SUARA PEKANBARU- Tradisi mudik lebaran terjadi di Indonesia sudah lama dilakukan sejak dulu. Masyarakat yang akan pulang kampung untuk berlebaran di kampung halaman akan berbondong-bondong, melakukan perjalanan dengan jarak yang jauh sekalipun.
Apakah ketika mudik masih wajib melakukan puasa atau justru sebaliknya?
Terkait dengan pertanyaan itu, dijelaskan oleh Buya Yahya. Melansir dari YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menyampaikan kalau orang yang bepergian dalam jarak yang sangat jauh tergolong dalam musafir, dan tidak wajib berpuasa.
“Kalau kita bepergian nah ini musafir. Orang musafir tidak wajib puasa,” begitu kata Buya Yahya.
Namun tidak bisa semuanya disamakan ratakan ketika orang berpergian tidak wajib melakukan puasa, tentu ada syaratnya untuk seorang musafir. Tujuan perjlanan tidak boleh kurang dari 80 km.
“Kita di Indramayu mau ke Semarang. Dan dari Indramayu mau ke Jakarta, maka di perjalanan boleh buka tidak wajib puasa,” kata Buya Yahya.
Namun kalau seseorang merasa nyaman untuk berpuasa dan tidak berat untuk menjalaninya saat dalam perjalanan yang jauh sekalipun, maka dipersilahkan saja untuk tetap berpuasa.
Kalau memang tidak kuat dan tidak nyaman, karena perjalanan yang ditempuh begitu sangat jauh maka tidak apa-apa juga untuk membatalkannya.
“Biarpun seger di perjalanan, Anda punya pesawat pribadi sama tukang pijitnya sekaligus. Tetap saja boleh berbuka puasa asalkan Anda menempuh perjalanan,” begitu jelas Buya Yahya.
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Bocorkan Kalimat Dzikir, Meski Dokter Bilang Tidak Bisa Disembuhkan
Bahakn kata Buya Yahyan sekalipun seorang nelayan pun tidak wajib berpuasa, saat dirinya sedang berlayar. Namun tetap asalkan tujuan berlayarnya lebih dari 80 km.
Yang perlu diingat adalah seseorang yang Sudha membatalkan puasanya pada sata melaksanakan mudik Lebaran Idul Fitri, tetap harus mengganti puasa yang sudah dibatalkan tersebut. (*)