alexametrics

Catatan: Cuma Berharap Vaksin Pemerintah, Lampung Sulit Keluar dari Zona PP

Catatan: Cuma Berharap Vaksin Pemerintah, Lampung Sulit Keluar dari Zona PP
Catatan: Cuma Berharap Vaksin Pemerintah, Lampung Sulit Keluar dari Zona PPKM

Sekretaris Provinsi Lampung Fahrizal Darminto (kiri)n saat meninjau vaksinasi Gotong Royong di PT Coca-Cola Europacific Partners, Tanjungbintang, Lampung Selatan, Selasa (3/8/2021). LAMPUNGPRO.CO/AMIRUDDIN SORMIN

Rabu, 04 Agustus 2021       132 Views      Amiruddin Sormin      Bandar Lampung
BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Dua kali perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) cukup sudah untuk menyimpulkan bahwa Lampung bakal sulit keluar dari zona PPKM. Jangankah keluar naik level dari 4 ke 3 pun nampaknya akan sulit.


Terlebih kini, tinggal menunggu waktu seluruh Lampung akan zona merah, karena berdasarkan laporan Gugus Tugas Pusat Covid-19, hanya Kabupaten Way Kanan dan Mesuji yang tersisa di zona orange. Sementara, 13 kabupate/kota lain masuk zona merah.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Lampung, hingga Selasa (3/8/2021) terjadi kenaikan kasus positif sebanyak 599 sehingga jumlahnya menjadi 36.419 kasus. Angka sembuh 27.804, dan meninggal 2.352. Mirisnya, hingga kini Lampung masih menduduki posisi kedua nasional kasus meninggal karena terpapar Covid-19.

Sulitnya Lampung menurunkan angka positif Covid-19 karena penanganannya masih bertumpu pada pada pemerintah, TNI, dan Polri. Hal ini tampak dari kucuran dana dan pembagian vaksin yang selalu mengucur pada tiga instansi tersebut. 

Rakyat cuma dijadikan obyek ceramah, sosialisasi, dan tujuan pemberian bantuan. Kalau tak patuh kena hukuman. Sampai kapan ketiga instansi itu kuat? Di sinilah titik krusialnya, karena kalau sampai ketiganya mengibarkan bendera putih, tamatlah perang melawan Covid-19 ini.

Naiknya kasus Covid-19 di Lampung, menunjukkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan masih rendah. Tingginya kematian, akibat belum baiknya infrastruktur kesehatan. Ambil contoh soal oksigen. Ketika provinsi lain seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat, berlomba-lomba mengambil oksigen ke provinsi tetangga di Sumatera Selatan, Lampung baru 'ngeh', eh ternyata tetangga punya oksigen.

Kurangnya pasokan oksigen juga menjadi salah satu penyebab tingginya kematian di Lampung. Masyarakat sulit mencari oksigen untuk isolasi mandiri. Sementara stok oksigen di berbagai rumah sakit perawatan pasien Covid-19, seperti 'senen-kemis' kadang ada kadang kosong. Kalau pun ada stoknya tipis.

Faktor penting lainnya yang tak kalah penting adalah persoalan vaksin. Sejak vaksinasi pertama berlangsung di Lampung pada 19 Januari 2021, hingga kini semua masih mengandalkan vaksin pemerintah. 

Wajar kalau kemudian vaksinasi seperti berjalan di tempat. Bahkan untuk vaksin kedua pun sudah terlambat diberikan. Meski belum diketahui dampak keterlambatan vaksin kedua ini, tentu amat disayangkan jika antusias masyarakat untuk divaksin tak sebanding dengan ketersediaan vaksin.

Simaklah data Pemerintah Provinsi Lampung, dari total sasaran vaksinasi 6,64 juta pada vaksin tercapai 9,28% atau 616.851 penerima dan vaksin kedua tercapai 5,83% atau 387.598 penerima.

Dari jumlah 6,64 juta sasaran itu sebanyak 4,61 juta masyarakat rentan dan umum. Hingga, Senin (2/8/2021), pada vaksinasi pertama tercapai 3,33% atau 153.544 penerima dan pada vaksinasi kedua tercapai 1,91% atau 88.083 penerima.

Rendahnya vaksinasi inilah yang memperlambat herd immunity (kekebalan kelompok terjadi). Di sisi lain serangan varian Delta begitu mengganas, hingga tiap hari pengumuman warga meninggal bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid lain. Raungan sirene ambulans pembawa jenazah seolah tak berhenti.

Sulitnya Lampung kembali ke zona hijau dan kuning karena vaksinasi belum mencapai 50%, sebagai salah satu syarat menurunkan level PPKM. Kondisi makin sulit kalau hanya berharap vaksin pemerintah yang datangnya kini per minggu. 

Berdasarakan Surat Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor: SR.02.06/II/2000/2021 per 29 Juli 2021 yang diteken Maxi Rein Rondonuwu, disebutkan Lampung mendapat jatah 122.600 dosis pada minggu pertama Agustus 2021. Perinciannya, untuk dosis pertama 22.200 dan 100.400 untuk dosis kedua. Dosis tersebut dibagi tiga yakni untuk Dinas Kesehatan 61.300 dosis, TNI 30.650 dosis, dan Polri 30.650. 

Kalau berharap jumlah dosis vaksin pemerintah, percayalah hingga akhir 2021, belum semua sasaran yakni 6,64 juta warga Lampung dapat divaksin. Wajar jika kemudian, Lampung akan terus menerus zona merah, bahkan bisa jadi zona hitam.

Pada kondisi inilah saya teringat pada konsep 'perjuangan rakyat semesta' yang dipakai para Bapak Bangsa kita dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia ini. Pada saat itu, semua rakyat dikerahkan untuk melawan penjajah. Semua potensi dikerahkan tanpa mengenal suku, agama, dan golongan.

Membiarkan pemerintah, TNI, dan Polri berperang sendirian, hanya akan menunggu waktu mereka angkat bendera putih. Faktanya sudah ada bupati di Tanah Air yang menyatakan menyerah. Ini tinggal menunggu waktu.

Dari kondisi itulah, saya melihat potensi Vaksin Gotong Royong bisa dijadikan bagian dari 'perjuangan rakyat semesta'. Sudah waktunya, Vaksin Gotong Royong ini dapat dimanfaatkan untuk membantu vaksin pemerintah untuk mempercepat jumlah penerima.

Vaksin jangan lagi didominasi pemerintah, TNI, dan Polri. Masyarakat harus diberdayakan lewat berbagai potensi seperti perusahaan, lembaga, dan organisasi harus didorong untuk mengakses Vaksin Gotong Royong. Demikian halnya dengan obat-obatan dan oksigen. 

Untuk itu, dibutuhkan satuan tugas percepatan yang memonitor ketersediaan vaksin, oksigen, dan obat-obatan yang melibatkan unsur masyarakat. Pola kerja satuan tugas ini, harus berangkat dari semangat 'perjuangan rakyat semesta'. 

Potensi ini ada di sekeliling kita, tinggal bagaimana menggerakkannya, agar angka penularan Covid-19 di Lampung kembali melandai dan ekonomi kembali bergerak. Salam sehat selalu...(Amiruddin Sormin, jurnalis tinggal di Bandar Lampung).


 

#ppkm level 4 # bandar lampung # covid-19 # isolasi mandiri # darurat covid-19 # rapid test # swab antigen # rumah sakit

Terkini