PURWOKERTO.SUARA.COM, BANYUMAS - Sebanyak tujuh tim yang berisikan ibu-ibu PKK dari perwakilan kecamatan di Kabupaten Banyumas mengikuti lomba permainan tradisional Gobag Sodor di GOR Satria Purwokerto, Jumat (10/2/2023).
Mereka adalah para finalis yang sebelumnya sudah memenangkan pertandingan tingkat eks kawedanan.
Sorak sorai dari para pendukung masing-masing tim semakin meramaikan jalannya pertandingan. Meskipun permainan tradisional, jika dilombakan seperti ini membuat adrenalin terpacu.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyumas, Erna Husein mengatakan lomba tersebut digelar selain memeriahkan Hari Jadi ke-452 Kabupaten Banyumas juga sekaligus nguri-nguri permainan tradisional.
"Gobag sodor itu nguri-uri permainan trandisional yang sudah jarang ditemui. Kemudian juga mengurangi bermain gajet," katanya kepada wartawan, Jumat (10/2023).
Selian Gobag Sodor, sebelumnya juga dimainkan Sunda Manda, menggelindingkan ban bekas yang diikuti oleh para pelajar di Kabupaten Banyumas. Namun hanya Gobag Sodor yang dilombakan hingga tingkat kabupaten.
Tiap tim terdiri dari 7 pemain yang saling berlawanan. Mereka diwajibkan mengenakan kebaya sebagai identitas masyarakat Indonesia khususnya Pulau Jawa.
"Kebaya ini juga konsep. Nguri-uri kebudayaan. Selain untuk kegiatan formal, kebaya bisa juga dipakai untuk senam dan olahraga tradisional," terangnya.
Salah satu peserta asal Kecamatan Tambak,
Puspita Herina (44) mengaku senang dengan digelarnya pertandingan Gobag Sodor. Ia lupa kapan terakhir memainkan permainan tradisional ini.
Baca Juga: Tak Setuju dengan Childfree, Wapres Ma'ruf Amin: Lantas Dunia Ini Siapa yang Melanjutkan?
"Sudah lama sekali tidak main gobag sodor,
Sangat senang. Awalnya kemarin ditawari bu lurah. Saya langsung mengajukan diri. Karena saat kecil saya sering main dan masih ingat aturannya," jelasnya.
Meski begitu, ia sebelumnya berlatih terlebih dahulu. Karena dalam pertandingan dibutuhkan strategi khusus aga bisa menang.
"Saya sebelumnya latihan dulu. Khususnya strategi dan kekompakan. Strateginya, dari depan semua dari pinggir. Kesulitannya, memang lapangannya sedikit licin. Senang sekali bisa bermain ini, bisa bernostalgia masa kecil," ujarnya.
Dirinya berharap agar permainan seperti ini bisa terus dilestarikan. Khususnya di desa-desa yang sudah lama tidak dimainkan. Hal ini juga berguna agar anak kecil bisa berkegiatan sosial dan tidak tergantung pada ponsel. (Anang Firmansyah)