alexametrics

Ketika Ganja Legal Menjadi Makin Langka di Masa Pandemi Corona

dw
Ketika Ganja Legal Menjadi Makin Langka di Masa Pandemi Corona

Menurut para pengamat dari analis industri ganja Headset, penjualan ganja di Amerika Serikat pada pertengahan Maret melonjak drastis dengan pertumbuhan penjualan mencapai 64 persen, tingkat pertumbuhan tertinggi sejak awal 2019. Lonjakan drastis itu terutama disebabkan karena banyak orang khawatir, apotik-apotik yang menjual ganja akan ditutup karena kebijakan lockdown.

Bulan April lalu, beberapa negara bagian AS bahkan mendeklarasikan ganja sebagai "barang kebutuhan pokok" seperti halnya makanan. Kebijakan ini memungkinkan apotik-apotik menawarkan penjualan ganja secara online.

Pendiri biro konsultan Prohibition Partners Stephen Murphy mengatakan, kebijakan negara-negara bagian AS untuk menjamin penjualan ganja selama pandemi corona menunjukkan bahwa industri ganja “sudah mulai berakar” di perekonomian AS. Prohibition Partners adalah konsultan bisnis dan penyedia data terkemuka di industri ganja global, dengan kantor cabang di London, Barcelona dan Dublin.

Bagaimanapun, pandemi corona membuat banyak investor jadi lebih berhati-hati, kata Stephen Murphy kepada DW. Akibatnya, dukungan kepada startup ganja makin berkurang dan makin lambat. "Industri ini masih cukup baru dan membutuhkan banyak dana untuk kerja lobi, peralatan dan personil. Kami melihat banyak perusahaan yang sekarang berjuang untuk mempertahankan likuiditas," katanya.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Bertanam ganja

Dekat kota Merced di sebuah lembah di tengah California, para 'biarawati' yang tergabung dalam "Sisters of the Valley" ini bukan hanya bercocok tanam buah, sayur dan kacang-kacangan. Mereka juga bertanam dan memanen: ganja.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Bukan biarawati biasa

Mereka bukanlah biarawati biasa yang dikenal akrab dengan ruang lingkup gereja Katholik. Meski berhaluan monatisisme, para biarawati tidak termasuk dalam ordo Katolik manapun, Namun para perempuan ini saling memanggil rekannya dengan istilah 'suster' atau saudara perempuan lebih karena kebiasaan. Persaudaraan itu berdiri sejak tahun 2014.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Dari 'Sister Occupy' menjadi Suster Ganja

Tokoh di balik 'sisterhood' ini adalah Suster Kate yang bernama asli Christine Meeusen. Ia berpakaian ala biarawati Katholik, bergabung dengan gerakan protes Occupy Wall Street di AS tahun 2011. Ia mendorong orang-orang agar menaruh perhatian pada isu-isu publik.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Menasbihkan diri sendiri

Para ‘suster’ ini menasbihkan diri mereka sendiri sebagai sekelompok biarawati, tapi tidak terkait dengan agama mana pun. Mereka menanam ganja yang nantinya dipanen dan dijual sebagai obat. Mereka mengklaim kalau produk yang mereka jual 100 persen organik. Produk yang mereka buat dari daun ganja pilihan dapat mengobati berbagai penyakit,

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Lima elemen

"Ketika orang mengatakan, 'Toh, mereka bukan biarawati sejati,' jawab Suster Kate: tidak ada biarawati. Mereka punah di negeri ini. "Jika Anda mencari apa yang mendorong persaudaraan perempuan, ada lima elemen ... Kita hidup bersama, kita mengenakan pakaian yang sama, kita bersumpah untuk mematuhi siklus bulan, kita bersumpah demi kesucian dan ekologi.”

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Mengeringkan daun ganja

Daun-daun ganja ini mereka keringkan sebelum diproduksi.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Produk-produk berbasis ganja

Suster Freya membuat salep dan tonik dari bahan cannabidiol CBD yang memiliki sifat analgesik, anti-inflamasi dan anti rasa cemas. Para 'biarawati ganja' ini menjelaskan bahwa daun dan galur mariyuana, memiliki tingkat Tetrahydrocannabinol (THC) yang sangat rendah.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Dikemas kecil-kecil

Minyak dan kandungan CNB dari ganja saat dikemas di dalam wadah kecil sebelum dipasarkan. Produk-produk mereka juga dijual lewat online ke Kanada.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Obat migran dan penyakit lainnya

Namun, para “suster” ini mengatakan tidak pernah memproduksi zat THC yang dapat menyebabkan penggunanya mabuk. Mereka membuat minyak CBD yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit di antaranya migrain, pusing, sakit telinga, dan sakit gigi.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Keuntungan dari bertanam ganja

Saat ini, Sisters of the Valley menjalankan toko yang sangat sukses yang menjual produk ganja di Etsy, dengan hasil penjualan setinggi US$ 40.000 per bulan. mereka meraup keuntungan ratusan ribu dollar AS pada tahun 2016. Keuntungan disumbangkan ke berbagai pihak dan diinvestasikan kembali dalam produk untuk pembibitan.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Umat Katholik mentolerir para 'biarawati' ini?

Lebih dari dua lusin negara bagian AS telah melegalkan beberapa bentuk ganja untuk penggunaan medis atau rileksasi, namun obat tersebut tetap ilegal di tingkat federal. Kalifornia melegalkan penggunaan ganja untuk rileksasi pada November 2016. “Sejauh ini, umat Katolik memahami apa yang sedang kami lakukan," klaim Suster Kate.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Pantang mundur

Bisnis “biarawati” ini terancam ditutup akibat rencana pelarangan pertanian ganja di wilayah Mercer, Kalifornia.Pemerintahan Donald Trump dan Jaksa Agung Jeff Sessions, pengkritik legalisasi ganja, telah jadi kekhawatiran beberapa industri ganja yang baru dilegalkan di negara ini. Tapi "biarawati gulma" itu mengatakan bahwa pemerintahan baru tak kendurkan tekad mereka.

Bisnis Ganja Para 'Biarawati' Produk lainnya

Tak hanya minyak, tonik dan salep, ada pula produk lain ynag diproduksi para 'Sistes of the valley' ini. Sabun ini juga terbuat dari bahan mariyuana. Namanya: Sabun Kudus. (Ed:Purwaningsih/Farid)

Pandemi Corona pemicu kepunahan

Ketika legalisasi ganja makin meluas dan permintaan ganja rekreasi maupun ganja medis terus naik, banyak investor yang mencoba keberuntungan di bisnis baru ini. Namun sekarang di tengah krisis corona, beberapa perusahaan ganja terancam kehabisan dana karena mereka sulit mendapat kredit baru. Dalam beberapa bulan ke depan, pasar modal juga diperkirakan masih akan memandang lesu pada prospek industri ganja.

Awal April lalu, harian bisnis "Marijuana Business Daily“ mengeluarkan analisis atas 33 perusahaan ganja terkait arus kas operasi mereka, kas di tangan, fasilitas kredit yang belum digunakan dan utang atau ekuitas baru. Setelah mengurangi pengeluaran modal dan utang perusahaan yang jatuh tempo pada tahun 2020, harian itu memprediksikan bahwa delapan perusahaan akan bangkrut dalam 10 bulan ke depan.

Laporan itu menyimpulkan, pandemi corona menjadi "peristiwa berdampak kepunahan bagi beberapa perusahaan." Terutama performa perusahaan-perusahaan perintis di Kanada, yang tahun 2018 berebut mendapatkan lisensi, ternyata mengecewakan investor. Perusahaan-perusahaan itu selanjutnya gagal menarik lebih banyak investasi.

Indeks saham ganja versi Bloomberg, The Bloomberg Intelligence Global Cannabis Competitive Peers Index, antara pertengahan Februari dan pertengahan Maret lalu sempat anjlok lebih dari 50%, dan mencatat rekor terendah baru. Dibandingkan perdagangan setahun yang lalu, indeks saham itu bahkan telah kehilangan dua pertiga nilainya.

Pasar ganja di Jerman baru menggeliat

Di Jerman, konsumsi ganja untuk tujuan rekreasi masih dilarang. Tetapi penggunaan ganja untuk kepentingan medis, misalnya untuk mengobati penyakit, sudah diijinkan sejak 2017.

Kendala besar bisnis ganja di Jerman: asuransi kesehatan publik masih enggan membayar biaya perawatan dengan ganja. Padahal otoritas obat-obatan Jerman BfArM menyatakan, omset perawatan berbasis ganja cukup stabil. Total penjualan tahun 2019 tumbuh menjadi € 120 juta euro, dengan lebih dari 50 petani ganja telah memenangkan tender untuk memasok 10.400 kilogram ganja selama empat tahun ke depan.

Sejak Jerman melegalkan ganja medis tiga tahun lalu, kebutuhan pasar harus dipenuhi dengan impor dari Belanda dan Kanada. Jadi sebenarnya ada masih peluang di bisnis ganja. Namun Stephen Murphy mengatakan, kebijakan lockdown di Jerman dan Eropa menyulitkan rantai pemasokan, sehingga ganja untuk kepentingan medis dan pengobatan menjadi barang langka di pasaran. hp/yf  

Terkini