-
Shockbreaker bocor pengaruhi kenyamanan dan kestabilan handling saat motor melakukan manuver.
-
Hindari membawa beban berlebih dan memakai aksesori peninggi yang merusak fungsi suspensi.
-
Rutin bersihkan komponen dan segera ganti seal karet yang mengeras atau bocor.
Suara.com - Sering kaget saat motor tiba-tiba terasa "jedug" keras waktu lewat polisi tidur? Atau bagian belakang bodi motor serasa membuang saat dipakai menikung agak tajam?
Kalau sudah begini, jangan buru-buru menyalahkan tekanan angin ban. Coba tengok ke area bawah, bisa jadi shockbreaker atau suspensi belakang motor Anda sudah mulai 'kelelahan'.
Banyak pengendara awam mengira komponen ini cuma berfungsi sekadar per-peran biasa buat empuk-empukan. Padahal, tugas aslinya jauh lebih berat dari itu.
Suspensi belakang adalah kunci utama yang menjaga kestabilan bodi motor tetap menapak sempurna ke aspal, apalagi saat Anda harus bermanuver mendadak atau membelah kemacetan.
Rusaknya peredam kejut ini jarang terjadi dalam semalam. Biasanya, ada rentetan kebiasaan sepele sehari-hari yang diam-diam menyiksa komponen tersebut sampai akhirnya bocor dan mati total.
Nah, sebelum merembet dan mengorbankan keselamatan berkendara di jalan, ada baiknya kita pahami dulu apa yang sebenarnya terjadi pada suspensi motor kesayangan.
"Ketika shockbreaker belakang bocor atau rusak, hal tersebut pasti akan mempengaruhi kenyamanan pengguna serta merubah kestabilan handling saat digunakan untuk bermanuver," ungkap Technical Training Coordinator Astra Motor Yogyakarta Danang Priyo Kumoro.

Merespons banyaknya keluhan soal suspensi keras, Danang membeberkan lima langkah simpel yang wajib diperhatikan para pemilik motor agar peredam kejut tetap awet. Berikut rinciannya:
1. Rajin cuci dan bersihkan area suspensi
Langkah paling dasar biar suspensi awet adalah menjaganya tetap bersih. Sisa lumpur, debu jalanan, atau pasir yang dibiarkan menempel lama-lama bisa merobek seal karet pelindung dan menggores as piston. Kalau sudah baret, oli suspensi pasti gampang merembes keluar dan bikin bantingan motor langsung terasa keras.
2. Setop pakai aksesori peninggi abal-abal
Suka modifikasi gaya nungging pakai anting atau peninggi shockbreaker? Sebaiknya hentikan kebiasaan ini. Memaksakan pasang aksesori di luar standar pabrik malah bikin sudut kerja suspensi berubah. Efeknya, komponen collar di dalam shockbreaker tidak bisa meredam guncangan secara maksimal.
3. Jangan paksakan jadi motor angkut
Tiap motor punya batas maksimal beban bawaan yang sudah diukur oleh pabrikan. Sering berboncengan lebih dari kapasitas atau membawa barang bawaan kelewat berat bakal memaksa suspensi bekerja melampaui limitnya. Semakin sering disiksa dengan beban berlebih, umur pakai komponen ini dipastikan bakal makin pendek.
4. Kurangi kecepatan saat hajar jalan keriting
Melihat jalanan rusak atau berlubang di depan mata? Jangan asal bablas. Biasakan turunkan kecepatan sebelum melewatinya. Menghajar lubang dalam kecepatan tinggi bakal memberikan efek benturan (impact) yang luar biasa keras. Kalau diteruskan, hal ini tidak hanya merusak motor, tapi juga sangat rawan memicu kecelakaan.
5. Cepat ganti seal karet yang sudah getas
Kalau Anda melihat seal karet pelindung di shockbreaker sudah mulai kaku, retak-retak, atau bahkan terlihat ada rembesan basah dari oli, jangan ditunda lagi untuk membawanya ke bengkel.
Karet yang rusak bikin debu makin leluasa masuk ke dalam. Satu hal yang pasti: setiap kali pasang seal baru, oli suspensi juga wajib ikut dikuras dan diganti agar takarannya kembali pas.
"Jangan lupa untuk melakukan perawatan berkala di bengkel AHASS terdekat. Pemeriksaan berkala yang dilakukan oleh mekanik profesional dan berpengalaman akan menjaga kondisi sepeda motor dan seluruh komponennya tetap dalam kondisi prima," pesan Danang Priyo Kumoro.