NTB.suara.com - Gunung Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia yang berada di Pulau Lombok, memiliki sejarah yang kaya dan erat kaitannya dengan legenda setempat serta kearifan lokal yang tak ternilai. Mari kita simak asal-usul nama Gunung Rinjani dan bagaimana cerita rakyat Dewi Anjani menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas gunung ini.
Dikutip dari laman Kemendibud, Minggu 17 September 2023. Cerita rakyat, sebagai warisan budaya, memainkan peran penting dalam membentuk pandangan hidup dan nilai-nilai masyarakat. Setiap tempat di Indonesia memiliki cerita rakyatnya sendiri, dan dalam hal ini, kita fokus pada legenda setempat Gunung Rinjani. Legenda ini tidak hanya sekadar kisah, tetapi juga mengandung nilai-nilai yang menginspirasi perilaku, bermasyarakat, dan berbangsa.
Nama Gunung Rinjani memiliki sejumlah asal-usul yang menarik. Salah satunya adalah kata "rinjani" yang, menurut beberapa sumber, berarti "tinggi dan tegak." Ini cocok dengan karakteristik geografis gunung ini, yang menjadi gunung tertinggi kedua di Indonesia. Nama Gunung Rinjani juga mungkin berasal dari kata "Rara Anjani," yang kemudian berubah menjadi "Renjani." Ada keterkaitan antara nama ini dengan Dewi Anjani atau Dewi Rinjani, yang merupakan tokoh penting dalam cerita rakyat setempat.
Dewi Anjani adalah tokoh sentral dalam cerita rakyat Gunung Rinjani. Dia adalah ratu jin yang tinggal di puncak gunung ini. Beberapa versi cerita menyebutkan bahwa Dewi Anjani adalah seorang manusia yang berubah menjadi ratu jin karena patuh pada orang tuanya.
Di mana Gunung Rinjani diyakini oleh penduduk sekitar dihuni oleh komunitas bangsa jin yang sebagian besar mereka beragama Islam. Bangsa jin itu dipimpin oleh ratu jin yang bernama Dewi Anjani. Dia bersemayam di puncak Gunung Rinjani. Dari puncak ke arah tenggara terdapat sebuah lautan debu (kaldera) yang dinamakan Segara Muncar. Konon, pada saat-saat tertentu dengan kasat mata dapat terlihat istana ratu jin. Pengikutnya merupakan golongan jin yang baik-baik.
Kisah mengenai Dewi Anjani juga terdapat dalam manuskrip yang berjudul “Doyan Neda”. Pada manuskrip itu dikisahkan Dewi Anjani yang memiliki julukan Ratu Mas Prawira mempunyai sepasang burung yang sakti, yang berparuh besi melela dan berkuku dari besi melela pula. Dalam cerita itu disebutkan bahwa sepasang burung inilah yang mengais-ngais gunung sehingga gunung tersebut menjadi datar dan menjadi sebuah pulau. Pulau baru itu dinamai pulau sasak karena rapat oleh pepohonan.
Suatu hari, Dewi Anjani diingatkan oleh Patih Songan akan pesan kakeknya Nabi Adam supaya mengisi pulau baru itu dengan cara mengubah sekelompok jin bangsawan menjadi manusia. Ini merupakan kisah mengenai asal usul terjadinya manusia di pulau Lombok. Bagi masyarakat Sasak terutama generasi lama menghayati cerita itu seperti cerita tentang leluhur mereka yang benar-benar terjadi dan mereka menghormati Dewi Jin yang bernama Dewi Anjani itu.
Cerita ini juga terkait dengan penyebaran agama Islam di Lombok, di mana Dewi Anjani dikaitkan dengan Gaoz Abdul Razak, seorang syeikh dari Arab Saudi. Ini menciptakan hubungan antara legenda setempat dan agama Islam.
Cerita Dewi Anjani mencerminkan kearifan lokal yang mengakar dalam masyarakat Lombok. Beberapa nilai-nilai yang dapat dipetik dari cerita ini meliputi:
Baca Juga: Phoenix Bisa Jadi Garpu Tala: Ini Juga Beda Yamaha Motor & Music
Patuh pada orang tua: Kisah Dewi Anjani menunjukkan betapa pentingnya patuh pada orang tua dalam budaya setempat.
Kasih sayang: Dewi Anjani dipahami sebagai tokoh yang penuh kasih sayang, yang menginspirasi masyarakat untuk bersikap welas asih.
Tradisi Menyembe dan Wetu Telu: Ritual seperti "menyembe" masih dilakukan sebagai bagian dari tradisi untuk melindungi orang yang akan mendaki Gunung Rinjani.
Kearifan lokal "wetu telu": Falsafah "wetu telu" yang menggabungkan unsur agama Islam dengan kepercayaan setempat masih memainkan peran penting dalam masyarakat Bayan.
Tradisi Hindu: Masyarakat Hindu di Lombok juga memiliki tradisi yang terkait dengan cerita Dewi Anjani, seperti upacara "pakelem" yang dilakukan pada malam bulan purnama.
Dengan demikian, Gunung Rinjani tidak hanya menjadi puncak fisik yang megah, tetapi juga simbol kearifan lokal, harmoni budaya, dan percampuran beragam tradisi yang membentuk identitas yang unik bagi Pulau Lombok. Kisah Dewi Anjani dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya menghidupkan sejarah dan makna gunung ini bagi masyarakat setempat, menjadikannya lebih dari sekadar objek alam, melainkan bagian tak terpisahkan dari budaya dan warisan mereka. (*)