efektivitas strategi yang dijalankan.
Suara.com - Head of Tech Development Suara.com Andrei Bhayu mengatakan, perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara masyarakat mengakses informasi sekaligus menghadirkan tantangan bagi traffic media online.
Pengguna kini bisa memperoleh jawaban langsung melalui mesin pencari dan large language model (LLM) tanpa perlu mengunjungi situs berita.
“Ngapain saya ngeklik? Orang semuanya sudah bisa dijawab tuh sama si Google, sama si large language model yang lainnya,” kata Andrei dalam acara Local Media Summit di Manhattan Hotel, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Kondisi tersebut membuat konten media tidak selalu menghasilkan kunjungan ke situs penerbit. Informasi yang dicari pengguna sudah tersedia di hasil pencarian sebelum mereka mengeklik tautan berita.
Akibatnya, media menghadapi tantangan untuk mempertahankan traffic dari distribusi konten melalui berbagai platform digital.
“Nilai konten muncul sebelum kunjungan. Jadi sebelum klik, ya sudah, semua daftar di situ sudah jadi jawaban. Jadi, sudah enggak ada lagi tuh nanti rujukan ke website,” ujarnya.
Selain perubahan perilaku pengguna, distribusi traffic media juga menghadapi perubahan pada platform yang selama ini menjadi sumber kunjungan, seperti Google Search dan Google Discover.
Andrei menyebut kedua layanan tersebut mulai menunjukkan penurunan traffic dalam beberapa waktu terakhir.
“Google Search itu mulai turun. Google Discover ini akhir-akhir ini sudah mulai turun nih,” katanya.
Di sisi lain, perkembangan AI memungkinkan pembuatan agen AI yang dapat menjalankan tugas secara rutin, termasuk melakukan aktivitas untuk meningkatkan interaksi akun.
Kemampuan tersebut perlu menjadi perhatian karena AI dapat bekerja berdasarkan perintah dengan memanfaatkan akses ke berbagai perangkat maupun layanan.
“Tinggal memerintahkan aja, tolong, tolong boosting untuk akun ini. Segampang satu menit, satu menit kemudian boosting lagi, boosting lagi, boosting lagi. Itu segampang perintah yang teman-teman lakukan,” tuturnya.
Meski demikian, Andrei menekankan bahwa media tetap membutuhkan alur kerja yang terstruktur dalam memanfaatkan teknologi. Proses tersebut mencakup pengolahan bahan baku, pemeriksaan akurasi konten, pengembangan agen AI, hingga distribusi dan evaluasi hasilnya.
Pemanfaatan AI juga perlu disertai pemantauan dan pengukuran agar media dapat menilai efektivitas strategi yang dijalankan.
“Karena apa pun modelnya, apa pun otak dari AI, yang paling penting adalah mekanismenya atau workflow-nya. Dari bahan baku, terus dari akurasi konten menjadi agen yang bagus, lalu pendistribusiannya kayak gimana, itu teman-teman mesti monitoring. Dan teman-teman harus punya metriknya,” pungkasnya.
Reporter : Agustin Dwi Anggraini