- General Motors memperkenalkan strategi kecerdasan buatan pada acara GM Forward untuk menghadapi persetujuan pabrikan China.
- Produsen otomotif asal Amerika Serikat itu menargetkan pemangkasan waktu pengembangan kendaraan dari lima tahun menjadi dua tahun.
- Pemanfaatan rekayasa virtual dan pengujian digital diterapkan untuk mempercepat alur kerja serta mendongkrak efisiensi produksi kendaraan.
Suara.com - General Motors (GM) memperkenalkan strategi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam acara GM Forward. Produsen otomotif asal Amerika Serikat tersebut menargetkan pemangkasan waktu pengembangan mobil hingga separuh dari proses konvensional yang selama ini membutuhkan waktu empat hingga lima tahun.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi GM meningkatkan daya saing terhadap produsen otomotif China yang dikenal memiliki siklus pengembangan sangat cepat. Selain itu, perusahaan turut memperlihatkan platform kendaraan listrik generasi keempat dengan teknologi baterai baru, sistem komputasi terpusat, serta perluasan fitur berkendara otonom.
Kombinasi teknologi AI, rekayasa virtual, dan penyederhanaan komponen dirancang untuk mempercepat alur kerja sekaligus mendongkrak efisiensi produksi. Perubahan sistemik tersebut tidak hanya difokuskan pada lini kendaraan listrik, tetapi juga bakal diterapkan pada model berbahan bakar bensin.
Melalui strategi baru ini, GM membidik pengurangan siklus pengembangan kendaraan dari lima tahun menjadi dua tahun. Target tersebut dipatok demi mengimbangi pabrikan China yang rata-rata sanggup meluncurkan model baru dalam durasi dua hingga tiga tahun saja.
Chief Product Officer GM Sterling Anderson menjelaskan bahwa perusahaan memanfaatkan data teknik serta manufaktur yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun untuk mempercepat seluruh tahapan. Perubahan utama terletak pada penggunaan AI yang menggantikan proses rekayasa berurutan menjadi pendekatan paralel dan pengujian berbasis digital.
Pendekatan virtual ini memungkinkan berbagai alternatif desain diuji secara digital sebelum tim membangun prototipe fisik. Evaluasi desain dapat berjalan cepat tanpa harus menunggu pengujian konvensional rampung.
Sebagai gambaran, tim insinyur GM sukses mengevaluasi lebih dari 300.000 desain virtual untuk paket baterai lithium manganese-rich (LMR) sebelum merakit prototipe perdana. Proses tersebut memangkas waktu persetujuan program resmi paket baterai menjadi satu bulan saja.
Data komponen, material, hingga proses manufaktur diolah menjadi model digital kendaraan dan fasilitas produksi. Hal ini memungkinkan simulasi perakitan dilakukan secara presisi sebelum diterapkan di pabrik fisik.
Meski produsen China unggul lewat ekosistem pemasok terintegrasi, GM optimistis mampu mengimbangi kecepatan tersebut melalui pemanfaatan data internal dan rekayasa virtual, walau target dua tahun ini masih berupa sasaran pengembangan perusahaan.